Beranda Warta Cerita Inspirasi Versi Kampung Bratang Binangun

Inspirasi Versi Kampung Bratang Binangun

Cerita Jawa Timur Surabaya Comments (0) View (598)

Ada yang berbeda di wilayah sebelah selatan Kota Pahlawan. Di area yang dikenal dengan suhu rata-rata panas menyengat, justru ada sebuah tempat yang dijamin berudara sejuk, nyaman, dan rapi tertata, kendati berada di tengah Ibu Kota Provinsi Jawa Timur. Nama kawasannya adalah Kampung Bratang Binangun, sebuah permukiman di perkotaan yang mengedepankan lingkungan apik tak kumuh dengan masyarakat yang juga kreatif berupaya meningkatkan kualitas manusianya. Kampung Bratang Binangun pantas menjadi tujuan beranjang wilayah Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku).

Pelatihan Percepatan Perencanaan Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Kumuh Perkotaan Skala Kawasan Program Kotaku di Surabaya pada 1 Desember menjadi momentum penting bagi para pesertanya. Sebab pasca-workshop tersebut, tak kurang dari 24 orang bertandang ke Kampung Bratang Binangun untuk melihat langsung penerapan penanganan kumuh. Kegiatan terjun ke lapangan seperti ini memang amat penting sebagai sebuah pembelajaran. Rombongan disambut hangat Lurah Baratajaya Sumarni,  Koordinator Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Baratajaya Nafi, dan Bintara Pembina Desa (Babinsa) Kampung Bratang Binangun Sumarmo.

Puluhan tamu tadi langsung diajak berkeliling kampung, melihat potret keberhasilan masyarakat setempat. Rupanya bukan isapan jempol kisah keaktifan warga setempat yang peduli lingkungan dan mau mengembangkan beragam metode berdaya guna, tanpa biaya besar, serta mengandalkan fasilitas lahan yang ada.

Satu di antaranya adalah Alat Pengolahan Air Limbah (APAL), yang menjadi program unggulan lingkungan di Kampung Bratang Binangun. Secara teori, cara kerja APAL tak berbeda dengan pola Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Namun komponen yang digunakan termasuk mudah tersedia bagi warga pengelola. Pasir, batu kerikil, dan serat nanas dijadikan pengganti pasir silika penyaring yang lazim digunakan di IPAL, yang bakal diperiksa secara periodik saban enam bulan. Kebetulan, sang kreator solusi adalah Nafi, sang koordinator BKM. Sosok satu ini kerap berbagi ilmu dan waktu buat membereskan beragam persoalan lingkungan di sekitar tempat tinggalnya.

Urusan sampah pun tak pernah lagi membuat dahi berkernyit. Sebab masyarakat setempat punya terobosan bank sampah dan pupuk sampah organik bernama Takakura.

Ibu Lurah memang bergandengan tangan langsung dengan warga setempat, menggagas bank sampah untuk pengelolaan sampah di Kampung Bratang Binangun. Caranya, sampah dipilah berdasarkan jenis; organik dikumpulkan untuk diolah kembali, dan sampah anorganik dijual ke bank sampah tingkat kota.

Alhasil, masyarakat memiliki “rekening” di bank sampah yang nilai tabungannya dapat diambil setiap tahun menjelang Idul Fitri. Walau begitu, bantuan pinjaman hasil jual sampah juga diberikan bila ada warga yang membutuhkan, tanpa bunga. Yang menarik, pengelola bank sampah tak meminta pamrih alias sukarela demi lingkungan bersama.

Sampah organik pun diolah menjadi pupuk tanaman melalui Takakura atau kompos, yang dikembangkan BKM Baratajaya beserta relawan setempat. Bahan baku Takakura didapat dari sampah sisa makanan yang disimpan di dalam kotak yang sudah diberi komposter. Proses penyimpanan sebelum siap digunakan sebagai pupuk berlangsung selama dua pekan, tanpa boleh sekalipun terkena panas matahari atau air hujan.

KSM Jari Lentik dari Kampung Bratang Binangun pun punya spesialisasi usaha. Mereka mahir dan sudah terlatih memanfaatkan limbah plastik untuk diubah menjadi kerajinan tangan dan aksesoris. Dalam perkembangannya, KSM mulai menyewakan beragam aksesoris khusus daur ulang.

Kontribusi BKM Kelurahan Baratajaya memang tak sedikit. Tengok saat berkolaborasi dengan Dinas Sosial Kota Surabaya, mereka sukses membenahi empat rumah tidak layak huni di kampung tersebut.

Sumarni pun mengingat-ingat kembali masa silam kondisi di Kampung Bratang Binangun. Wilayah itu adalah areal yang terkenal penuh dengan ceceran sampah dan becek. Pemerintah setempat menyumbang beberapa pohon cemara untuk “menghijaukan” wilayah tersebut, yang diganti dengan pohon jambu dari Dinas Pertanian setempat. Sayang, di musim hujan pohon jambu tersebut dilalap ulat. Hingga akhirnya seluruh pohon jambu kini diganti pohon mangga, sampai sekarang.

Kampung Bratang Binangun pernah menyabet sejumlah penghargaan: Juara I Kampung Mantik (Pemantau Jentik) se-Kota Surabaya pada 2016 dan Juara Pengelolaan Limbah Terbaik di momentum Surabaya Green and Clean 2011. Di kampung ini tidak ada aturan yang dipasang seperti dilarang merokok atau dilarang buang sampah sembarangan. Semuanya serasa menyatu dengan kesadaran demi ramah lingkungan bagi siapa pun. Sangat menginspirasi. [KMP-2]

 

Penulis: Imanudin, SAg., Tim Pelatihan KMP Kotaku Wilayah 2

Editor: Epn

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.