Beranda Warta Cerita Kiprah Ibu Lurah dari Sei Bilah

Kiprah Ibu Lurah dari Sei Bilah

Cerita Sumatra Utara Langkat Comments (0) View (412)

Belakangan sering dibahas ihwal persamaan gender, yang terfokus pada strategi mengikutsertakan perempuan seperti dalam pembangunan, galibnya di dunia laki-laki. Pasalnya jelas, jumlah kehadiran perempuan masih jauh dari harapan kesetaraan. Fakta tersebut, menurut kaum feminis, juga disebabkan rendahnya kualitas sumber daya manusia perempuan itu sendiri. Selain tentu saja ada faktor kurang terbukanya akses perempuan dalam hal perbaikan sumber daya. Buntutnya, kaum perempuan semakin diyakini tidak dapat bersaing dengan kaum laki-laki di dalam pembangunan.

Sebenarnya fenomena tersebut sudah mulai bergeser berubah di berbagai aspek kehidupan. Sebab belakangan kemampuan peranan perempuan telah berkembang menjadi pemberdayaan yang berarti meningkatkan kualitas dan peran pada semua aspek kehidupan baik secara langsung atau tidak langsung. Caranya adalah melalui penciptaan situasi-situasi yang kondusif sebagai motivator dan akselerasi proses pembangunan.

Contoh yang motivator hadir di Sumatra Utara, tepatnya di Kelurahan Sei Bilah Barat di Kecamatan Babalan, Kabupaten Langkat. Wilayah ini menjadi kelurahan yang baru pertama kali dipimpin seorang lurah perempuan. Dan Evi Diana membuktikan kemampuannya berbuat seperti kaum laki-laki, mampu berpartisipasi dalam pembangunan, terutama dalam penanganan kumuh di kelurahannya. Perempuan satu ini menunjukkan bahwa penanganan kumuh bisa melibatkan seluruh warga untuk ikut serta beraksi, seperti gotong royong. Kesadaran tentang budaya bersih lingkungan pun sukses ditanamkan Evi bagi warganya.

Wanita kelahiran 43 tahun lampau itu tak menampik porsi kualitas perempuan dalam pembangunan yang masih sangat rendah. Lantaran itulah, istri seorang guru di SMP Kecamatan Babalan ini mengamini fakta tadi sebagai penyebab peran kaum perempuan tertinggal dalam segala hal. Berbekal itu, ibu empat anak ini—tiga laki-laki dan satu perempuan—penuh semangat ingin selalu membuktikan bahwa ternyata perempuan bisa melakukan hal tersebut, sama halnya dengan kaum laki-laki. “Jangan dipandang sebelah mata,” kata sosok pribadi yang santun, lembut, dan tulus kepada siapa pun itu.

Evi merinci, peran perempuan dalam mendorong pembangunan dapat dilihat dari tiga aspek. Pertama soal peran tradisi atau peran domestik yang berkaitan dengan pekerjaan rumah tangga. Perempuan yang berhasil mengelola rumah tangga dengan baik akan menjadi inspirasi dan motivator bagi pelaku pembangunan. Yang kedua adalah peran transisi yang berkaitan dengan garapan lahan pertanian atau bekerja di usaha keluarga. Dan yang terakhir, menurut Evi, adalah peran kontemporer seperti perempuan yang memiliki peran di luar rumah tangga atau disebut wanita karier. Peran tersebut menunjukkan bahwa baik langsung maupun tidak langsung sebenarnya perempuan mempunyai kontribusi yang besar terhadap pembangunan.

Dengan penerapan konsep Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku), Evi memilih maju di garda terdepan sebagai nakhoda membimbing masyarakat menuntaskan kumuh wilayah. Bagi dia, Program Kotaku sudah memberikan porsi yang besar kepada kaum perempuan untuk lebih bermakna meningkatkan peran dalam pembangunan. Khususnya, Evi merinci, untuk mencapai target pembangunan 100 persen akses air bersih, 0 persen kumuh, dan 100 persen sanitasi layak pada 2019 di Kelurahan Sei Bilah Barat.

Dalam Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku), pemberdayaan kaum perempuan adalah bagian dari proses kesadaran dan pembentukan kapasitas (capacity building). Khususnya terhadap partisipasi yang lebih besar, kekuasaan, dan pengawasan dalam pembuatan keputusan dan tindakan transformasi. Targetnya adalah agar menghasilkan persamaan derajat yang lebih besar antara perempuan dan kaum laki-laki.

Sebagai seorang Lurah, selain mengayomi warganya Evi pun aktif di seluruh rangkaian kegiatan kelurahan, kecamatan, maupun di tingkat kabupaten. Aktivitas tanpa henti itu sudah dipenuhinya saat duduk di bangku kepemimpinan kelurahan sejak akhir 2017, hingga 2018 ini. Walau begitu, kesibukannya untuk berbuat yang terbaik bagi Kelurahan Sei Bilah Barat sama sekali tak mengabaikan tugas utamanya selaku ibu rumah tangga.

Menurut Anto, warga setempat, Evi Diana tidak pernah alpa mengikuti kegiatan di kelurahan. Badan Keswadayaan Masyarakat Bilah Makmur Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) mengaku selalu kedatangan Evi saban Sang Lurah diundang.

Kehadiran Evi memang membawa suasana baru di Kelurahan Sei Bilah Barat. Bahkan, Anto menambahkan, antusias warga ikut terdongkrak buat menghadiri pertemuan Program Kotaku sejak Evi rutin menghadirinya. Masyarakat pun akur dan kompak bila menyoal rancangan pembangunan di wilayah kediaman mereka. Evi sukses menjadi motor penggerak semangat warga menuju permukiman layak huni, produktif, dan berkelanjutan ala Program Kotaku. [Sumut]

 

Penulis: Taufik Hidayat, Tenaga Ahli Komunikasi, KMW Kotaku Provinsi Sumatra Utara

Editor: Epn

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.