Beranda Warta Artikel Pembelajaran dari Gempa Bumi di Pulau Lombok

Pembelajaran dari Gempa Bumi di Pulau Lombok

Artikel Kebencanaan PRB Comments (0) View (370)

Setiap bencana, baik alam maupun non alam, yang terjadi di tanah air dapat dipastikan membawa korban, minimal harta benda. Tak terkecuali, bencana gempa bumi yang terjadi Kabupaten Lombok Timur dan Lombok Utara pada Minggu, 29 Juli 2018 pukul 05.47 WIB. Menyusul, sepekan depannya, 5 Agustus 2018. Pada gempa akhir Juli itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 14 meninggal dunia, 168 jiwa luka-luka dan ribuan unit rumah rusak. Terdapat pula informasi yang menyatakan, 524 pendaki Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) yang terdiri atas 358 Warga Negara Asing dan 166 Warga Negara Indonesia, terjebak dalam area TNGR. Sedangkan gempa awal Agustus ini, BNPB mencatat 105 orang tewas, 236 orang luka, lebih dari 84.000 orang mengungsi, dan ribuan rumah rusak. Jumlah ini belum final, karena hingga kini masih dilakukan evakuasi dan penggalian bangunan yang runtuh.

Indonesia hijau royo-royo, dikenal juga dengan negeri “super-market” bencana. Dalam Undang-undang nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana diuraikan adanya tiga bencana, yaitu, pertama, bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan dan tanah longsor. Kedua, bencana non alam, antara lain, berupa kegagalan teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit. Dan, ketiga, bencana sosial, seperti konflik sosial antarkelompok, dan juga teror.

Menurut catatan Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Daryono, secara tektonik Lombok memang kawasan seismik aktif. Lombok berpotensi diguncang gempa karena terletak di antara dua pembangkit gempa dari selatan dan utara. Dari selatan, terdapat zona subduksi lempeng Indo-Australia, sedangkan dari utara terdapat struktur geologi Sesar Naik Flores.

Sebelum gempa bumi melanda Pulau Lombok pada 26 Juli 2018, sejatinya sejarah kegempaan mencatat bahwa pulau ini sudah sering mengalami gempa yang merusak. Yaitu, pada 25 Juli 1856 dan 10 April 1978 dengan gempa berkekuatan 6,7 SR, serta pada 21 Mei 1979 dengan kekuatan 5,7 SR. Selain itu juga terjadi pada 20 Oktober 1979, terjadi gempa berkekuatan 6 SR. Gempa Lombok 30 Mei 1979 dan 1 Januari 2000, sama-sama berkekuatan 6,1 SR, serta gempa pada 22 Juni 2013 dengan kekuatan 5,4 SR. Bisa disimpulkan, Pulau Lombok memang termasuk kawasan rawan bencana.

Mitigasi Bencana Kurangi Dampak Bencana

Bencana, menurut UU Kebencanaan, adalah “Peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam, dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia, sehingga timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis”. Dengan demikian, menurut pengertian tersebut, bila terjadi gempa bumi atau tsunami atau ancaman bencana lainya yang tidak berdampak pada manusia dan lingkungannya bukanlah bencana, melaikan gejala alam biasa.

Secara umum mitigasi bencana dapat diartikan sebagai pengurangan dampak bencana yang dilakukan melalui ikhtiar secara sistematis dan terukur, untuk mengurangi korban ketika bencana terjadi, baik korban jiwa maupun harta. Dalam melakukan tindakan mitigasi bencana pada sebuah daerah, langkah awal yang harus kita lakukan ialah melakukan kajian risiko bencana terhadap daerah tersebut.

Dalam menghitung risiko bencana sebuah daerah kita harus mengetahui bahaya (H = hazard), kerentanan (V = vulnerability), dan kapasitas (C = capacity) pada daerah tersebut. Bahaya merupakan suatu kejadian yang mempunyai potensi untuk terjadinya kecelakaan, cedera, hilangnya nyawa atau kehilangan harta benda. Sedangkan, kerentanan adalah rangkaian kondisi yang menentukan apakah bahaya (baik bahaya alam maupun bahaya buatan). Sementara, kapasitas dapat diartikan sebagai kemampuan untuk memberikan tanggapan terhadap situasi tertentu dengan sumber daya yang tersedia ketika menghadapi ancaman bencana.

Dari penjelasan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa risiko bencana merupakan kemungkinan terjadinya kerusakan, akibat bahaya gempa atau bencana alam lainnya, pada suatu daerah, akibat kombinasi dari bahaya, kerentanan, dan kapasitas dari daerah yang bersangkutan. Jadi, Rumus Risiko Bencana: Risiko (R) = Bahaya (H) x Kerentanan (V)/Kapasitas (C).

Menuju Daerah dan Masyarakat Tangguh Bencana.

Untuk mengurangi dampak bencana pada suatu daerah termasuk Kabupaten Lombok Timur dan Lombok Utara maka para pemangku kepentingan harus mulai dari tingkat komunitas hingga pemerintah desa dan pemerintah kabupaten harus secara partisipatif melakukan kajian risiko bencana. Kajian Risiko Bencana dapat dilakukan secara swadaya oleh masyarakat, LSM, para pengusaha peduli bencana dan bisa juga dilakukan oleh Pemerintah Daerah yang dikordinasi oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.

Kajian itu dapat diawali dengan mengenali jenis ancaman bencana (H = hazard) misalnya gempa bumi, tsunami, banjir, kebakaran atau konflik sosial, dan seterusnya. Selanjutnya, para pemangku kepentingan diajak juga mengenali kerentanaan (V = vulnerabity) yang terkait dengan kerentanan fisik/materi: bangunan yang buruk, infrastruktur, konstruksi yang lemah. Kerentanan sikap/motivasi: ketidaktahuan, tidak menyadari, kurangnya percaya diri, dan lainnya. Serta, kerentanan sosial: kemiskinan, lingkungan yang buruk, konflik, tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi, anak-anak, wanita, dan lansia yang tidak terlindungi. Sedangkan kapasitas dapat diartikan sebagai kemampuan untuk memberikan tanggapan terhadap situasi tertentu dengan sumber daya yang tersedia (fisik, manusia, keuangan, dan lainnya).

Dengan demikian, situasi daerah atau komunitas memiliki kapasitas tinggi (sadar bencana, bangunan tahan gempa dan tahan bencana sudah terbangun), peraturan bersama buang sampah ditaati, selanjutnya daerah atau komunitas itu memiliki kerentanan yang rendah (masyarakat berpenghasilan tetap, baik sebagai petani, pedagang maupun buruh), lingkungan sehat, serta anak-anak dan lansia terlindungi. Daerah atau komunitas seperti ini ketika menghadapi ancaman bencana akan tangguh (resilient) dan korban (baik manusia maupun harta benda) dapat diminimalisir.

Kita tidak bisa membayangkan, jika gempa bumi atau bencana alam terjadi di sebuah kampung atau desa di lokasi terpencil dan terisolisasi secara fisik, di daerah-daerah tertinggal seperti pedalaman Pulau Papua, Kalimantan, atau Sulawesi, betapa menderitanya mereka. Dalam dunia “penyelamatan kedaruratan” ada yang dikenal dengan “golden time”  yaitu jangka waktu 2 (dua) jam seseorang akan selamat jika mengalami korban, setelah itu menurut perhitungan tak dapat ditolong lagi.

Agar dapat mengurangi dampak bencana maka kita harus mendorong komunitas yang berada pada kawasan rawan bencana termasuk komunitas terpencil,melakukan kajian risiko bencana. Atas dasar kajian itu, secara bertahap mengurangi kerentanan dan meningkatkan kapasitasnya menuju Masyarakat Tangguh Bencana agar mampu mengatasi bencana, khususnya menghadapi “golden time”.

Salam Tangguh Bencana!!! [PL]

 

Penulis: Kurniawan Zulkarnain, Relawan dan Penggiat Kebencanaan/eks Team Leader KMP Kotaku wil. 2

Editor: Nina Razad

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.