Beranda Warta Cerita Pelatihan Tukang Bersertifikasi Marak di Wilayah Kotaku

Pelatihan Tukang Bersertifikasi Marak di Wilayah Kotaku

Cerita Pelatihan Sertifikasi Tenaker Jambi Bengkulu Gorontalo Sumatra Utara Comments (0) View (1613)

Kini, tak bakal ada lagi tukang yang tak mumpuni bekerja. Paling tidak, itulah harapan yang digarisbawahi betul dalam pelaksanaan pembangunan ala Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) di sejumlah wilayah dampingan di Tanah Air. Tak heran dalam rangka menyempurnakan hasil kerja yang sesuai standar itulah, para pelaku Program Kotaku menyelenggarakan sederet aksi pelatihan tukang yang bersertifikasi. Seperti di Provinsi Gorontalo, Bengkulu, Jambi, dan Provinsi Sumatra Utara di pertengahan 2018 ini.

Secara umum, pelatihan tukang yang bersertifikasi besutan Program Kotaku bertujuan membentuk pekerja konstruksi yang memahami dan memiliki pengetahuan pelaksanaan infrastruktur. Dengan demikian, hasil kegiatan pembangunan diyakini bakal berkualitas baik sesuai standar teknis, dan para pekerja pun telah tersertifikasi.

Satuan Kerja Pengembangan Kawasan Permukiman (Satker PKP) Provinsi Gorontalo melaksanakan pelatihan tukang bersertifikasi di Kantor Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Provinsi Gorontalo untuk agenda paparan teori. Di hari kedua pelatihan, 51 orang peserta dibawa ke Kelurahan Donggala, Kecamatan Hulonthalangi untuk belajar observasi lapangan. Para peserta pelatihan berasal dari 12 kelurahan di Kota Gorontalo dan lima kelurahan dari Kabupaten Gorontalo.

Kepala Satker PKP Gorontalo Herman Tobo, pencapaian target 0 persen kumuh di 2019, khususnya di lokasi yang mendapat Bantuan Dana Investasi (BDI), bakal menyerap tenaga kerja informal bidang konstruksi bangunan. Sayangnya, di lapangan masih terdapat tenaga kerja yang kurang dibekali kemampuan teknik konstruksi bangunan. Bahkan banyak ditemui mandor, tukang, dan kuli bangunan yang umumnya hanya menempuh pendidikan sekolah dasar hingga menengah, bahkan ada yang tidak menempuh pendidikan formal sama sekali. Keahlian di bidang konstruksi dimiliki secara turun temurun atau autodidak, yang diawali sebagai pembantu tukang (kenek) dan selanjutnya berkembang menjadi tukang dengan keahlian tertentu.

Padahal, Herman menambahkan, untuk memenuhi kebutuhan skala kecil maupun skala besar diperlukan perangkat standar untuk mengukur dan menyaring tenaga kerja yang memenuhi persyaratan sesuai kompetensi. Pelatihan tenaga kerja konstruksi adalah satu upaya memperbaiki prestasi kerja pada suatu pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya dan siap untuk disertifikasi.

Pelaku Program Kotaku Bengkulu seolah tak mau ketinggalan. Mereka pun menyelenggarakan pelatihan uji kompetensi sekaligus sertifikasi tenaga konstruksi yang selama ini bekerja pada badan keswadayaan masyarakat di Program Kotaku Provinsi Bengkulu. Bukti pengakuan tertulis atas kompetensi tersebut diterbitkan oleh Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) Provinsi Bengkulu.

Pelatihan tersebut diikuti 21 orang dilaksanakan di Aula Pertemuan LPJK Provinsi Bengkulu selama dua hari. Para peserta pelatihan keterampilan yang diutus badan keswadayaan masyarakat (BKM) atau lembaga keswadayaan masyarakat (LKM) sebagai peserta adalah masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang menjadi tukang dalam pembangunan infrastruktur Program Kotaku. Peserta yang menuntaskan pendidikan sekolah menengah atas terdata sebanyak 13 orang, jebolan sekolah menengah pertama sebanyak lima orang, lulusan sekolah dasar atau sekolah rakyat sebanyak dua orang, dan buta huruf satu orang.

Ada tujuh kelurahan skala prioritas penanganan kumuh di Bengkulu yang menghadirkan peserta pelatihan kali ini. Ketujuh wilayah itu adalah Kelurahan Malabero, Sumber Jaya, Belakang Pondok, Kebun Keling, Rawa Makmur, Dusun Besar, dan Kelurahan Pintu Batu.

Di Provinsi Jambi, Program Kotaku berkolaborasi dengan LPJK Provinsi Jambi dalam pelaksanaan pelatihan pengembangan kapasitas melalui sertifikasi tukang. LPJK setempat—sebagai panitia penyelenggara—mentargetkan 450 peserta. Namun di saat pelaksanaan, peserta sertifikasi tukang membludak melebihi kuota, mencapai sekitar 600 orang. Mereka berasal dari perusahaan, instansi atau lembaga pemerintah, dan swasta serta program-program pemerintah berbasis masyarakat.

Program Kotaku Provinsi Jambi yang menjadi program pemerintah berbasis masyarakat juga mengirimkan peserta dengan jumlah terbanyak: 51 orang. Yang sebagian besar berasal dari Kota Jambi dan Sungai Penuh. Para peserta sertifikasi tukang yang difasilitasi Program Kotaku Provinsi Jambi ini adalah tenaga kerja yang berkomitmen dengan kegiatan insfrastruktur skala kelurahan di lokasi prioritas, dan tergabung dalam KSM Lingkungan.

Di pelatihan ini, para peserta sertifikasi tukang dibagi atas tiga kategori keahlian dan keterampilan yang dapat diikuti. Yakni, Terampil I untuk Operator, Terampil II untuk Mandor, dan Terampil III untuk Tukang. Peserta sertifikasi tukang yang difasilitasi Program Kotaku Provinsi Jambi seluruhnya masuk ke dalam Kategori III.

Kabar dari utara Sumatra nyaris senada. Pembekalan dan sertifikasi tukang Program Kotaku Provinsi Sumatra Utara diselenggarakan Satker PKP Sumut. Jumlah peserta yang mengikuti pembekalan dan sertifikasi di Aula Pendidikan dan Pelatihan Dinas PUPR Sumut ini berjumlah 223 orang, dari 11 kabupaten atau kota wilayah dampingan Program Kotaku Sumut.

Pelaksanaan kegiatan ini dibagi menjadi tiga gelombang, yaitu gelombang pertama pada 23 Juli yang diikuti 82 orang peserta berasal dari Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang. Gelombang berikutnya dihadiri 84 orang peserta pelatihan dari Kota Tanjung Balai, Kabupaten Langkat, Kabupaten Asahan, Kota Tebing Tinggi, Kabupaten Karo, dan Kota Sibolga. Sementara gelombang ketiga diikuti 57 orang peserta yang berasal dari Kota Binjai, Kota Pematangsiantar, dan Kota Padangsidimpuan.

Kepala Seksi Balai Jasa Konstruksi Diklat Dinas PUPR Wilayah 1 Aceh Hilal menyampaikan sejumlah masukan. Dia menekankan bahwa tukang batu, tukang keramik, tukang besi, dan lainnya mesti memiliki motivasi yang tinggi, menjaga sikap dan perilaku sebagai tukang. Seperti, menggunakan pakaian kerja, rompi, baju, helm atau penutup kepala, sepatu, sarung tangan, dan perangkat standar lainnya. “Di beberapa tempat masih ditemukan masih ada yang pakai sandal jepit, tidak memakai rompi, atau helm,” kata Hilal.

Di sesi uji kemampuan 82 tukang yang dilakukan tiga orang perwakilan Balai Jasa Konstruksi Wilayah 1 Aceh, peserta menjalani proses wawancara. Yang dinilai di bagian ini adalah sikap dan cara menjawab soal, keahlian yang berhubungan dengan pengalaman di lapangan, dan kelengkapan berkas peserta.

 

Penulis: Saprin Mantali (Konsultan Individu Program Kotaku), Darwanti (Asisten Kota KK Kota Bengkulu), Kartini (Tenaga Ahli Komunikasi KMW Bengkulu), Untari (Tenaga Ahli Pelatihan KOTAKU OC-3 KMW Provinsi Jambi)

Editor: Epn

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.