Beranda Warta Berita Refleksi Relawan P2KP

Refleksi Relawan P2KP

Comments (0) View (1985)

KEBERADAAN Relawan menjadi kunci penting dalam pelaksanaan P2KP di masyarakat. Pemahaman tentang Relawan dalam P2KP berkembang seiring dengan perkembangan konsep pelaksanaan P2KP. Banyaknya persepsi yang berbeda atas apa itu relawan dan bagaimana keberadaannya, merupakan hal penting yang patut dijadikan bahasan utama dalam diskusi Coffee Morning kali ini.

Topik diskusi "Relawan", sesuai dengan momen dilapangan, karena saat ini pelaksanaan P2KP 2 tahap 1 sedang melakukan pelatihan relawan. Coffee morning yang dilakukan tanggal 17 Agustus 2004, dimoderatori TL KMP Kurniawan Zulkarnain, dihadiri pula oleh Kepala PMU Ir. Danny Sutjiono, CES beserta beberapa staf proyek dan Tim Advisory. Diskusi kali ini juga mengundang TL KMW 1 Sujahri dan TA Monev KMW 3 Tjafjani Kholil dari P2KP 1-II untuk menggali pengalaman dari mereka mengenai kerelawan, sehingga jumlah peserta diskusi sekitar 23 orang.

Pada perspektif awal, sesuai PAD relawan diterjemahkan sebagai salah satu elemen dari Fasilitator, yang tugas utamanya adalah memberikan bantuan teknis untuk implementasi di tingkat masyarakat. Seperti yang disampaikan Sunaryanto, KMP bahwa dari PAD tersebut diartikan bahwa Relawan dipahami sebagai fasilitator komunitas terlatih maupun tenaga pembantu kelompok. Fasilitator komunitas terlatih, disaring dan para relawan oleh fasilitator kelurahan dan selanjutnya dilatih untuk dapat membantu tugas-tugas fasilitator kelurahan dalam mendiseminasikan program kepada masyarakat, urai Suanaryanto.

Sementara World Bank, seperti yang dituturkan Sunaryanto, awalnya hanya mendefinisikan kader masyarakat. Jadi selama ini belum ada rumusan apa itu relawan. Menurut World Bank, Kader masyarakat adalah tenaga pembantu kelompok yang diharapkan mempunyai keahlian tertentu dalam membantu kelompok tersebut, kata Sunaryanto.

United Nations Volunteer sebuah lembaga atau organisasi internasional relawan dibawah naungan UNDP menegaskan secara terukur, bahwa kerelawanan adalah suatu kegiatan sosial yang dilakukan secara aktif dengan tujuan menciptakan suatu perubahan dalam masyarakat yang dilayani tanpa mengharapkan keuntungan berupa upah imbalan ataupun karier, jelas Sunaryanto.

Sedangkan pengertian relawan P2KP saat ini seperti yang dituturkan Tim Advisory Sonny HK, relawan adalah seseorang secara individu atau berkelompok, yang secara "ikhlas" atau "rela" karena panggilan nuraninya memberikan (sebagian) apa yang dimilikinya (waktu, tenaga, pemikiran, dan/atau asset) untuk membantu orang lain yang membutuhkan pertolongannya.

Berdasarkan pengalaman P2KP 1 tahap 2, seperti yang dituturkan Sujahri, sebelum merekrut relawan, masyarakat menentukan kriteria relawan, kemudian mereka memilih calon relawan sesuai kriteria yang mereka buat. Perekrutan relawan berdasarkan pemilihan ini ada sisi kelemahannya, Sujahri sendiri menyadari hal itu, ia mengungkapkan ketika RKM, setelah masyarakat siap menerima P2KP, kemudian saat mereka diminta relawannya, kadang mereka salah memilih orang, sehingga orang yang baik tidak terpilih. Ini sangat bias, memang nantinya yang benar-benar relawan akan terseleksi dengan sendiri, namun mestinya kita tidak memilih tapi menggali orang baik, ujar Sujahri.

TA Pelatihan KMP Marnia Ness pun mengemukakan keberatannya jika harus dilakukan pemilihan, karena dengan pemilihan akan menumbuhkan kelas sosial baru. Hal ini tidak sesuai dengan konsepnya. P2KP menumbuhkan kepedulian, sosial capital, harusnya P2KP bisa mendorong relawan yang sudah ada menjadi simbol effect menumbuhkan kerelawanan di masyarakat, ulas Marnia.

Sub TA Kredit Mikro Muchtar Bahar menyatakan bahwa Pola rekrutmen relawan berubah dari pemilihan menjadi pendaftaran. Relawan tidak dibatasi pendaftarannya berdasarkan jumlah dan waktu.

Ada 2 kategori relawan di P2KP, yaitu Potensi Relawan dan Relawan Aktif. Pada awal pelaksanaan P2KP terjadi penurunan data Potensi Relawan, namun akhirnya terjadi penurunan Potensi Relawan dan Relawan Aktif, ungkap Sunaryanto. Mestinya jumlah relawan aktif tidak boleh turun, imbuhnya. Menurut TA Monev KMP Bagus mengemukakan bahwa penurunan terjadi karena tidak ada maintenance yang dilakukan pada relawan. Perlu bahasan khusus bagaimana menjaring, me-manage, dan me-maintenance relawan, ujarnya.

Dilain hal, Zulkarnain mengemukakan Relawan jika dilihat prinsip dan nilai merupakan suprastruktur yang tidak ada di proyek lain. Ia melontarkan suatu permasalahan mengenai bagaimana memperluas spektrum relawan , karena kebanyakan relawan berasal dari kalangan menengah (guru), bagaimana kalangan atas(dokter) juga tertarik untuk menjadi relawan. Zulkarnain mengemukakan bahwa spektrum relawan harus diperluas, P2KP harus membuat rancangan program yang sesuai dengan spektrum. Kalau konsep relawan bisa kita pegang secara utuh, maka bisa menjaring semua lapis di masyarakat, ungkapnya. Ada 3 bidang yang bisa perluas, yakni; Pendidikan dan Kesehatan, imbul Zulkarnain. Dalam hal ini Harianto ST dari proyek mencontohkan bahwa di Jateng , KMW memfasilitasi BKM-BKM untuk mengajak dokter-dokter di desa, sehingga dokter-dokter tersebut ada yang tersentuh untuk memberikan kartu sehat.

Dalam masalah relawan ini Sonny mencontohkan bahwa ada survei terhadap para relawan untuk kegiatan komite untuk Afrika, ternyata motivasi mereka untuk menjadi relawan yang paling dominan, antara lain: Belajar, Membantu, dan lain-lain. Ada motivasi lain, tapi kecil sekali, dimana mereka ingin upah. Sebenarnya mereka tidak diberi upah, hanya dana operasional saja. Di Yayasan ASOKA, para relawan dibiayai kehidupannya, tapi kalau terikat kontrak dengan pihak lain, maka dana untuk biaya hidup akan diputus, ulasnya.

Sonny mengemukakan bahwa sifat relawan terkait dengan aktivitas, di P2KP dibuka ruang bagi relawan untuk membantu, bisa dalam bentuk tenaga, pikiran bahkan materi. Awalnya mereka terlibat dalam kegiatan siklus, kedepannya bagaimana BKM bisa memanage para relawan tersebut. Ada NGO yang kegiatannya hanya sekedar memanage para relawan, NGO tersebut merekrut relawan, melatih dan menempatkan para relawan tersebut, ungkapnya.

Dalam aktifitas membangun suatu rumah, akan muncul relawannya, namun setelah rumah selesai dibangun, relawan akan selesai kerelawanannya, Sonny mencontohkan. Untuk menjaga kerelawanan, kita perlu merangkai aktifitas-aktifitas dalam capacity building, ujarnya.

Peran Pemerintah bagi relawan menurut Sonny adalah pengakuan dan perlindungan. Pengakuan artinya aktifitas-aktifitas mereka diakui, seperti diberikan sertifikat, sedangkan bentuk perlindungan antara lain yaitu adanya keterangan bahwa ia sedang bertugas, sehingga ia bisa di back up, urainya.

Sonny menceritakan pula, ketika ada bencana di Kalimantan, kemudian datang beberapa relawan dari berbagai unsur, mereka bertemu dan akhirnya sepakat membentuk suatu organisasi relawan.

Dari coffe morning ini disimpulkan antara lain bahwa Relawan bukan instrumen poyek, Relawan sudah ada sebelum P2KP masuk dan P2KP menstrukturkan relawan. Ketika P2KP datang, ia (relawan tersebut) akan sukarela menjadi relawan di P2KP. Sifat relawan ada dalam setiap diri manusia. Relawan harus ditemukan atau digali. Untuk itu, P2KP perlu melakukan sosialisasi dengan sentuhan-sentuhan tertentu, sehingga mereka tergerak untuk membantu penanggulangan kemiskinan.

Relawan akan difasilitasi untuk membentuk kelompok. Bisa dibentuk organisasi relawan secara Nasional yang akan dipayungi Depdagri dan Kimpraswil. (Nita)

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.