Beranda Warta Artikel Yuk, Budayakan Minim “Sisa Konsumsi”!

Yuk, Budayakan Minim “Sisa Konsumsi”!

Artikel Pengelolaan Sampah Comments (0) View (185)

Sampah adalah momok yang tak pernah lekang dari kehidupan manusia, perseorangan, rumah tangga, maupun komunal wilayah. Pengelolaan tak tersistem serta merta menjadikan penempatan sampah tidak pada tempatnya. Ujungnya, predikat kumuh dan gangguan kesehatan langsung maupun tidak dari dampak sampah akan disandang wilayah tertentu di Tanah Air. Walau begitu, tentu selalu ada solusi dari ketidakaturan keberadaan sampah.

Dalam rangka memeringati Hari Bersih Sampah Sedunia pada 16 September, Program Kota Tanpa Kumuh menuliskan kembali secara bebas paparan DK Wardhani dalam karya “Menuju Hidup Minim Sampah; Bagaimana Memulainya?” Karena Program Kotaku meyakini: sekarang saatnya memulai budaya minim sampah.

Wardhani menawarkan, sebutan sampah acap berkonotasi cenderung negatif. Dan tak heran bila masyarakat pun memandang rendah makna sampah. Akan jauh terasa berbeda bila sampah mulai disebut sebagai sisa konsumsi.

Pemerhati perancangan kota dan arsitektur lingkungan binaan itu juga menggarisbawahi bahwa setiap “produsen” sisa konsumsi mesti melakukan cegah, yakni jangan sampai terjadi sisa sampah. Lantas pilah, yaitu memilah sampah sisa konsumsi. Kemudian olah: mengolah sampah yang tersisa dan dipastikan akan terbuang. Dengan cegah, sebenarnya pilah dan olah akan hilang secara otomatis.

Ada beberapa pandangan yang menyitir fakta produsen yang sengaja “menyetir” konsumerisme. Misalnya, ada produk barang berumur pendek atau sekali pakai, yang bertujuan agar konsumen membeli secara cepat dan rutin. Seperti kebutuhan pribadi atau kebutuhan rumah. Pengemasan produk pun dibuat berwadah kecil. Dengan jumlah isi yang terbatas, konsumen bakal lebih sering membelinya.

Selain itu, ada tren yang sengaja diciptakan untuk membuat konsumen tertarik, walaupun sebenarnya tidak membutuhkan. Sebut saja telepon selular atau fashion. Yang patut disayangkan, ada banyak produk yang kualitasnya sengaja dibuat rendah dan cepat rusak. Alhasil, masyarakat membelinya kembali.

Menyoal “sisa konsumsi” tadi, hasil survei Sosial Ekonomi Nasional Badan Pusat Statistik 2014 tentang Indikator Perilaku Peduli Lingkungan Hidup memang cukup mencengangkan di wilayah perkotaan di Indonesia. Karena misalnya, ada lebih dari 50 persen warga memilih membakar sampah atau yang menyerahkan sepenuhnya sampah kepada petugas untuk dikumpulkan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA)—aksi menimbun di TPA ini adalah jalan keluar paling tua dalam sejarah pengelolaan sampah. Sementara pola mendaur ulang hanya 1,23 persen, dan yang menggunakan sampah untuk dijadikan kompos atau pupuk pun cuma 2,77 persen. Solusi menjadikan sampah pakan ternak hanya mencapai 7,77 persen, dan menjual sisa sampah rumah tangga ke tukang rongsokan mencapai 17,97 persen. Sebagian lainnya lebih memprihatinkan, yakni: menimbun atau mengubur sampah (11,06 %), membuang ke laut atau sungai atau got (8,10 %), dan membuangnya secara sembarangan (11,90 %).

Secara filofosi, prinsip utama memulai budaya minim sampah adalah dengan mencegah produksi sampah sejak awal dan mengirim sesedikit mungkin sampah ke TPA. Membuang sampah pada tempatnya sudah tak cukup menjadi solusi. Karenanya, setiap orang mesti memulai mencegah, memilah, dan mengolah sampah.

Memilah sisa konsumsi dapat dimulai dengan jenis materialnya. Misal, sampah dapur adalah sisa bahan organik, yang dapat membusuk. Sampah organik ini dihasilkan dari beragam kegiatan rumah tangga seperti proses memasak, hasil pertanian, kotoran hewan dan sebagainya. Sedangkan sampah anorganik atau tidak dapat membusuk, disebut berdasarkan materialnya: sisa kardus, sisa plastik, sisa kaca, dan lainnya. Sampah jenis ini sering disebut sampah kering, yang tak mudah membusuk dan sangat susah terurai oleh alam. Tumpukan sampah anorganik seperti wadah bekas pembungkus makanan, plastik mainan, botol dan gelas minuman, kaleng, dan masih banyak lagi itu mengakibatkan pencemaran tanah dan lingkungan.

Wardhani menekankan bahwa aktivitas rumah tangga dapat dipastikan sebagai hulu penghasil sisa konsumsi. Untuk yang satu ini, kaum ibu adalah kunci pembuat keputusan. Untuk mulai melaksanakan cegah, pilah, dan olah. Minimal, mulai dari rumah tangganya.

Nah, siapkah Anda memulai budaya minim sampah mulai sekarang? [Redaksi]

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.