Beranda Warta Berita Relawan: Menemukan dan Mengawal Perannya

Relawan: Menemukan dan Mengawal Perannya

Comments (0) View (1846)
SEJAK P2KP dimulai tahun 1999, peran Kader Masyarakat ikut menentukan keberhasilan program ini. Malahan dalam perpektif jangka panjang, relawan akan sangat menentukan keberlangsungan program ini. Kader masyarakat yang dikenal dengan relawan di P2KP tahap II, ikut serta dalam rangkaian siklus P2KP dan tahapan lanjutan dalam pengembangan kegiatan bersama pemanfaat lain. Pertanyaan yang muncul adalah apakah hanya ada relawan di P2KP ? dan kenapa mereka ikut peduli ? Kurniawan Zulkarnain yang memandu acara coffe morning keempat ini memulai pertemuan dengan Bondan salah seorang Anggota BKM di Surabaya, kenapa menjadi Relawan. Dengan sederhana Bondan menjawab karena ingin “pangadito”. Itulah contoh kepedulian yang dibangun oleh P2KP pada tingkat komunitas. Pada tingkat stake holder di Kota/Kabupaten, ditemui juga relawan relawan yang peduli dan mereka aktif dalam rangkaian kegiatan P2KP. Baik dalam frame KPKD atau embrional kelompok kecil yang bersifat non formal. Itulah fokus dialog coffee morning yang berlangsung 17 September 2004 di Kantor KMP P2KP Jakarta. Dalam realitas keseharian, sejalan dengan sejarah umur manusia, selalu ada orang yang berniat baik dan ada orang dipihak lain yang memang melawannya. Kelompok ini tidak peduli dan selalu membawa kemudaratan. Orang orang baik yang peduli sebetulnya telah ada di masyarakat. Merekja telah berkiprah sesuai dengan perhatian dan ketersediaan potensi dirinya dalam berbagai kegiatan untuk keperluan lingkungannya, baik untuk kegiatan sosial, penanggulangan bencana, peningkatan kualitas lingkungan, pendidikan dan juga religi. Direkruit ? Sujahri Team Leader KMW XII yang berkantor di Sukabumi sebelumnya Team Leader KMW I, P2KP I.2, Pandegelang, mengemukakan bahwa relawan (dulu disebut Kader) itu bukanlah instrument milik P2KP . Mereka ini sebetulnya telah ada di masyarakat dan telah menunjukkan kepeduliannya. P2KP hanya menemukan dan dibekali ulang untuk keperluan P2KP, melalui berbagai konsultasi, coaching dan latihan. Karena itu, dalam era P2KP I selama ini proses penemuan ini melalui proses seleksi. Proses ini menjadi biasa dikaitkan dengan makna kerelawan itu sendiri, yang muncul dari kesadaran diri yang paling dalam. Karerena umumnya dalam P2KP II, istilah seleksi disempurnakan dengan mendaftarkan diri. Konsekuensi kositif dari hal ini, adalah orang orang baik yang telah ada di masyarakat dan tidak terpilih , tidak merasa tersisih. Karena itu, untuk menemukan relawan dan aktif mendaftarkan diri, tergantung pada sejauh mana efektifitas dari sosialisasi. Semakin efektif rangkaian sosialisasi dengan sendirinya akan semakin banyak terjaring relawan-relawan. Boby, Asisten Proyek P2KP Pusat, dalam uji petik yang telah dilakukan ke 10 BKM, sebelumnya memberikan ilustrasi yang mendukung. Dari 10 BKM yang dikunjungi , tiga diantaranya dengan kinerja yang sangat baik. Ketika ditelusuri, ternyata di belakang BKM itu terdapat relawan-relawan yang handal. Relawan inilah yang menjadi penggerak bersama sejumlah relawan lain di wilayahnya. Terjaringnya relawan-relawan handal itu adalah kontribusi dari ketepatan metodologi sosialisasi yang berlangsung. Berkurang? Relawan yang ada di lapangan saat ini dikategorikan sebagai “potensi” dan mereka yang giat dalam rangkaian P2KP dikategorikan “relawan aktif”, ungkap Surayanto, Team Leader P2KP 1.2. Kepala PMU Ir Danny Sutjiono, memahami hal ini, dan menegaskan bahwa relawan itu tidak akan mungkin berkurang. Hanya berkurang bilamana pindah tempat dan atau meninggal. Taftajani dari KMW III, memberikan informasi pada dasarnya tidak ada relawan yang mengundurkan diri. Yang ada adalah sejumlah relawan tidak mengetahui peluang untuk aktif. Disini aspek kesenambungan semakin penting, kata Gatot, dari Proyek P2KP Pusat. Potensi Relawan dalam P2KP 1.2. yang mencapai 92.831 orang. Potret dari sample relawan yang tersedia, ternyata relawan dengan pendidikan dasar (SD dan SMP) adalah jumlah terbesar 5.856 orang, relawan dengan pendidikan setingkat SMU 5.212 orang dan hanya 1.651 orang yang pernah dan menyelesaikan pedidikan tinggi. Sementara dilihat dari pengalaman dan profesi relawan yang terbesar adalah wiraswasta 4.008 orang, pegawai swasta 2.134 orang, 1261 orang adalah pensiunan, PNS, Polri dan TNI serta Guru / Dosen 734 orang. Karena ini Marnia, TA Pelatihan KMP, memberikan catatan bahwa relawan yang ditemukan itu sangat urgen untuk dibekali dengan paradigma baru P2KP. Mereka semakin hari semakin peduli dan semakin giat dalam P2KP. Disadari betul bahwa relawan yang ditemukan itu belum “jadi” dilihat demensi perannya di P2KP. Pembekalan kepada mereka ini menjadi penting, ungkap Harianto ST, pengalaman selama ini menunjukkan bahwa instrument yang diperlukan belum memadai. Pengertian dan Motivasi Pengertian relawan yang dipahami oleh P2KP selama dipetik oleh Sonny Kusuma ,adalah “Seseorang secara individu atau berkelompok, yang secara ikhlas atau rela karena panggilan nuraninya memberikan sebagian) apa yang dimilikinya ( waktu, tenaga, pemikiran dan/atau aset) untuk membantu orang lain yang membutuhkan pertolongannya” Pengertian tersebut tidaklah berbeda dengan pengertian yang digunakan oleh UNV Volunteer dan juga oleh Pusat Relawan Nasional, yaitu: • UNV (United Nations Volunteers) menegaskan secara terukur, bahwa kerelawanan adalah suatu kegiatan sosial yang dilakukan secara aktif dengan tujuan menciptakan suatu perubahan dalam masyarakat yang dilayani tanpa mengharapkan keuntungan berupa upah/imbalan ataupun karier. • Pusat pengembangan Volunteer, menggambarkan bahwa Volunteer adalah “ Orang atau kelompok, baik warga Negara Indonesia atau warga negara asing (tanpa melihat status/latar belakang, umur,agama, ras, suku)yang memiliki jiwa kemandirian dan sukarela, atas kemauan sendiri dan atas nama lembaga sukarela tertentu melakukan kegiatan sukarela sesuai dengan permintaan pengguna yang didasarkan pada prinsip bukan untuk mencari keuntungan, bermanfaat terhadap pengguna dan volunteer itu sendiri. Mereka ini orang-orang yang terpilih, ikhas tanpa prentensi imbal kerja materil. Mereka ini adalah orang-orang yang telah aktif dalam upaya penanggulangan kemiskinan melalui P2KP dengan landasan ubudiah. Pangandito yang terrefleksi dalam kehidupan keseharian mereka yang bersahaja Memantain Relawan Muncul pertanyaan dari Ir Danny Sutjiono, kalau begitu bagaimana memelihara derajat motivasi mereka ? Ada kesalahan yang diperbuat, seorang olah setelah mereka aktif di BKM , di UPK , terkesan bukan relawan lagi. Atau stelah PS dan PJM Pronangkis relawan sudah mulai terpinggirklan. Karenaya latar belakang dan faktor mendorong aktifnya relawan seperti ingin membantu, ingin belajar, menjadi eksistensi diri di lingkungan dan berharap dukungan operasional cost harus menjadi titik perhatian. Melihat realitas ini, dari dialog ini muncul gagasan penting dalam memelihara dan mengawal relawan di masa datang, • Proses penemuan relawan, tidak hanya dalam siklus awal, yang lazim , yaitu pada saat RKM. Penemuan relawan berlangsung terus menerus. Malah tidak hanya dalam rangkaian P2KP semata. • Diperlukan panduan untuk Faskel yang membuat proses menemukan relawan, memberikan peran dan memelihara motivasi dalam sebuah pembelajraan bersama • Perlu dihimpun berbagai pengalaman selama ini bagaimana cara memberikan reward kepada para relawan ini. • Upaya untuk menggalang kebersamaan, sharing sesama relawan cukup tepat untuk difasilitasi oleh P2KP selanjutnya • Adanya kebutuhan untuk meningkatkan kualitas dan proses sosialisasi sejak awal. Agenda Lanjutan Dialog Coffee Morning semakin menemukan formatnya. Karena itu selain desiminasi hasil dialog ini kepada peserta, juga kepada KMW, KMP, Proyek dan stake hiolder di tingkat Pusat dan Daerah. Baik melalaui situs P2KP tetapi juga memalui edaran KMP. Ir Danny Sutjiono juga meminta agar disusun bahan tentang Relawan yang lebih lengkap dan juga didistrbusikan merata di Pusat dan daerah. Sejalan dengan itu perlu dikaji dan di telah lebih jauh bagaiman perlindungan oleh Pemerintah terhadap Relawan dan Bentuk/ Wadah relawan pada setiap tingkatan. Khususnya perlindungan pemerintah adalah terutama guna mempertegas posisi relawan, memperjelas peran dan hubungannya dengan stakehoilder lain dan mengindentifikasi kebutuhan legalitas, bagi dukungan sosial , adminitrasi dan finansial (Muchtar Bahar/Nita)

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.