Artikel

Beranda Warta Artikel Melawan Kumuh? Kata Kunci: Swadaya

Melawan Kumuh? Kata Kunci: Swadaya

Artikel Aceh Lhokseumawe Swadaya Comments (0) View (209)

Kata “swadaya” boleh jadi tak lagi asing buat masyarakat di negeri ini. Sebab istilah swadaya sudah diperkenalkan sejak puluhan tahun yang lampau, melalui program pemerintah maupun swasta. Merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), swadaya bermakna kekuatan (tenaga) sendiri, yang dalam kaitannya dengan pembangunan ataupun pemberdayaan, swadaya adalah sasaran utama yang harus dicapai. Pasalnya, dengan pertumbuhan swadaya adalah percepatan dari pembangunan itu sendiri.

Di sebuah desa, contohnya. Keberhasilan pembangunan di desa sebagian besar akan ditentukan animo swadaya dari masyarakatnya. Tentu saja, swadaya tak terbatas pada satu benda saja yang diberikan oleh setiap orang. Swadaya dapatlah berupa materiil, seperti uang, hibah tanah, bahan-bahan bangunan, dan lain-lain. Swadaya juga dapat berupa non-material, seperti: tenaga, waktu, dan gagasan.

Bila membahas kumuh, acapkali para pelakunya bakal berhadapan dengan permasalahan-permasalahan infrastruktur lingkungan atau permukiman. Sebut saja kondisi bangunan, jalan, drainase, pelayanan air bersih, pengelolaan persampahan, sanitasi, penanganan kebakaran, dan ruang terbuka publik (RTP). Sebuah permukiman dapat dinyatakan kumuh apabila terdapatnya persoalan dari tujuh aspek kumuh tersebut.

Dalam upaya penanganan kumuh itulah, pemerintah pusat dan daerah  menguras otak menyusun strategi penyelesaian permasalahan kumuh hingga 2019, seperti yang telah tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Langkah-langkah yang telah diambil pemerintah itu di antaranya menggelontorkan Bantuan Dana Investasi (BDI) sejak 2017 melalui Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku).

Namun tentu saja, sebesar apapun dana yang digelontorkan untuk penanganan kumuh tak akan berarti. Utama bila, tidak ada dukungan dari masyarakat. Satu dari sederet pilihan bentuk dukungan masyarakat yang dapat diimplementasikan adalah dengan swadaya murni. Melalui swadaya murni masyarakat inilah, penanganan kumuh amat bisa cepat terselesaikan. Selain itu, pencegahan kumuh pun dapat berjalan seperti yang diharapkan.

Upaya swadaya kasus permasalahan drainase ini bisa dijadikan contoh mengatasi kumuh. Persoalan lazim pada drainase lingkungan permukiman adalah genangan pada drainase, drainase tidak terpelihara, kualitas drainase tidak baik, drainase tidak tersedia, dan drainase tidak terhubung dengan saluran drainase kota.

Untuk menyelesaikan permasalahan genangan pada drainase, masyarakat akan mengkaji terlebih dahulu penyebab terjadinya genangan. Bila genangan tersebut terjadi karena sendimentasi yang diakibatkan lumpur atau sampah, maka penyelesaiannya cukup dengan bergotong royong, bersama-sama membersihkannya.

Begitu juga untuk menyelesaikan permasalahan drainase yang tidak terpelihara, masyarakat sekitar drainase atau pemanfaat langsung mesti mengkaji terlebih dahulu atas kerusakan serta penyebab dan kebutuhan biayanya. Setelah diketahui dengan pasti, masyarakat sekitar atau penerima manfaat langsung dapat berembuk menyepakati siapa dapat membantu apa untuk mengatasi masalah.

Swadaya diyakini betul berperan penting dalam mengatasi permasalahan penanganan kumuh. Apabila swadaya telah tumbuh, kumuh pun tak akan kambuh. Ayo berswadaya! [Aceh]

 

Penulis: Iskandar Muda, Askot I & C Korkot 06 Lhokseumawe, OC 1 Kotaku Provinsi Aceh

Editor: Epn

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.