Beranda Warta Artikel PLPBK Program Kotaku “Sukses” di Kedungwuni Timur

PLPBK Program Kotaku “Sukses” di Kedungwuni Timur

Kedungwuni Infrastruktur Comments (0) View (171)

Permasalahan kumuh di wilayah Kelurahan Kedungwuni Timur, Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah cukup beragam dan memenuhi seluruh indikator kumuh. Mulai dari banyak rumah yang tidak layak huni, bangunan tak teratur, ruas jalan tidak memadai, jaringan drainase lingkungan kurang memadai, belum ada pengelolaan persampahan yang terpadu, sanitasi warga pun belum memadai, sungai belum tertata, hingga tak ada sarana proteksi kebakaran, serta belum ada ruang terbuka publik. Kelurahan ini menjadi target pelaksanaan Penataan Lingkungan Permukiman Berbasis Komunitas (PLPBK) Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku).

Secara geografis Kelurahan Kedungwuni Timur dengan luas wilayah 249.700 hektare berada di dataran rendah. Kelurahan ini meliputi 17 rukun warga, yang terbagi menjadi 75 rukun tetangga dan 13 pedukuhan (perkampungan). Luas kawasan kumuh berdasarkan data deliniasi kumuh di Kedungwuni Timur mencapai 2,77 ha: kawasan Gending (1,32 ha) dan Pasar Kedungwuni (1,45 ha).

Kawasan Gending sebagai contoh, satu dari 75 RT di Kedungwuni Timur, yang dalam perkembangannya mendorong pertumbuhan kawasan permukiman yang kian pesat. Banyak bangunan rumah didirikan tanpa mempedulikan estetika, kesehatan, dan sarana prasarana permukiman yang layak.

Permasalahan lingkungan yang sering dihadapi warga setiap tahun pada musim penghujan adalah banjir. Pasalnya jelas, jalan lingkungan belum memiliki saluran drainase yang dapat mengalirkan limpasan air hujan dengan baik. Jalan tanah lingkungan permukiman becek membuat aktivitas warga terhambat dan kurang nyaman untuk dilalui. Permasalahan sampah juga menambah kumuhnya lingkungan permukiman tersebut. Sungai-sungai kecil dan lahan kosong menjadi tempat favorit warga untuk membuang sampah rumah tangga.

Namun memang, di awal tak mudah mengubah pemahaman warga untuk mulai sadar dan mau turun tangan bergotong royong buat menata ulang wilayahnya. Apalagi bila menyoal pembangunan fasilitas umum yang “terpaksa” memapas tanah pribadi. Syukurlah belakangan, berkat niat baik, kesadaran, dan kolaborasi banyak pihak kendala yang ada tuntas hingga ke akarnya.

Bahkan, warga maksimal berkontribusi dalam proses pembangunan. Mulai dari menyediakan konsumsi bagi tenaga kerja, kerja bakti membersihkan lahan dan membantu memindahkan pasokan material, hingga swadaya mengumpulkan uang untuk penambahan volume pembangunan jalan lingkungan.

Hasil akhir pembangunan Program Kotaku yang menggunakan anggaran Bantuan Dana Investasi (BDI) PLPBK 2017 patut diacungi jempol. Sebab mayoritas pembangunan penataan lingkungan melambung dari rencana yang sudah ditetapkan.

Tengoklah jalan paving block dengan kanstin yang menurut rencana dibuat sepanjang 489,5 meter persegi, pada realisasi pembangunannya mencapai 543,5 m2. Drainase di bawah jalan paving dengan bak kontrol dengan saluran O-30 mencapai panjang 277 m dari 215 m pada perencanaan awal. Talud sungai yang ditambah pagar pengaman mencapai 129,15 meter kubik dari rencana 127,16 m3. Jembatan, mendapat penambahan satu unit menjadi dua untuk akses jalan tembus lingkungan. Selain itu saluran U-40 dan plat Duiker mencapai 161 dari 166 m perencanaan.

Pergola tepat tersedia sejumlah empat unit sesuai rencana. Begitu juga dengan penerangan jalan RT sebanyak delapan unit. Untuk keindahan lainnya tersedia kursi taman sebanyak delapan dari empat unit yang direncanakan. Ada satu paket penghijauan sesuai rencana untuk keindahan dan ruang terbuka hijau setempat. Yang di luar perencanaan adalah jalan beton dengan fondasi sepanjang 50 meter, hasil swadaya gotong royong warga untuk akses jalan lingkungan.

Dalam rangka pemanfaatan dan pemeliharaan, warga bersama pelaku Program Kotaku dan pemerintah daerah setempat menyepakati Aturan Bersama. Poin-poin penting di antaranya adalah melarang pembangunan rumah pada sempadan sungai, di atas sungai, dan kawasan lindung. Arah setiap rumah harus menghadap jaringan jalan atau sungai. Saat membangun rumah, harus memberi jarak kurang lebih dua meter antara rumah dan jalan atau sungai. Di setiap pembangunan rumah pun, warga wajib menyisakan 30 persen lahan sebagai ruang terbuka. Setiap rumah dijadikan rumah produktif dengan memanfaatkan pekarangan dan jalan dengan sayuran, bunga, kolam, buah, dan lokasi pengelolaan sampah.

Rumah Layak dan Sehat adalah komitmen lainnya yang wajib memiliki: ventilasi udara, jendela, sinar matahari masuk rumah, dinding dan lantai kering serta tidak lembab, serta jamban dan pondasi yang sesuai standar teknis.

Ternak unggas di skala kecil (rumahan) harus di kandang dan tak dibiarkan berkeliaran di area permukiman. Sementara ternak skala besar (peternakan) dilarang berada di tengah-tengah permukiman.

Setiap industri yang berada di permukiman harus menangani pembuangan limbah dan sirkulasi. Kebersihan lingkungan adalah tanggung jawab bersama, sehingga kerja bakti harus dilaksanakan secara berkala: dua pekan sekali setiap Jumat sore.

Urusan saluran air, semua ruas jalan harus dilengkapi saluran drainase sesuai standar teknis. Perawatan saluran tersebut dibersihkan secara rutin dan menjadi tanggung jawab lingkungan masing-masing. Sampah yang dikumpulkan di tempat sampah akan dibuang ke Tempat Penampungan Akhir (TPA) setiap 1-3 hari. Yang pasti, dilarang buang air besar di sungai atau di saluran sungai atau irigasi.

Pemeliharaan dan penjagaan fasilitas umum adalah tanggung jawab bersama, termasuk tumbuh-tumbuhan yang harus dirawat dan dipelihara seluruh warga. Bantaran sungai tak diizinkan ditanami tumbuhan keras dan besar, hanya boleh tanaman perdu yang tak mengganggu kelancaran debit air. Ruang terbuka di sepanjang bantaran sungai adalah keharusan.

Penataan itu semua sudah mengubah potret kumuh di Kelurahan Kedungwuni Timur. Bagaimana dengan wilayah Anda? [KMP-2]

 

Penulis: Maizil Jalaluddin, TA Urban Planner KMP Kotaku wil.2

Editor: Epn

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.