Beranda Warta Artikel Meramu Makna Livelihood Program Kotaku

Meramu Makna Livelihood Program Kotaku

Artikel Jawa Timur Nganjuk Livelihood Comments (0) View (533)

Warungisasi istilah Edi Suharto dalam “Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat” (2002) mengkritisi program pemerintah yang memiliki kecenderungan memberikan pinjaman dan tambahan modal bagi warga miskin. Tidak salah. Hanya saja, pendekatan tunggal yang bernama pinjaman modal tanpa melihat dan mengkaji dengan objektif dan benar-benar utuh itu yang akan menimbulkan masalah baru bagi orang miskin.  

Tentu ini menjadi bahan pembelajaran bagi pemerintah dan kita selaku pendamping. Menempatkan masyarakat miskin dengan sudut pandang kekurangan modal atau pinjaman modal perlu dilihat kembali. Pun, tambahan modal kepada masyarakat miskin dinilai solusi agar dera kemiskinan segera sirna, yang terjadi sebaliknya.

Kemiskinan yang melilit masyarakat miskin selalu diukur dengan pendapatan semata. Sementara akses dan aset seolah tidak beririsan dengan lahirnya kemiskinan itu. Maka tidak salah jika pendekatan tunggal itu menjadi cara yang paling mudah untuk menyembuhkan penyakit akut kemiskinan. Tampaknya pendekatan tunggal agar kemiskinan bisa berkurang dalam konteks regulasi politik dan kebijakan harus berubah dan diubah. Jika tidak, maka ikhtiar untuk mengurangi angka kemiskinan hanya menjadi formalitas yang tak berimplikasi secara signifikan dalam pengurangan angka kemiskinan.

Sejak transformasi dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) ke Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku), isu yang diusung adalah tentang pengurangan luasan kumuh. Di Kabupaten Nganjuk ada 48.38 hektare luasan kumuh merujuk Surat Keputusan Bupati Nomor 188/84/k/41.1.013/2015 dan pembangunan dan permukiman. Muaranya adalah menghappus kumuh secara tuntas dan kualitas kehidupan dan penghidupan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) semakin baik.

Tentu menjadi tantangan dan peluang agar MBR kehidupan dan penghidupannya semakin baik. Peluang semakin terbuka lebar untuk menjadi sejahtera bagi MBR jika kolaborasi dengan semua pihak menjadi menjadi denyut nadi program bahwa keterlibatan semua pihak tidak hanya tataran rencana semata.

Begitu juga bahwa tantangan yang akan dihadapi adalah dengan menggunakan pendekatan dan metodologi pentagonal aset untuk meneguhkan bahwa MBR semakin survive dalam menghadapi problem hidup dan kehidupan yang akan datang. Tujuh indikator kumuh itu tak hanya berdiri dalam ruang hampa yang tidak berimplikasi terhadap kehidupan dan penghidupan masyarakat, utamanya masyarakat MBR. Menegaskan dan memastikan agar tujuh indikator kumuh bersenyawa dengan pentagonal aset sebagai bingkai dan jangkar dalam menopang keberlangsungan penghidupan MBR menjadi mutlak adanya.

Meningkatkan kualitas MBR dengan metode pentagonal aset yang merujuk kepada hasil baseline awal kemudian dilakukan filterisasi dengan kerangka livelihood menjadi cara untuk mengetahui potensi aset dan akses yang dimiliki MBR.  Karena bisa saja aset MBR yang dimiliki baik tetapi akses MBR itu yang perlu dibenahi dan ditingkatkan. Aset dan akses MBR keduanya bertautan agar keberlangsungan dan daya tahan MBR dalam menghadapi guncangan sosial, alam, dan finansial semakin kokoh. Meningkatkan pendapatan MBR menjadi satu dari banyak cara agar muara kehidupan dan penghidupan semakin berkualitas, dalam bahasa yang berbeda, menekan pengeluaran MBR sama halnya mendatangkan pendapatan kepada MBR itu sendiri.

Tak bisa dinafikkan dan diabaikan untuk meningkatkan akses dan aset MBR tidak hanya bertumpu pada persoalan ekonomi semata. Tetapi peranan tujuh indikator kumuh untuk mendukung keberlangsungan kehidupan MBR, harus hadir dalam pembangunan masyarakat. Ketujuh indikator kumuh, MBR, dan pentagonal mesti berjalan secara beriringan. Ketiganya berpautan yang saling berkaitan. Muara dari tujuh indikator dan penggalian MBR melalui pentagonal aset harus memberi dampak kepada penghidupan masyarakat secara umum dan MBR khususnya.

Pentagonal Vs Tujuh Indikator

Sebenarnya agak kaget bahkan agak rumit melakukan rasionalisasi mengenai konsep pentagonal-nya Chambers manakala berhadapan secara diametral dengan tujuh indikator. Hal ini  terjadi karena pemahaman umum yang dibidik Chambers dengan pendekatan pentagonal aset itu menjadi pilar  bagi MBR agar  memiliki ketahanan serta daya tahan goncangan ketika menghadapi situasi apapun yang mengancam kehidupan MBR. Oleh karenanya perlu perluasan aset yang dimiliki MBR. Apabila ada aset yang mengancam akan pendepatan MBR, masih ada aset lain yang menyelamatkan keberlangsungan hidup dan penghidupannya.

Tentu kita menyadari bahwa sejarah kelahiran metode pentagonal aset sebagai protes terhadap pola pendekatan pembangunan yang menempatkan masyarakat sebagai obyek. Bahkan sebagai subyek pembangunan jika hanya mengandalkan satu aset MBR tidak cukup mampu untuk menopang masyarakat miskin bisa bertahan. Maka dalam hal ini Cain and Mcnicoll (1998) menegaskan bahwa pentagonal aset itu dalam bahasa yang sederhana adalah MBR harus memiliki berbagai jenis usaha untuk memperkuat dan memperkokoh pendapatan MBR dari seluruh mata angin di mana aset menjadi penopangnya. Dengan demikian MBR bisa memaksimalkan aneka usaha sebagai pilar ekonomi dalam mengoptimalkan pendapatannya.

Setelah bergumul dengan keinginan dan cita-cita Program Kotaku, pembangunan infrastuktur yang akan dilakukan harus berdimensi pentagonal aset. Pola pembangunan selama ini seolah-olah bahwa pembangunan infrastruktur tidak ada kaitannya dengan masalah keberlanjutan kehidupan manusia. Maka menjadi niscaya untuk dikawal dan dipastikan tujuh indikator itu berbanding lurus dengan substansi pentagonal aset. Artinya, membangun infrastruktur itu harus beririsan dengan keberlanjutan kehidupan manusia jangka panjang.

Saya mencoba memahami tujuh indikator itu seperti metode penelitian yang menggunakan pendekatan deduktif. Di mana tujuh indikator itu membahas sesuatu yang bersifat umum tetapi pada akhirnya berdampak kepada keberlangsungan penghidupan MBR, baik secara individual maupun secara kelompok masyarakat. Sepintas kita bertanya, apa hubunganya saluran, drainase dengan pendapatan MBR? Bagaimana mungkin tujuh indikator itu jika dinilai sebagai aset akan berujung pada angka pendapatan MBR? Menekan angka pengeluaran sama halnya dengan mendatangkan pendapatan MBR. Tentu perlu waktu memahami hal itu.

Sementara pentagonal aset sebagai metode pendekatan untuk meningkatkan pendapatan MBR itu seperti metode induktif, yakni persoalan khusus MBR secara personal maupun kolektif dibingkai  dengan aset yang dimiliki MBR secara langsung. Tentu jika aset sebagai sarana untuk mendatangkan dan menopang kehidupan MBR, tentu akan lebih terasa dampaknya bagi MBR, jika fokus aset itu yang dikembangkan. Karena yang dibutuhkan MBR adalah kebutuhan langsung dan yang dirasakan dalam menyambung hidup dan kehidupannya sehari-hari.

Fakta itulah yang menjadi perdebatan para ekonom neoklasik, bahwa pendapatan dan aset seperti dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Keduanya bertautan, pendapatan bisa disimpan dan untuk mengakumulasi menjadi aset sebagai gudang (storehouse) untuk disimpan di masa yang akan datang.

Persoalannya adalah orang miskin mungkin dalam hal ini MBR, lebih mementingkan dan membutuhkan uang untuk keperluan sehari-hari, ketimbang aset. Maka kebutuhan mendesak dan menjadi prioritas adalah mengupayakan cara orang miskin supaya bisa mendapat uang untuk keberlangsungan hidup anak dan keluarganya. Aktivitas menabung sebagai kebutuhan jangka panjang manakala kebutuhan yang mendesak dan prioritas itu bisa dipenuhi. [Jatim]

 

Penulis: Abdus Salam, Asisten Kota Mandiri Kabupaten Nganjuk, OSP Kotaku Provinsi Jawa Timur

Editor: Epn

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.