Beranda Warta Cerita Bila Gayung Bersambut di Tanah Sibolga

Bila Gayung Bersambut di Tanah Sibolga

Sumatra Utara Cerita Sibolga Comments (0) View (441)

Tak hanya tanah Belanda yang sebagian keberadaannya berada di bawah permukaan laut. Di negeri ini, Kelurahan Aek Muara Pinang pun demikian. Secara topografi, kawasan di Kecamatan Sibolga Selatan, Kota Sibolga, Provinsi Sumatra Utara itu juga berada di bawah ketinggian air laut. Tak heran bila banjir adalah hal biasa di sana. Tak butuh musim hujan datang, di bawah guyuran air hujan selama beberapa jam saja wilayah tersebut bakal terendam hingga ketinggian satu meter. Belum ditambah air limpasan dari arah Kelurahan Aek Parombunan di areal perbukitan. Apalagi bila pasang air laut datang, permukiman padat penduduk Aek Muara Pinang spontan menjadi kawasan hunian dalam kolam.

Pemerintah Kota Sibolga tentu tak berpangku tangan atas kondisi tadi. Beragam upaya dilakukan, termasuk reguler menyelenggarakan gotong royong massal membersihkan sampah dan kotoran yang menjadi penyebab utama aliran air tersumbat. Termasuk di antaranya, menggaet Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) yang sejalan dengan visi pembangunan Kota Sibolga: Kota Jasa yang Nyaman, Aman, Unggul, Lestari, dan Indah di Kawasan Pantai Barat Sumatra Utara.

Aksi menyingsingkan lengan baju dimulai. Pemerintah daerah meyakinkan masyarakat ihwal rencana pembangunan dengan segala konsekuensinya. Ajang urun rembuk acap dilakukan, musyawarah digelar demi sebuah perencanaan yang baik buat semua pihak. Misalnya saja, seluruh bangunan rumah akan berada di bawah jalan lingkungan dan parit buat drainase lantaran sarana dan prasarana tersebut akan dibangun dinaikkan setinggi satu meter. Bangunan tambahan yang juga dibangun di atas parit pun mesti dibongkar, termasuk kos-kosan—istilah kandang ternak yang ada di sekitar bantaran sungai. Tujuannya jelas, parit dan sungai akan dikembalikan ke fungsi asalnya.

Awal Agustus 2018 pun menjadi momentum penting wilayah tersebut. Sederet pembangunan berbasis kegiatan Bantuan Dana Investasi (BDI) Penataan Lingkungan Permukiman Berbasis Komunitas (PLPBK) 2018 langsung digelar. Berdasarkan anggaran dan perencanaan, pembangunan tersebut menghabiskan uang BDI sebesar Rp 1,5 miliar ditambah dana swadaya masyarakat sebesar Rp 50 juta.

Saking antusias dengan perubahan yang lebih baik, warga spontan ikut aktif, termasuk kaum wanita. Bahkan sejumlah ibu-ibu ikut menjadi buruh kasar, seolah membuktikan ingin berbagi yang terbaik buat lingkungannya. Aksi para perempuan itu mengundang decak kagum Tim Satuan Kerja Pembangunan Infrastruktur Permukiman (Satker PIP) yang dipimpin Pejabat Pembuat Komitmen Provinsi Sumut Etty Maulida saat berkunjung ke Kelurahan Aek Muara Pinang. Kepedulian pemerintah bak gayung bersambut animo masyarakat.

Pembangunan infrastruktur terfokus pada peninggian dinding drainase dan jalan setinggi satu meter dari kondisi semula. Areal yang menjadi target pembangunan di Kelurahan Aek Muara Pinang ini adalah Jalan Kader Manik, Jalan Kuali, dan Jalan Periuk. Nantinya, masyarakat yang terdampak pembangunan tersebut akan ikut menaikkan bangunan rumahnya sesuai ketinggian jalan secara swadaya.

Wali Kota Sibolga Syarfi Hutauruk mengapresiasi kegiatan Program Kotaku yang dilaksanakan melalui Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Aek Muara Pinang. Dia pun menginstruksikan Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Kawasan Pemukiman dan Lingkungan Hidup (PKPLH) setempat buat mendukung penanganan banjir dan kumuh. Di antaranya, untuk penataan wilayah terintegrasi dan pengadaan tong sampah. Selain itu Dinas PU juga diminta meneruskan pembangunan dinding tanggul di sepanjang Sungai Aek Muara Pinang supaya banjir tuntas teratasi. Semoga. [Sumut]

Dokumentasi lainnya:

 

Penulis: Nurhalimah Nasution, Koordinator Kota 04 Sibolga-Padangsidimpuan, KMW Sumatra Utara

Editor: Epn

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.