Beranda Warta Cerita Kolaborasi Atasi Kumuh Kampung Bugis Kepri

Kolaborasi Atasi Kumuh Kampung Bugis Kepri

Cerita Kepulauan Riau Tanjungpinang Kolaborasi Comments (0) View (101)

Kesadaran masyarakat dan pemerintah adalah poin utama terpenting untuk mengatasi permasalahan kumuh, yang tentunya mesti mendapat penanganan serius. Contohnya buat Kampung Bugis, Tanjungpinang, Kepulauan Riau, yang wilayah di pesisir pantainya terdeteksi kumuh. Merujuk hasil Memorandum Program di Kota Tanjungpinang, satu target dalam kegiatan penanganan kumuh di Gugus Wilayah (Cluster) 1 yang bakal dilakukan adalah membangun Kampung Bugis.

Permasalahan di Kampung Bugis dimulai dari ketidakteraturan bangunan dengan luas jalan lingkungan yang kurang dari 1,5 meter. Belum lagi soal sanitasi atau pengelolaan air limbah yang tak sesuai standar teknis. Hampir semua rumah di sana tidak memiliki tangki septic, sehingga air limbah rumah tangga langsung dialirkan ke laut. Kebutuhan sarana air bersih juga belum tercukupi kebutuhannya. Air mengalir ke rumah warga rata-rata dua hari sekali.

Persoalan lain datang dari sampah seperti plastik, gabus, kemasan makanan atau minuman yang dibawa air laut saat pasang. Ketika surut, tak pelak sampah-sampah tersebut tersangkut atau tertinggal dan menumpuk di tiang-tiang di bawah rumah warga. Selama ini masyarakat setempat berupaya mengantisipasi permasalahan sampah dengan bergotong-royong memunguti sampah tadi.

Dalam Memorandum Program Kota Tanjungpinang disebut bahwa pemerintah daerah hadir sebagai nakhoda—yang berarti sebagai pelaku utama dan motor penggerak dalam pembangunan—untuk mengurangi luasan kawasan kumuh di wilayahnya, dan menempatkan masyarakat sebagai subjek pembangunan. Sedangkan pemerintah pusat akan memberikan dukungan berupa kebijakan, pedoman, subsidi pembangunan infrastruktur, dan bantuan teknis lainnya.

Beberapa strategi pencegahan kawasan di kawasan kumuh prioritas harus didasarkan pada upaya menanggulangi faktor-faktor penyebab kumuh, yang bersifat langsung maupun tidak. Penyelesaian permasalahan lingkungan kumuh pun tak dapat dilakukan satu unit atau dinas, tetapi membutuhkan keterpaduan kegiatan dan kolaborasi dari setiap dinas yang akan berdampak terhadap perbaikan lingkungan kumuh.

Strategi utama untuk mencegah lingkungan permukiman kumuh Kampung Bugis adalah melaksanakan pengendalian secara terpadu melalui proses Memorandum Program. Apalagi semua organisasi perangkat daerah (OPD) sepakat berkolaborasi dan berkomitmen dalam melaksanakan program, menjalani kegiatan pembangunan, serta membuat anggaran untuk penanganan dan pencegahan permukiman kumuh. Berdasarkan hasil kesepakatan data deliniasi kawasan kumuh Kota Tanjungpinang, Cluster 1 yang menjadi prioritas pencegahan dan penanganan permukiman kumuh 2018 adalah kawasan Kampung Bugis - Senggarang. Selanjutnya, Cluster 2 dan Cluster 3 akan ditangani pada 2019 dan 2020.

Bentuk kolaborasi yang dilakukan untuk mengatasi kumuh di Kampung Bugis mulai dari berbagi data baseline dan duduk bersama dalam perencanaan dengan semua para pemangku kepentingan. Momentum kolaborasi dilakukan pada saat pelaksanaan Memorandum Program dari Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan (MP - RP2KPKP). Dampak kolaborasi yang diharapkan adalah permasalahan penataan permukiman dapat diatasi secara bersama dengan berkontribusi sesuai bidang masing-masing.

Saat berkolaborasi, semua pihak menjalankan tugas sesuai kesepakatan yang telah dibuat di dalam timeline, baik kegiatan fisik ataupun nonfisik. Badan keswadayaan masyarakat (BKM) juga sangat antusias menjalankan perannya dengan mengawasi kegiatan proses penataan permukiman masyarakat. Dan pascakolaborasi, kini kondisi di Kelurahan Kampung Bugis sudah tak kumuh lagi secara numeris. [KMP-1]

 

Penulis: Vhany Medina, Asisten Publikasi KMP Program Kotaku wil. 1

Editor: Epn

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.