Cerita

Beranda Warta Cerita IKM KSM Digembleng Disperindag untuk Ekspor

IKM KSM Digembleng Disperindag untuk Ekspor

Jawa Timur Kolaborasi Livelihood Disperindag Mojokerto Comments (0) View (183)

“Siap untuk ekspor?” tanya Kustanto, sang pemandu memotivasi peserta pelatihan. “Siaaaap!!!” jawab para peserta pelatihan serempak seraya mengacungkan tinju ke atas.

Itulah cuplikan antusiasme peserta pelatihan Manajemen Ekspor untuk Industri Kecil Menengah (IKM) yang dilaksanakan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Mojokerto di Balai Pelatihan Kerja Pemerintah Provinsi Jawa Timur, beberapa waktu lampau. Peserta pelatihan pun berlatar belakang berbagai bidang usaha. Di antaranya pelaku usaha bidang pertanian, peternakan, perikanan, kerajinan, makanan olahan, dan lainnya.

Para pelaku usaha tampak bersemangat menggali pengetahuan dan meningkatkan keterampilan,  khususnya tentang manajemen ekspor dalam pelatihan yang berlangsung selama dua hari itu. Di antara pelaku usaha dan IKM Kabupaten Mojokerto yang mengikuti pelatihan, ada enam orang perwakilan dari Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) yang hadir sebagai peserta. Mereka adalah anggota kelompok swadaya masyarakat (KSM), badan keswadayaan masyarakat (BKM), dan konsultan asisten kota mandiri dari Desa Jasem, Desa Mlaten, Desa Pagerluyung, dan Desa Tinggarbuntut.

Peserta dari Program Kotaku berasal dari beberapa KSM aneka jenis usaha. Misalnya, wakil KSM dari Desa Jasem mengembangkan usaha olahan makanan yaitu kripik usus. “Kripik usus desa kami sudah terkenal, dan saatnya untuk lebih berkembang lagi,” ujar Maria Ulfah, anggota KSM Desa Jasem penuh harap. Asa yang sama dilontarkan Ari Witono dari Desa Mlaten yang mengembangkan usaha gerabah. “Gerabahnya tak hanya untuk alat rumah tangga, tapi juga kerajinan bernilai seni dan eksotik,” kata dia bangga. Sementara Sunarmi dari Desa Tinggarbuntut mengembangkan usaha kerajinan tas bersama anggota KSM lainnya.

Evita Hapsari dari Desa Pagerluyung mendapat kesempatan mengikuti pameran selanjutanya yang bakal digelar Kementerian Perdagangan di ajang Trade Expo Indonesia menjelang Oktober 2018. Pelaku usaha kain perca dan batik itu adalah anggota Komunitas Eksportir Muda Indonesia (KEMI).

Saat membuka acara pelatihan, Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Mojokerto Bambang Purwanto menegaskan, pemerintah akan membantu dan membuka lebar kesempatan untuk ekspor. Di antaranya membina dan memberi kemudahan perizinan bagi IKM di Mojokerto untuk dijual ke luar negeri.

Senada dengan itu, wakil dari Bea Cukai Tanjung Perak, Surabaya—Syahrian dan Sunarko—memaparkan konsep dasar ekspor dan impor, khususnya yang terkait dengan peraturan kepabeanan. Misalnya soal alur memasukkan barang ke dalam daerah pabean serta mengeluarkan barang dari dalam daerah pabean. Sebab keduanya meyakini, ketidaktahuan prosedur kepabeanan bakal menjadi faktor penghambat, bahkan kegagalan dalam proses ekspor.

Untuk membantu IKM dalam proses ekspor, Bea Cukai telah menerapkan Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE), yaitu pembebasan biaya impor bagi perusahaan yang berorientasi ekspor, yang bahan bakunya berasal dari impor. “Misalnya, IKM mau ekspor baju dengan bahan baku, misalnya kancing, harus impor. Maka biaya impor kancing baju dibebaskan,” cetus Syahrian.

Di sesi berikutnya Ketua KEMI Kustanto memaparkan segala sesuatu yang berhubungan dengan pengetahuan dasar ekspor. Mulai dari arti ekspor, yang perlu diketahui saat memulai ekspor, yang harus diperhatikan eksportir, para pelaku ekspor, dokumen yang diterbitkan, proses perdagangan ekspor, pengaturan barang ekspor, tata cara ekspor, barang yang dilarang ekspor, barang yang diatur ekspornya, hingga Incoterms (International Commercial Terminologies). “Lebih teoritis, supaya calon eksportir paham konsep dan istilah dalam bidang ekspor,” kata Kustanto.

Pada hari kedua pelatihan, peserta diharuskan membawa komputer jinjing atau telepon selular pintar dengan kemampuan akses internet yang cepat. Peserta akan berlatih praktik memulai ekspor. Kali ini Kustanto berkolaborasi dengan Pekik Warnendya buat berbagi kisah suka dan duka ekspor.

Sebagai pengusaha muda yang sukses di bidang ekspor sekaligus penggiat KEMI, keduanya berbagi kiat sukses. Seperti Pekik, yang berhasil mengekspor sapu lantai ke Jepang secara rutin. “Jangan lihat sapu remeh. Omzet dan keuntungan besar terbukti didapat dari ekspor tersebut,” ulas Pekik, yang mendapat decak kagum peserta pelatihan.

Di sesi praktik, para peserta memulai aktivitasnya dengan analisa survei pasar. Setelah mendapatkan motivasi dan pengetahuan melalui pengalaman sukses eksportir, peserta dipandu untuk praktik memulai ekspor. Dimulai dengan Analisis Survey Pasar. Peserta diajak belajar menetapkan target pasar sesuai produk masing-masing. Terlebih dahulu peserta praktik memahami potensi pasar dengan menganalisasinya melalui laman di internet yang direkomendasikan. Sebut saja kemendag.go.id; trademap.org; intracen.org; jetro.go.jp; dan cia.gov. Dari analisanya, peserta sebagai calon eksportir dapat menentukan NTE (Negara Tujuan Ekspor). “Eksportir sekarang sudah paham segmentasi, targeting, dan positioning produknya,” ujar Kustanto.

Peserta juga belajar cara pengiriman foto produk dipraktikkan pada hari kedua pelatihan tersebut, untuk ditawarkan di pasar ekspor. “Ibaratnya, produk kita sudah ada di etalase,” jelas Pekik menambahkan. Kustanto juga menambahkan bahwa perwakilan perdagangan RI di luar negeri juga akan membantu.

Kendati hanya berlangsung dua hari, para peserta mengaku menerima manfaat pengetahuan yang penting untuk pengembangan usaha. “Walaupun ini langkah awal, tapi sudah ada gambaran bagaimana kita memulainya,” ungkap Ari Witono, seorang peserta. Dan tak hanya itu, mereka juga diberi kesempatan kunjungan lapang dengan mengunjungi perusahaan produsen natural coconat charcoal atau arang batok yang sudah berpengalaman melakukan ekspor di Delanggu. [Jatim]

 

Penulis: Abd. Adjis, Asisten Kota Mandiri Kabupaten Mojokerto, OSP Kotaku Provinsi Jawa Timur

Editor: Epn

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.