Beranda Warta Cerita Kolaborasi Mengubah Wajah Desa Polan Jadi Desa Wisata Edukasi

Kolaborasi Mengubah Wajah Desa Polan Jadi Desa Wisata Edukasi

Cerita Jawa Tengah Klaten Desa Edukasi Desa Wisata Comments (0) View (931)

Intervensi Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) di Desa Polan, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah melahirkan Desa Wisata Edukasi bagi lokasi ini. Betapa tidak, Desa Polan ternyata memiliki potensi tinggi, yang juga dikenal sebagai “pentagonal asset”, yakni aset alam, sumber daya manusia (SDM), sosial, fisik, bahkan keuangan. Melalui kolaborasi antara Program Kotaku, pemerintah setempat, swasta, dan relawan, terbentuklah branding “Desa Wisata Edukasi” pada 2018 ini.

Apa saja pentagonal asset yang dimiliki Desa Polan? Sebut saja, sungai yang bersih, tanah Kas Desa, lahan pertanian nan subur, Lembaga Keswadayaan Masyarakat (LKM) yang solid, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), kelompok tani, kelompok bank sampah yang sangat mumpuni dan punya motivasi untuk memajukan Desa Polan. Belum lagi adanya hubungan baik antarwarga, semangat gotong royong, dan kepedulian masih sangat tinggi di Desa Polan. Adapun aset fisik, antara lain, jalan, bangunan, jaringan air bersih, kolam renang, kolam ikan, dan Rumah Joglo Tani. Sedangkan aset keuangan, ada BUMDes, Unit Pengelola Keuangan (UPK), Bantuan CSR swasta, dana desa, swadaya, dan tabungan sampah.

Dengan memanfaatkan aset-aset tersebut, Desa Polan menciptakan suatu wisata baru yang menawarkan edukasi bagi masyarakat tentang pengelolaan sampah untuk usia dini, sebagai lokasi studi belajar pengelolaan sampah organik dan non-organik. Tak heran jika banyak siswa PAUD bahkan usia dewasa, mengunjungi lokasi ini dalam rangka belajar mengelola sampah secara tepat dan dapat bermanfaat. Sebut saja: penabungan sampah, pengelolaan sampah komposter, kreasi sampah, serta demplot tanaman verticulture di botol aqua dengan menggunakan pupuk komposter cair.

Kolaborasi dalam pengelolaan sampah tersebut juga membidani terbentuknya bank sampah. Sumbangsih dari Program Kotaku terkait pencegahan kumuh menghasilkan 42 tong layak buang dan 25 tong komposter (total 67 tong) dengan sumber dana dari alokasi laba UPK. Kesemuanya didistribusikan ke empat bank sampah, yaitu Bank Sampah Saras Watra—di Dukuh Ploso RT 01/RW 01 dan RT 01/RW 02, Bank Sampah Margo Saras—di Dukuh Margorejo RT 01/RW 03 dan Karang Gedongan RT 01/RW 04, Bank Sampah Uwuh Mulyo—di Dukuh Tegal Mulyo RT 01/RW 05, dan Bank Sampah Karang Indah—di Dukuh Karanggeneng RT 01/RW 06 dan Karangturu RT 02/RW 06.

Setiap bank sampah sudah menerapkan sistem penabungan sampah. Setiap bulannya, hasil dari tabungan sampah yang dikumpulkan akan dibelikan untuk kebutuhan Sembako dari harus di warung tetangga. Hal ini diyakini bisa meningkatkan perekonomian setempat.

Selain edukasi pengelolaan sampah, Desa Polan juga mempunyai “Joglo Tani” yang menawarkan tempat pertemuan kelompok tani, penangkaran burung Tito Alba (burung pemangsa hama tikus) yang mendukung pertanian, budi daya tikus putih untuk makanan burung Tito Alba, budi daya anggrek, perkebunan buah, bahkan lokasi outbound dengan permainan dan motor ATV, dan sebagainya.

Kepedulian warga dalam penataan lingkungan juga muncul. Sungai yang dulu hanya sebagai pengairan irigrasi dan aktivitas masyarakat (seperti BABS, mencuci, mandi dan juga tempat membuang sampah), sekarang dibersihkan dan digunakan untuk outbond Keli Kelen (tubing sungai). Lokasi lahan kosong juga dibangun kolam renang bagi anak-anak. [Jateng]

Ikuti video tentang Desa Polan dari Tim Korkot Klaten berikut ini:

 

Penulis: Tim Asisten Kota (Askot) Mandiri Kabupaten Klaten, OSP/KMW Kotaku Provinsi Jawa Tengah

Editor: Nina Razad

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.