Beranda Warta Cerita LKM Sanua Mandiri-Bank Indonesia Kolaborasi Penghijauan Hidroponik

LKM Sanua Mandiri-Bank Indonesia Kolaborasi Penghijauan Hidroponik

Cerita Sanua Kolaborasi Sulawesi Tenggara Comments (0) View (105)

Kelurahan Sanua kembali berkiprah, khususnya Lembaga Keswadayaan Masyarakat (LKM) Sanua Mandiri. Setelah sukses terus aktif melaksanakan kolaborasi dan tak lagi bergantung pada bantuan pemerintah, kini LKM Sanua Mandiri cepat menangkap peluang yang ditawarkan Bank Indonesia Cabang Provinsi Sulawesi Tenggara dalam bentuk kolaborasi yang dititikberatkan pada penghijauan lewat tanaman hidroponik.

Bank Indonesia memang meluncurkan kegiatan dengan nama Program Mas Kendari (masyarakat sadar inflasi). Program tersebut dialokasikan bagi 11 kelurahan, dan satu di antaranya adalah Kelurahan Sanua.

Awalnya program tersebut diperuntukkan bagi kelompok wanita tani (KWT) dan Gabungan Kelompok Petani (gapoktan), yang sudah langsung dilaksanakan di beberapa kelurahan. Proses penjajakan dan belajar versi LKM Kelurahan Sanua pun dilaksanakan secara pararel—di bawah pendampingan dari Tim Koordinator Kota Program Kotaku—khususnya untuk menjajaki wacana kolaborasi di jajaran Pemerintah Kota Kendari.

Bank Indonesia juga menggandeng Kementerian Pertanian untuk berbagi peran. Bank BI dari segi pendanaan dan Kementan dalam bentuk bibit, paranet, polibag, dan pupuk serta pendampingan pelatihan. Di antaranya pelatihan membuat pupuk organik, pupuk cair dari limbah makanan, dan pembuatan pupuk kandang selama dua hari. Pelatihan tersebut diikuti oleh warga Sanua serta pengurus LKM.

Kondisi pengembangan penghijauan lewat tanaman hidroponik menjadi titik awal rencana Go Green yang dicanangkan Pemda Kendari, sebagai bagian dari Program Smart City. Bak gayung bersambut, kolaborasi ini dilaksanakan Kelurahan Sanua yang masih terus berupaya mandiri dengan beragam terobosan untuk menciptakan hunian layak huni yang berkelanjutan.

Kini Kelurahan Sanua bertambah cantik, hijau, dan rimbun. Di saat panen, tanaman hidroponik memberikan dampak yang cukup besar untuk mengisi ruang ruang yang kosong di sekitar Lorong Lasolo. Warga pun dengan mudah memetik kangkung, sawi, tomat, dan tanaman lainnya yang sehat, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari tanpa harus ekstra merogoh kocek. [PL]

Dokumentasi lainnya:

 

Penulis: Juli Eka Ernawati, Relawan/Mantan TA Urban Planner OSP/KMW Kotaku Provinsi Sulawesi Tenggara

Editor: Epn

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.