Cerita

Beranda Warta Cerita Satker PKPBM: Pemerintah Serius Tangani Gempa Lombok

Satker PKPBM: Pemerintah Serius Tangani Gempa Lombok

NTB Lombok Lombok Bangkit Risha Kunjungan Presiden Kunjungan Menteri PUPR Comments (0) View (126)

Pelaksanaan masa Tanggap Darurat yang dicanangkan pemerintah buat bencana gempa bumi di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) sudah berakhir. Namun pemerintah tampaknya serius menangani memperbaiki kondisi pascagempa. Sebab Presiden Joko Widodo telah memaksimalkan Kabinet Kerja-nya buat menangani pascabencana di Lombok. Satu buktinya adalah mobilisasi 401 calon Aparatur Sipil Negara (ASN) dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk menyiapkan rehabilitasi dan rekonstruksi wilayah Lombok dan sekitarnya, di awal September 2018 ini.

Kehadiran Presiden Jokowi yang ketiga kalinya sejak gempa terjadi memang menjadi bukti pemerintah tak tanggung-tanggung menangani bencana, khususnya di Lombok. Masyarakat setempat yang bermukim sementara di tenda-tenda pengungsian dan masih trauma—lantaran gempa kecil susulan masih terjadi—mendapat perhatian khusus. Solusinya adalah pembangunan rumah dengan solusi Rumah Instan Sederhana Sehat (Risha). "Pemerintah serius menangani gempa Lombok. Dan saat ini, infrastruktur sementara telah dibangun," kata Kepala Satuan Kerja Pengembangan Kawasan Permukiman Berbasis Masyarakat Mita Dwi Aprini, di saat mendampingi kunjungan Menteri PUPR Basuki Hadimuljono ke lokasi bencana.

Langkah pembangunan Risha yang diusung pemerintah memang beralasan. Data Badan Nasional Pengendalian Bencana (BNPB) memaparkan bahwa hingga menjelang sebulan pascagempa jumlah korban jiwa sudah mencapai 515 orang dan 7.145 terluka. Angka itu masih ditambah 431.416 yang terpaksa mengungsi lantaran sebanyak 51.390 unit rumah terdata rusak ringan, dan sebanyak 74.354 unit rumah rusak berat. Kerugian akibat bencana di Lombok dan sekitarnya diperkirakan mencapai Rp 7,7 miliar.

Mita menambahkan, Kemen PUPR sudah menugaskan ratusan orang calon ASN untuk mendampingi pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi wilayah NTB pascagempa. Dan sebelum para kandidat ASN dan Tim Fasilitator Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) terjun ke lapangan, mereka diberi pelatihan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Masyarakat dan Permukiman Berbasis Komunitas (Rekompak) dan pembangunan Risha.

Pada kunjungan kali ini Presiden Jokowi kembali menginap di tenda pengungsian bersama sejumlah menteri dan pejabat tinggi. Di antaranya Menteri PUPR Basuki, Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Direktur Jenderal Cipta Karya Kemen PUPR Danis H. Sukmadilaga, Gubernur NTB TGB Muhammad Zainul Majdi, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Dirjen Cipta Karya Danis H. Sukmadilaga, Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita, Kepala BPNB Willem Rapangilei, Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, Kepala Polri Jenderal Polisi Muhammad Tito Karnavian, dan sejumlah pejabat terkait lainnya.

Saat meninjau proses rehabilitasi pascagempa dan pembangunan Risha di Desa Kekait, Kecamatan Gunung Sari, Kabupaten Lombok Barat, Presiden Jokowi menyatakan bahwa pemerintah sudah menetapkan besaran bantuan. Bagi rumah yang rusak berat, pemerintah memberikan bantuan sebesar Rp 50 juta. Untuk rumah yang rusak sedang, jumlah bantuannya mencapai Rp 30 juta, dan bantuan sebesar Rp 10 juta dialokasikan rumah rusak ringan.

Presiden menambahkan, dari 71 ribu rumah yang rusak, baru 19 ribu yang terverifikasi rumah rusak berat. Hingga awal September, baru 5.293 warga Lombok Timur, Lombok Utara, Mataram, Lombok Tengah, dan Lombok Barat yang tercatat menerima bantuan perbaikan rumah. [Redaksi]

Dokumentasi lainnya:

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.