Yang Berkorban demi Berantas Kumuh

Cerita Kalimantan Timur Samarinda Infrastruktur Comments (0) View (1007)

Mabolat ai’ ka’dalam solekng, mabolat kata dalam bapakat; membulatkan air ke dalam bambu, membulatkan kata dalam mufakat. Boleh jadi, peribahasa Dayak Kendayan itulah yang dijadikan pegangan masyarakat di Kelurahan Temindung Permai, Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Paling tidak, untuk tiga kepala keluarga di RT 11 yang akhirnya merelakan sebagian lahan rumahnya untuk dijadikan bagian dari pembangunan pelebaran jalan lingkungan dan drainase, di pertengahan Maret ini. Usai urun rembuk dengan warga, ketiganya sepakat menghibahkan sebagian  areal pekarangan mereka.

Kawasan Rukun Tetangga 11 Kelurahan Temindung Permai masuk wilayah penataan kumuh. Keteraturan bangunan menjadi persoalan untuk pembangunan infrastruktur dasar di wilayah ini. Berdasarkan Rencana Penataan Lingkungan Permukiman, prioritas kegiatan adalah pembangunan jalan beton dan drainase yang berdampak langsung pada tiga rumah warga setempat.

Awalnya, ketiga pemilik rumah menolak mentah-mentah buat merelakan tanah mereka. Maklum saja, aset bangunan rumah ikut terdampak langsung pelebaran jalan dan pembangunan drainase dari kegiatan Bantuan Dana Investasi 2017. Keluarga Sadri, Usman, dan Fedriani beranggapan rumah mereka akan menjadi sempit serta pasti merugi lantaran tak ada ganti rugi sama sekali.

Kondisi tersebut tak menyurutkan semangat warga buat mengubah wajah permukiman mereka dari kondisi kumuh. Tim fasilitator bersama jajaran kelurahan dan Lembaga Keswadayaan Masyarakat serta tokoh setempat bergerak menyelenggarakan mediasi dengan memberikan pemahaman, penjelasan, dan pendekatan kepada warga yang terdampak pembangunan ini sejak jauh hari. Diskusi intens pun dilakukan demi memberikan pemahaman soal ketidakteraturan bangunan adalah penyebab kekumuhan suatu kawasan.

Niat baik dan kesadaran berbuah hasil. Belakangan, para pemilik rumah yang terpapar rencana jalan dan drainase merelakan sebagian lahan mereka untuk dibangun. Mereka menyadari bahwa program tersebut lebih bermanfaat untuk orang banyak dan membuat lingkungan rapi serta teratur. Sebanyak 19 meter per segi lahan pribadi dan bangunan berubah bentuk menyatu dengan pembangunan jalan plus drainase lingkungan.

Pembangunan jalan dan drainase tersebut sukses memberikan manfaat langsung buat 54 KK. Jika dihitung, aset swadaya tersebut bernilai tak kurang dari Rp 57-an juta. Pengorbanan demi kemaslahatan bersama. Bagaimana dengan Anda? [Kaltim

 

Penulis: Galang Setiawan, Koordinator Kota 01 Kota Samarinda, OSP 6 Kotaku Provinsi Kalimantan Timur.

Editor: Epn

0 Komentar