Beranda Warta Cerita Air So Dekat, Kisah Air Mengalir dari Katangka

Air So Dekat, Kisah Air Mengalir dari Katangka

Cerita Sulawesi Selatan Katangka Gowa Comments (0) View (76)

Rabu, 25 Juli 2018, bebatuan di lahan milik Syarifuddin Daeng Nyampa di Kelurahan Katangka bergetar hebat. Namun tak ada mimik panik dan paras cemas di wajah kerumunan warga di wilayah Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan, yang mengerumun berkumpul pagi itu. Mereka malah tampak antusias menanti yang telah lama ditunggu: air. Menit demi jam berlalu, hingga akhirnya warga melangkah pulang dengan kepala tertunduk lesu. Begitu terus terjadi hingga beberapa hari.

Ada kemajuan pesat di hari keempat pengeboran. Utamanya saat mata bor menyentuh kedalaman 45 meter, tempat bebatuan yang sudah tak terlalu keras lagi buat ditembus. Dan cerita lama kesedihan terhapus sudah di hari ketujuh, saat pengeboran mencapai kedalaman 103 meter. Pengeboran harus segera dihentikan sesuai rekomendasi Tim Geolistrik yang hadir mendampingi.

Perlahan warga mulai menurunkan pompa air celup untuk menguji kondisi air. Detik-detik menegangkan terbayar saat kucuran pertama air muncul di ujung pipa. Memang warnanya masih keruh kegelapan lantaran masih bercampur lumpur dan serpihan batu sisa pengeboran. Namun itu sudah cukup buat kerumunan warga yang menyaksikannya, seraya berseru penuh syukur: Alhamdulillah. Air so dekat!

Singkat cerita, tibalah pada pekerjaan konstruksi pembangunan bak air pembagi (reservoir). Untunglah pengerjaan infrastrukturnya dibantu tenaga kerja yang terampil sesuai rencana, mutu kualitas, dan manfaatnya.

Tak semua berjalan mulus, memang. Di tahap pekerjaan pemasangan pipa distribusi dan sambungan rumah, ada persoalan pengadaan meteran pengukur penggunaan air. Beberapa warga menolak membeli secara swadaya meteran air yang nantinya bakal terhubung ke kediaman masing-masing. Untunglah, dengan modal kepercayaan sebuah toko pengadaan meteran mau membuka akses pembayaran dengan sistem angsuran.

Pekik riang kegirangan spontan terlontar: “Air sudah masuk rumah!” “Horeee, saya sudah rajin mandi subuh!!!”

Momentum kehadiran air seperti itu memang tak lazim di Katangka. Maklumlah, letak wilayah kelurahan ini berada di dua kondisi alam yang berbeda: 6 rukun warga bermukim di wilayah ketinggian dan berbatuan, dan dua RW lainnya di areal datar, di kaki bukit berbatuan tersebut. Kedua RW acap menjadi langganan genangan air bila musim penghujan tiba.

Kebutuhan akses air bersih layak minum adalah mimpi lama warga Kelurahan Katangka. Program  Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP)—yang berganti nama menjadi  Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan (PNPM Mandiri Perkotaan)—sudah menggelar rencana pembangunan infrastruktur pada 2007. Kegiatannya diisi dengan pemetaan swadaya yang menghasilkan kebutuhan air bersih di dua RW di kelurahan setempat. Sayangnya, alokasi dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) tak cukup membiayai kegiatan tersebut.

Harapan perubahan masih menggantung di awan. Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) hadir dengan mengalokasikan Bantuan Dana Investasi (BDI) sebesar Rp 500 juta yang diperuntukkan bagi penataan lingkungan yang dikelola masing-masing kelompok swadaya masyarakat (KSM) pada 2017. Namun dana tersebut diprioritaskan pada pembangunan jalan ber-paving block dan drainase. Sementara rencana kegiatan pengadaan air bersih layak minum belum bisa terealisasi. Syukurlah, pada Juni 2018 akhirnya Kelurahan Katangka masuk ke dalam Daftar Isian Pagu Anggaran (DIPA) BDI Program Kotaku sebesar Rp 1,5 triliun melalui BKM Syekh Yusuf Sejahtera. Tim Perencana Partisipatif (TPP) Program Kotaku langsung membuat rencana pembangunan dua unit sumber air bersih yang dilengkapi hidran umum (alat proteksi kebakaran).

Alasannya jelas, urusan akses air bersih memang momok lama buat Kelurahan Katangka. Sudah puluhan tahun warga kesulitan mendapatkan akses air bersih. Untuk mendapatkan air, mereka mesti berjalan kaki menjinjing ember, memikul jeriken, atau mendorong gerobak penuh air naik ke perbukitan. Masyarakat terpaksa membeli air yang dijual anak-anak—sebelum dan sepulang sekolah—atau warga dewasa, setiap hari. Animo masyarakat amat antusias dengan rencana tadi. Bahkan, beberapa di antaranya langsung menawarkan lahannya untuk pembangunan sumber air bersih dalam bentuk hibah.

Sejalan dengan itu, TPP membentuk kelompok swadaya masyarakat (KSM), untuk menjadi panitia pelaksana kegiatan tersebut. Hanya dalam beberapa hari kemudian, konsolidasi digelar bersama tim teknik, KSM dengan pembuatan rencana anggaran biaya (RAB) dilengkapi gambar desain dan gambar kerja yang dituangkan dalam bentuk proposal kegiatan untuk diajukan ke BKM.

Lagi-lagi tantangan belum memuluskan rencana. Warga yang sedianya menyediakan lahan untuk pembangunan menara sumber air mendadak membatalkan niat. Untunglah, Syarifuddin Daeng Nyampa tak bergeming. “Saya siap memberikan lahan depan rumah saya untuk dibangun menara sumber air dengan ikhlas,” kata dia.

Pengorbanan Syarifuddin tak sia-sia. Kini, ketersediaan air bersih layak minum tak lagi menjadi persoalan di Kelurahan Katangka. Kisah air mengalir dari Katangka sudah menjadi nyata. Sekarang, air so dekat. [PL-Sulsel]

 

Penulis: Abd. Rahman Dg. Masikki, UPL BKM Syekh Yusuf Sejahtera, Kelurahan Katangka, Gowa

Editor: Epn

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.