Beranda Warta Artikel Kawasan Kumuh Semanggi, dalam Sebuah Rencana Penataan

Kawasan Kumuh Semanggi, dalam Sebuah Rencana Penataan

Artikel LARAP Safeguard Surakarta Jawa Tengah Comments (0) View (447)

Permasalahan penyelenggaraan perumahan dan permukiman di Kota Surakarta, Jawa Tengah, masih berhadapan dengan banyaknya perumahan dan permukiman kumuh. Merujuk identifikasi pada 2016, masih ada 359,55 hektare wilayah kumuh di Surakarta, yang tersebar di lima kecamatan di 51 kelurahan--SK Wali Kota Surakarta Nomor: 413.21/38.3/1/2016. Dari deretan angka tersebut, Pemerintah Kota Surakarta menetapkan Kawasan Semanggi sebagai lokasi prioritas penataan secara bertahap.

Tahap pertama penataan Kawasan Semanggi dilaksanakan di RW 23 melalui proyek pemugaran dan peremajaan. Dan untuk peremajaan kawasan, sebagian warga masyarakat harus dipindah untuk kemudian dimukimkan kembali. Lantaran itulah disusun Land Acquisition and Resettlement Action Plan (LARAP) untuk penataan kawasan yang manusiawi, berbudaya, dan berkeadilan. Dokumen LARAP inilah yang menjadi pedoman untuk pengadaan tanah dan permukiman kembali di Kawasan Semanggi.

Permasalahan utama permukiman kumuh Kawasan Semanggi adalah ketidakteraturan bangunan akibat pertumbuhan ilegal di bantaran sungai dan konstruksi bangunan yang tidak sesuai persyaratan teknis. Kawasan ini rentan bencana banjir dan kebakaran lantaran kepadatan permukiman yang tinggi, akses jalan lingkungan belum memadai, serta jaringan drainase yang belum terkoneksi dengan baik.

Kawasan Semanggi memiliki luas 76,03 Ha, yang meliputi lima kelurahan: Kelurahan Sewu, Gandekan, Kedunglumbu, Sangkrah, dan Kelurahan Semanggi. Area tersebut dihuni 10.204 kepala keluarga atau 31.518 jiwa, yang 39,96 % atau sebanyak 4.078 KK di antaranya tergolong masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Jumlah bangunan hunian sebanyak 7.312 unit, yang 80,58 % atau sebanyak 5.982 unit di antaranya didirikan dengan tata letak tak beraturan, dan 1.032 (14,11 %) di antaranya tak sesuai persyaratan teknis dan tak layak huni.

Persoalan lingkungan pun tak lekang dari perkembangan Kawasan Semanggi. Karena faktanya, Banjir acap melanda wilayah ini karena drainase dari permukiman tak dapat dialirkan ke sungai karena elevasi air sungai lebih tinggi dari permukiman. Tak heran, di musim penghujan air sungai meluap sampai ke permukiman dan bisa menyebabkan genangan dalam waktu lebih dari dua jam lamanya. Alhasil pula, sarana dan prasarana yang ada rusak, dan lingkungan jadi kumuh. Sementara soal persampahan yang tak memenuhi standar teknis mengakibatkan penumpukan sampah dari 1.439 rumah tangga.

Mengulas legalitas kepemilikan lahan pun menambah dampak negatif pada citra Kawasan Semanggi. Maklumlah, sebanyak 2.066 dari 7.312 unit bangunan yang ada tidak memiliki Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Dari angka itu, 6.891 unit berdiri di atas tanah yang belum memiliki sertifikat hak milik (SHM). Di Kelurahan Semanggi terdapat 346 unit bangunan ilegal: 217 unit di tanah sempadan Sungai Bengawan Solo dan 130 unit bangunan di bantaran rel kereta api.

Atas dasar itulah Pemkot Surakarta bersama Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) menyusun rencana aksi penanganan kumuh yang dituangkan dalam Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (RP2KPKP) Kota Surakarta. Penanganan kumuh ini melibatkan berbagai instansi Pemkot Surakarta yang berkolaborasi dengan pemerintah pusat, swasta, dan masyarakat, yang terangkum atas: Penataan permukiman ilegal di atas lahan sempadan Sungai Bengawan Solo, Penataan permukiman di atas lahan Hak Pakai 16 (milik pemda), Pembangunan infrastruktur untuk penanganan banjir di permukiman kumuh, dan Peningkatan kualitas infrastruktur yang tersebar di permukiman kumuh Kawasan Semanggi. [Redaksi]

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.