Beranda Warta Cerita Tallo, Kisah [Pernah] Kumuh di Kota Angin Mamiri

Tallo, Kisah [Pernah] Kumuh di Kota Angin Mamiri

Cerita Sulawesi Selatan Makassar Kel. Tallo Comments (0) View (178)

Dampak urbanisasi tampak nyata benar di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Di kota kelima terbesar di Indonesia itu, efek perpindahan penduduk yang akhirnya bermukim di wilayah perkotaan memicu kondisi kumuh. Di Kelurahan Tallo, Kecamatan Pelabuhan Baru, misalnya.

Kelurahan Tallo yang memiliki luas 30 hektare dan menjadi bagian dari Kota Makassar itu terpecah dalam lima rukun warga. Tipologi kumuh di kawasan ini terdiri dari permukiman di tepi air, di atas air, dan dataran rendah. Secara karakteristik, Kelurahan Tallo terletak di areal kawasan pesisir, bantaran sungai, dan kawasan fungsional pengembangan pelabuhan.

Kondisi fisik kawasan yang kumuh di Tallo dapat ditengok dari indikator kondisi bangunan hunian, kondisi jalan lingkungan, dan kondisi drainase lingkungan. Berdasarkan hasil baseline, kepadatan bangunan mencapai 39 unit per ha. Dari 1.316 unit rumah, sebanyak 463 unit di antaranya masuk kategori rumah tidak layak huni (RTLH), dan 826 unit bangunan tidak teratur. Jalan lingkungan bernasib sama. Dari 7.830 meter total panjang jalan lingkungan, hampir setengah—3.852—di antaranya rusak.

Indikator kumuh untuk kondisi drainase pun demikian. Dari 7.306 meter panjang drainase lingkungan, sebanyak 3.147 meter terbukti rusak. Tak pelak lagi, luas area genangan pun terhitung mencapai 20,36 ha, lebih dari setengah luas wilayah Kelurahan Tallo. Urusan pengelolaan air limbah, ada 386 kepala keluarga (KK) yang sistem pengelolaan air limbahnya tidak sesuai syarat teknis. Selain itu ada 517 KK yang menggunakan sarana dan prasarana pengelolaan air limbah yang tak lolos syarat teknis. Data juga mencatat, 726 KK memiliki akses air minum, sementara 1.190 KK lainnya tidak terpenuhi kebutuhan air minumnya.

Hanya ada 500 unit bangunan yang memiliki akses proteksi kebakaran, sedangkan 1.482 unit bangunan lainnya tak memiliki proteksi kebakaran sama sekali. Ada pula 1.517 KK yang sarana dan prasarana pengelolaan sampahnya yang tidak terpelihara. Selain itu, 1.1.50 KK di antaranya tak memenuhi syarat teknis. Fakta itu masih ditambah sistem pengelolaan persampahan buat 225 KK tidak sesuai syarat teknis.

Untunglah, kondisi non-fisik di kawasan Tallo diyakini bakal mendukung penanganan kumuh setempat. Sebab, sistem sosial masyarakat masih berjalan baik dan bersifat patron, khususnya masyarakat nelayan. Harmonisasi sosial terlihat jelas dengan masyarakat multikultur yang partisipasi masyarakat dalam mendukung proses pembangunan cukup tinggi.

Kondisi perekonomian masyarakat pun nyaris senada. Di wilayah ini ada 739 KK berstatus masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Pengelolaan potensi ekonomi juga belum sepenuhnya berkontribusi secara positif terhadap pendapatan masyarakat, khususnya MBR.

Pembangunan infrastruktur penanganan kumuh di Kelurahan Tallo meliputi beragam bidang sarana dan prasarana buat wilayah. Mulai dari paving block, ruang terbuka hijau, penutup saluran parit, ruang terbuka non-hijau, rehabilitasi rumah tidak layak huni, pembuatan jamban (kloset, bak air, septic tank, resapan), jalur hijau median, instalasi pengelolaan air limbah (IPAL) setempat atau komunal, dan drainase lingkungan.

Hasil pelaksanaan kegiatan penanganan kumuh di Tallo pada 2017 adalah peningkatan kualitas jalan lingkungan, pembangunan ruang terbuka publik, penataan bangunin hunian, dan pembangunan taman bermain. Dan hingga 2018 ini, Kelurahan Tallo masih “bergerak” menangani kumuh. Supaya, tak ada lagi kisah kumuh di Kota Angin Mamiri. Sepakat, Saribbattang (Makassar: saudara)? [Redaksi]

Dokumentasi lainnya:

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.