Beranda Warta Cerita IPAL Rawajati Tak Lagi Cemari Sungai Ciliwung

IPAL Rawajati Tak Lagi Cemari Sungai Ciliwung

Cerita DKI Jakarta Jakarta Selatan Kolaborasi Comments (0) View (497)

Bagi sebagian warga masyarakat, sanitasi tak pernah menjadi persoalan berarti. Bahkan, sebagian di antaranya masih memandang sanitasi dan pengelolaannya bukan yang utama ketimbang kebutuhan mendasar lainnya. Paradigma itulah yang menjadi potret masyarakat di sejumlah wilayah di Tanah Air. Pun demikian halnya seperti yang terjadi di Kelurahan Rawajati, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan.

Keberadaan Ibu Kota rupanya tak menjamin warga memiliki jamban di tempat bermukim, seperti di bantaran Sungai Ciliwung. Tak cuma membuang hajat dan kegiatan mandi cuci kakus (MCK), berbagai aktivitas keseharian pun dilakukan di pinggir sungai: makan, memasak, mencuci pakaian dan perabotan rumah tangga, bahkan jual beli. Kendati perlahan namun pasti, dampak terhadap kehidupan kesehatan mulai menggerogoti warga. Misalnya beragam penyakit sistem pencernaan, seperti diare atau mual.

Diskusi dan urun rembuk masyarakat diyakini bakal membangun kesadaran. Tentunya, sambil berkolaborasi bersama pemerintah selaku pencetus kebijakan, swasta dari aspek keuangan, dan masyarakat sebagai pelaku keberlanjutan kegiatan. Lembaga Keswadayaan Masyarakat (LKM) Rawajati Mandiri Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) Kota Jakarta timur, langsung menggandeng Program Sanitasi Masyarakat Kemen PUPR.

LKM mengusulkan wilayah Rukun Warga 03 Rukun Tetangga 03 sebagai lokasi sasaran Program Sanimas untuk penerapan model Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Karena berdasarkan indikator kumuh, terlihat bahwa warga kadung nyaman dengan membuang beragam limbah langsung ke Sungai Ciliwung. Menurut Koordinator LKM Rawajati Mandiri Tati Adhe, rutinitas seperti itu bakal berdampak langsung pada warga setempat dan pada kualitas air serta tanah di masa mendatang. Solusinya adalah, bersama Program Sanimas dari Islamic Development Bank (IsDB) menyediakan sarana dan prasarana sanitasi yang layak dan sehat sambil mensosialisasikan penyadaran serta memotivasi warga sebagai relawan seraya menggalang swadaya demi lingkungannya.

Kesabaran dan keteguhan dalam berkolaborasi antara LKM Rawajati Mandiri dengan Program Sanimas IDB membuahkan hasil pelaksanaan kegiatan pembangunan IPAL berupa anggaran sebesar Rp 425 juta, yang alokasinya dipecah menjadi tiga bagian pendanaan. Bak gayung bersambut, masyarakat setempat sukses mengumpulkan uang sebanyak Rp 8.750.000. Targetnya adalah pembangunan 80 Sambungan Rumah (SR) yang bakal dimanfaatkan langsung oleh 74 kepala keluarga atau 186 jiwa.

Solusi keberlanjutan pun sudah digagas. Misalnya, mengkoordinir Kelompok Pemanfaat dan Pemeliharaan (KPP) infrastruktur yang dibuat untuk memungut iuran bulanan sebesar Rp 5.000 per jiwa. Dana yang terkumpul bakal digunakan sebagai biaya perawatan dan pemeliharaan IPAL.

IPAL di RW 03 tersebut dibangun di ruas jalan lingkungan. Sosialisasi Program Sanimas dan PPAPP Kota Jaktim berhasil meyakinkan warga soal bau tak sedap yang tak bakal tercium sekaligus masyarakat tetap bisa memanfaatkan jalanan. Belum lagi sentuhan akhir bangunan dengan pewarnaan yang menambah cerah lingkungan sekitar.

Kini tak ada lagi kisah masyarakat pembuang hajat dan pencemar Sungai Ciliwung. Warga Rawajati sudah membuktikannya. Bagaimana dengan wilayah Anda? [DKI]

 

Penulis: Mumsicah, Senior Fasilitator Tim 31 Jakarta Selatan, OC Kotaku Provinsi DKI Jakarta

Editor: Epn

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.