"> ">

Cerita

Beranda Warta Cerita Sukowinangun Bergeliat dari Mimpi Panjang Kumuh

Sukowinangun Bergeliat dari Mimpi Panjang Kumuh

Cerita Jawa Timur Magetan Infrastruktur Comments (0) View (273)

Pasar sayur adalah "halaman belakang" bagi warga Kelurahan Sukowinangun, Kecamatan Magetan, Kabupaten Magetan, Provinsi Jawa Timur. Namun letak strategis yang juga menjadi jalur rute alternatif menuju wisata Sarangan tersebut tak melulu berdampak baik bagi permukiman masyarakat setempat. Maklum, fakta sampah pasar yang dibangun sejak 1995 itu tak cuma ada di pojok areal pasar, namun tersebar di mana-mana. Di tempat sampah yang meluber isinya, di jalanan, di selokan yang mestinya menjadi jalur drainase, hingga ke sungai di sekitar pusat perekonomian Kota Magetan ini.

Bau tak sedap seolah mengisi atmosfer bila bertandang ke areal yang menyandang status kumuh dari Surat Keputusan Kumuh Direktorat Jenderal Pengembangan dan Permukiman Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Tahun 2014, khususnya di Rukun Tetangga 6 Rukun Warga 1 Kelurahan Sukowinangun.

Dan kesempurnaan bau nan menyengat itu masih ditambah buangan hasil usaha beberapa pemotongan ternak ayam yang tidak memiliki pengolahan limbah. Akses jalan ke kawasan belakang pasar pun tak jelas karena bercampur baur dengan permukiman penduduk yang padat dan tidak teratur, dengan kualitas bangunan tak layak. "Begitulah gambaran kekumuhan yang terjadi," kata Semin, tokoh penggerak masyarakat yang juga bekas kepala Kelurahan Sukowinangun.

Kondisi tak mengenakkan tadi mulai bergeser berubah sejak Lembaga Keswadayaan Masyarakat (LKM) Suko Mandiri bersama Tim Inti Perencanaan Partisipatif dan masyarakat urun rembuk. Mereka berkolaborasi memetakan kekumuhan, menggali hambatan, dan potensi untuk merumuskan rencana aksi penanganan permasalah kumuh setempat.

Bak gayung bersambut, rencana aksi yang tersusun dalam dokumen Rencana Penataan Lingkungan Permukiman Kelurahan Sukowinangun memperoleh Bantuan Dana Investasi (BDI) Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) 2017. Alokasi dana mulai dipetakan, khususnya untuk pengurangan luasan kumuh dengan seluruh indikator. Yang dampaknya, pada puluhan rumah karena terkena pembuatan jalan paving stone baru di tepi sungai sepanjang 2.173 meter. Kegiatan penertiban permukiman ini juga sejalan dengan pembangunan drainase yang memperhatikan keterhubungan seluruh saluran sepanjang 620 meter.

Tak dinyana, warga yang kebanyakan berpenghasilan rendah merelakan bangunan rumahnya buat dibongkar dan mengikhlaskan sebagian tanahnya dipenggal demi pembangunan jalan dan saluran drainase. Beberapa rumah mulai direnovasi menghadap ke sungai. Dinas PU Bidang Pengairan Kabupaten Magetan melalui dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Magetan ikut terpanggil mendukung semangat masyarakat tersebut. Kolaborasi antarunsur menghasilkan ide perbaikan talud atau dinding penahan tanah tepi sungai, sehingga pembuatan jalan tersebut tak perlu membongkar mushala yang ada.

Permukiman padat penduduk juga menjadi titik perhatian penting. Lokasi yang padat berdempetan satu dengan yang lain adalah ancaman bahaya kebakaran sehingga mulai menganggarkan ketersediaan alat pemadam api ringan (APAR). Apalagi, kawasan ini pernah mengalami bencana kebakaran pada 2014 dan 2016.

Ruang Terbuka Hijau (RTH) pun berangsur menjadi pilihan penting dalam penataan kembali rumah-rumah di permukiman Kelurahan Sukolilo. Pasalnya jelas, pembangunan RTH adalah mimpi warga setempat sebagai tempat untuk bersosialisasi sekaligus rekreasi. Bagi lingkungan, RTH pun mampu menjadi area tangkapan air hujan dan menekan polusi udara.

Dampak perilaku mulai terlihat. Kini warga malu membuang sampah sembarangan. Aliran air sungai tampak bersih, dan bau tak sedap lenyap dari permukiman. Harapan mengubah Kelurahan Sukowinangun menjadi kawasan argo wisata dan sentra industri kecil pun boleh jadi kenyataan kelak. Sukowinangun sudah bergeliat, bangun dari mimpi kumuh yang panjang. [Jatim]

Dokumentasi lainnya:

Penulis: Denok Yuliati, Askot KK Magetan, OSP 6 Kotaku Provinsi Jawa Timur

Editor: Epn

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.