Beranda Warta Berita Pengembangan Komunitas Bangun Permukiman Perkotaan Tangguh Bencana

Pengembangan Komunitas Bangun Permukiman Perkotaan Tangguh Bencana

Berita Workshop Seminar Surabaya Jawa Timur Comments (0) View (167)

“Cities” adalah kegiatan tahunan yang diselenggarakan Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Institut Teknologi Surabaya (ITS). Sejak berdirinya PWK ITS pada 2002, Seminar “Cities” telah diselenggarakan beberapa kali, mulai 2005 hingga 2018. Seminar yang bertujuan mengeksplorasi kemajuan pada teknologi berbasis penelitian, praktik perencanaan antardisipliln ilmu, dan untuk mempromosikan kegiatan penelitian ini mengusung tema “Spatial Economic Transport Interaction For Sustainable Development”. Kegiatan melibatkan berbagai akademisi, peneliti, dan profesional, yang akan berbagi konsep, ide, dan pengalaman mereka.

Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) telah membangun komitmen bersama untuk saling mendukung dengan ITS, khususnya Departemen PWK dalam rangka penanganan permukiman kumuh di Jawa Timur, melalui Program Kotaku, Ditjen Cipta Karya, Direktorat Bangkim, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Program Kota Tanpa Kumuh berkontribusi mendukung kegiatan tersebut dalam sesi workshop, yang diselenggarakan pada 25 Oktober 2018. Materi yang disajikan, antara lain, “Implementasi Penanganan Permukiman Kumuh di Jawa Timur”, juga membahas “Gagasan Pengembangan Komunitas dalam Rangka Membangun Permukiman Perkotaan Tangguh Bencana”.

Hal ini selaras dengan arah dan kebijakan dan strategi RPJMN (2015-2019), khususnya pada aspek pembanguan kota hijau yang berketahanan iklim dan bencana. Yakni, meningkatkan kapasitas masyarakat dan kelembagaan dalam membangun ketahanan kota terhadap perubahan iklim dan bencana. Ini sejalan dengan kenyataan bahwa lingkungan perkotaan, khususnya di kawasan kumuh di Jawa Timur, 1.792 Hektare dari total luasan kumuh Jawa Timur berada di lokasi Program Kotaku, kesemuanya sangat rentan bencana kebakaran, banjir, serta bencana alam lainnya.

Maksud dan tujuan kegiatan workshop “Cities 2018” ini adalah menumbuhkan kesadaran bersama sekaligus membangun komitmen semua pihak untuk pertama, melakukan pencegahan dan peningkatan kualitas perumahan dan permukiman kumuh di Jawa Timur dengan mengedepankan peran pemda sebagai motor (nakhoda) dalam menggerakkan kolaborasi dengan pelibatan semua pihak dan peran aktif masyarakat. Kedua, mengurangi risiko bencana dan membangun ketangguhan dengan pelibatan semua pihak dan komunitas yang ada khususnya di wilayah perkotaan dengan mengambil pembelajaran atas pelaksanaan program Kotaku. Ketiga, membangun jaringan koordinasi kemitraan antarpemerintah, kalangan akademisi dan masyarakat dalam upaya pencegahan dan peningkatan kulitas permukiman kumuh serta penanggulangan bencana khususnya di wilayah perkotaan serta menghimpun gagasan dan masukan dalam rangka penanganan permukiman kumuh dan pembangunan berkelanjutan yang tangguh terhadap bencana.

Peserta yang hadir dalam kegiatan workshop adalah dari Pokja PKP provinsi dan kabupaten/kota, akademisi, pendamping Kotaku, mahasiswa dan pemerhati. Narasumber yang dihadirkan antara lain, Kepala Satker Pengembangan Kawasan Permukiman Berbasis Masyarakat (PKPBM) Program Kotaku Mita Dwi Aprini, Community Development Specialist The World Bank Indonesia Parwoto Tjondro Sugianto, A. Shonhaji Mu’thi dari Program Kotaku Provinsi Jawa Timur, dan Win Lestari dari Departemen Geofisika ITS.

Acara dibuka oleh Lektor Sekretaris Departemen PWK ITS Dian Rahmawati ini dibagi ke dalam dua sesi. Sesi pertama adalah Focus Group Discussion (FGD) peserta tentang ide menciptakan lingkungan yang tangguh. Sesi kedua adalah panel narasumber.

Dalam paparannya, Kasatker PKPBM Mita Dwi Aprini menegaskan tentang peran Program Kotaku dalam penanganan bencana di Indonesia. Utamanya melalui dukungan penganggaran, bantuan teknis dan lain-lain. Termasuk adanya Program Pengurangan Risiko Bencana Berbasis Komunitas (PRBBK) dengan 6 kota/kabupaten di Indonesia, di mana 3 di antaranya terdapat di Jawa Timur, yaitu Gresik, Surabaya, dan Sidoarjo.

“Karena Indonesia termasuk rawan bencana, di antaranya gempa, tsunami, dan longsor, diperlukan upaya mitigasi untuk mengurangi dampaknya. Diharapkan pula dana cadangan bencana dipastikan ada dalam anggaran daerah maupun Pusat,” tegasnya.

Sementara itu, Community Development Specialist The World Bank Indonesia Parwoto Tjondro Sugianto mengulas tentang masyarakat sejahtera sebagai landasan kota tanpa kumuh yang tangguh. Menurutnya, masyarakat sejahtera menjadi unsur hakiki atau determinan variable yang harus ada agar terjadi kota tanpa kumuh yang tangguh. Karena masyarakat sejahtera menjadi determinan variabel maka pertanyaannya adalah bagaimana membangun masyarakat sejahtera, agar kita dapat membangun kota tanpa kumuh yang tangguh.

“Membangun dari aset kota sendiri untuk mewujudkan itu. Dengan menggunakan komunitas-komunitas tersebut sebagai pemicu pertumbuhan ekonomi lokal, sehingga nantinya tidak lagi dibutuhkan investasi lain dari luar,” tegasnya.

Adapun Organisation for Economic Co-operation and Development. OECD menekankan bahwa ada 4 faktor kunci yang mendorong ketahanan suatu kota yaitu tata kepemerintahan yang baik, ekonomi kota yang inklusif, masyarakat kota yang inklusif tapi memiliki kohesi yang tinggi, dan lingkungan yang memiliki ekosistem yang mantap dan bervariasi dengan pelayanan infrastuktur yang dapat memenuhi kebutuhan dasar. Termasuk juga tambahnya, menjadi hal yang baik terkait dengan menanamkan mainstream bencana dimulai dari tingkat paling dasar. Jepang misalnya sudah menerapkan kepada anak-anak sekolah dasar untuk memahami tanda-tanda bencana sehingga dapat meminimalkan dampak buruk terjadinya bencana.

Pada kesempatan yang sama, A. Shonhaji Mu’thi menyampaikan implementasi Program Kotaku dalam penanganan kumuh di Jawa Timur yang menggambarkan tentang capaian, strategi dan skenario penanganan kumuh. Termasuk di dalamnya tentang kolaborasi para pihak.

Narasumber terakhir adalah Win Lestari, yang sanggup membuat seisi ruangan peserta menjadi ramai. “Indonesia dikelilingi 3 lempeng besar dan 9 lempeng kecil. Dan apabila dilihat di peta titik-titik gempa seperti semut yang sedang bergerombol. Ini menandakan bahwa potensi gempa tinggi terjadinya di Indonesia. Di Surabaya sendiri ada dua sesar, yang pertama sesar Surabaya yang patahannya mulai kawasan Keputih hingga Cerme, Gresik. Dan sesar kedua disebut sesar Waru yang patahannya mulai dari Rungkut hingga Jombang.” Sedangkan dari jenis tanah termasuk Aluvium, yaitu tanah rombakan, bekas sedimentasi dan lapisan lunaknya tebal sehingga memungkinkan akan semakin terasa kalau ada getaran ketika terjadi gempa.

Di akhir acara disimpulkan terkait beberapa isu di FGD dan pembahasan narasumber bahwa penting untuk mengetahui dan menyadari tentang lokasi-lokasi rawan bencana dalam implikasinya terhadap perencanaan dan perlunya mitigasi bencana serta meningkatkan kapasitas komunitas di masyarakat. Dengan sosialisasi aktif stakeholder terkait hal ini, akan meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mitigasi dan mengurangi dampak yang mungkin terjadi akibat bencana-bencana yang terjadi. Semoga. [Jatim]

 

Penulis: Eddy Iwantoro, Korkot KOTAKU Surabaya, OSP Kotaku Provinsi Jawa Timur

Editor: Nina Razad

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.