Beranda Warta Artikel Face-Off Kumuh di Seutui Serambi Mekah

Face-Off Kumuh di Seutui Serambi Mekah

Safeguard LARAP Aceh Comments (0) View (293)

Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) hadir sebagai satu dari sejumlah solusi penanganan masalah permukiman kumuh perkotaan yang ada di Indonesia. Target penanganan kumuh program ini adalah seluas 23.656 hektare dari 38.431 ha yang menjadi target nasional. Dalam upaya mengurangi kumuh tersebut, Program Kotaku meningkatkan kualitas infrastruktur permukiman melalui sumber pembiayaan pinjaman luar negeri. Pelaksanaan kegiatan tersebut diselenggarakan di 94 kota prioritas, satu di antaranya di Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh.

Merujuk Surat Keputusan Wali Kota Banda Aceh Nomor 372 Tahun 2014 tentang Penetapan Lokasi Perumahan dan Permukiman Kumuh Kota Banda Aceh, luasan areal kumuh mencapai sebesar 797,60 ha yang terletak 34 gampong di 11 kecamatan. Target kawasan penanganan permukiman kumuh prioritas di Kota Banda Aceh terdapat di kawasan kumuh Seutui, dengan luas wilayah mencapai 32,99 ha.

Seutui berdekatan langsung dengan Jalan Teuku Umar, jalur protokol jantung kota berjuluk Serambi Mekah. Luas kumuh di Seutui mencapai 32,99 ha, yang meliputi lima gampong atau kelurahan. Mulai Gampong Neusu Jaya, Neusu Aceh, Sukaramai, dan Kelurahan Seutui di Kecamatan Baiturrahman hingga Gampong Lamlagang di Kecamatan Banda Raya.

Penataan kawasan kumuh Seutui adalah bagian dari program Pemerintah Kota Banda Aceh dalam rangka revitalisasi kawasan wisata Krueng Daroy. Pemda sebagai nakhoda memang berperan penting dalam penanganan kawasan Seutui, contohnya dalam pelaksanaan kolaborasi dengan pendanaan daerah dan pihak lainnya.

Kawasan wisata Krueng Daroy atau Taman Ghairah yang dibangun pada abad ke-16 oleh Sultan Iskandar Muda di sempadan Sungai Krueng Daroy. Di Sepanjang sungai ini juga terdapat beberapa bangunan bersejarah lainnya, seperti Keraton Aceh dan Kandang Baginda yang menjadi lokasi pemakaman keluarga Kesultanan Aceh.

Sayangnya, keasrian Krueng Daroy empat abad silam sangat bertolak belakang dengan kondisinya saat ini. Sempadan sungai sudah berubah menjadi kawasan pemukiman penduduk. Sementara sungai berganti wujud sebagai tempat buangan limbah rumah tangga dan sampah. Pola hidup masyarakat yang kurang bersahabat dengan lingkungan sungai dan permukiman menjadi kumuh.

Permasalahan utama permukiman kumuh Seutui adalah ketidakteraturan bangunan akibat banyaknya permukiman ilegal di sempadan sungai dan konstruksi bangunan yang tidak sesuai persyaratan teknis. Kualitas air sungai juga buruk karena menjadi tempat buangan langsung limbah rumah tangga dan sampah. Akses jalan di beberapa bagian terputus akibat penggunaan tanah kosong secara serampangan sebagai lahan permukiman.

Sedianya, kawasan Seutui bakal ditata kembali melalui Program Kotaku.  Di antaranya adalah pembangunan jalan pedestrian dan jembatan penghubung yang difokuskan di sub kawasan Glee Gurah di Gampong Seutui, Lamlagang, dan Geuce Kayee Jato. Sementara pembangunan jalan pedestrian dan jembatan penghubung sub Kawasan Glee Gurah terfokus di wilayah Gampong Seutui. Pembangunannya juga meliputi penataan bangunan hunian tepi sungai dan penyediaan sarana prasarana infrastruktur pemukiman.

Penataan kawasan Seutui tentu berdampak sosial terhadap para pemilik bangunan dan lahan.  Sebab, ada 32 bangunan hunian dan dua bangunan usaha yang terpotong sebagian bangunannya. Dari ke-32 bangunan tersebut, ada 25 warga pemilik bangunan hunian dan usaha. Dan dari ke-25 warga tadi, hanya tujuh warga yang memiliki bukti kepemilikan sah. Sedangkan 18 lainnya tidak, alias hanya bermukim di tanah negara milik Balai Wilayah Sungai Sumatra I.

Berdasarkan kajian Rencana Tindak Pengadaan Tanah dan Permukiman Kembali (RTPTPK) atau Land Acquisition and Resettlement Action Plan (LARAP), Pemerintah Kota Banda Aceh sudah menyiapkan skema ganti rugi. Para pemilik sah tanah akan mendapat penggantian lahan atau bangunan yang terkena dampak pembangunan. Sementara yang ilegal hanya diberikan santunan untuk biaya pembongkaran dan rehabilitasi bangunan. [Aceh]

Dokumentasi lainnya:

Klik guna memperbesar tampilan:

 

Penulis:

Vhany Medina, Asisten Publikasi USK Komunikasi, KMP Kotaku Wilayah 1

Editor: Epn

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.