Beranda Warta Cerita Kampung Pancuran, Perjalanan dari Kumuh Menjadi Tangguh

Kampung Pancuran, Perjalanan dari Kumuh Menjadi Tangguh

Cerita Jawa Tengah Salatiga Kolaborasi Comments (0) View (584)

Tak sedikit permukiman di perkotaan yang berdekatan dengan pasar dan terminal atau pusat kegiatan dikenal sebagai area kumuh. Maklum, wilayah yang dipastikan sebagai tempat utama lalu lalang itu kerap terimbas sampah yang berceceran akibat aktivitas manusia dan berdampak pada pola perilaku warga. Seperti di Kampung Pancuran, Kelurahan Kutowinangun Lor, Kecamatan Tingkir, Salatiga, misalnya.

Secara geografis, Kampung Pancuran memang dikelilingi sejumlah titik pusat keramaian Kota Salatiga. Di sisi selatan terdapat Pasar Raya 1 yang menyambung ke pasar lama dan Pasar Raya 2 di belahan barat. Di sisi utara terdapat Shopping Center dan terminal angkutan umum. Dan di sisi timur, membentang Pasar Blauran yang menjadi lokasi relokasi pasar lama yang pernah terbakar.

Pola pikir, tata kerja, dan kebiasaan warga setempat cukup dipengaruhi lingkungan yang dalam beberapa hal bersifat negatif. Terminal dan pasar tak dapat dipungkiri sebagai penghasil sampah yang sangat besar dan pasti berpengaruh bagi wilayah di sekitarnya. Kampung Pancuran sebagai wilayah terdekat, paling banyak merasakan dampak ini.

Sebagian besar masyarakat adalah pelaku usaha di sektor informal, sebagai pedagang di pasar dan pekerja di terminal. Mulai dari agen tiket, buruh kasar, penjual makanan atau penganan, atau penjaja rokok keliling, penjual di warung kelontong kecil, hingga pelaku berbagai macam bentuk aksi kriminalitas. Ragam itu masih ditambah penyakit masyarakat: berjudi dan mabuk-mabukan.

Dalam kesehariannya, sebagian besar warga Kampung Pancuran lebih banyak menghabiskan waktu di tempat kerja. Buntutnya bisa ditebak, kepedulian terhadap lingkungan tempat tinggal terabaikan. Selain tentunya, ada kesenjangan pengetahuan dan kesadaran, serta keterbatasan secara ekonomi.

Sebagian kaum mudanya—lantaran kurang bimbingan dan pendidikan—cenderung berperilaku nakal. Beberapa di antaranya malah mulai melakukan tindakan-tindakan yang tergolong kriminal. Tak jarang tawuran antarkampung terjadi. Ironisnya belakangan, Pancuran menyandang predikat sebagai kampung kampung kriminal dan pembuat onar meskipun berbagai pembinaan sudah dilakukan.

Tingkat perekonomian warga yang tergolong masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) “menyempurnakan” level kemampuan ekonomi yang semakin melorot. Di saat yang sama, ketidakmampuan tersebut menghasilkan orangtua yang tak mampu mengakses pendidikan tinggi. Beberapa di antaranya justru tak peduli pentingnya pendidikan formal buat anak-anak usia sekolah.

Dampak turunan selanjutnya adalah perilaku terkait kebiasaan hidup sehat yang rendah. Masyarakat memanfaatkan sungai yang melintasi kampung sebagai saluran pembuangan berbagai sampah rumah tangga. Masih sedikit pula yang memiliki kesadaran untuk mempunyai saluran pembuangan mandi, cuci, dan kakus (MCK) yang layak.

Menyoal standar hidup layak, Kampung Pancuran pun tak memiliki sarana dan prasarana. Situasi ini akhirnya menjadi lingkaran persoalan yang saling memperberat satu sama lain dan menggenapi citra tidak baik. Memang secara skala, Kampung Pancuran mengantongi skor kumuh 35 atau kumuh ringan.

Kelompok masyarakat yang peduli memang tak pernah berpangku tangan. Berbagai cara ditempuh demi menata Kampung Pancuran ke arah yang lebih baik. Dan solusinya adalah pembangunan fisik dan non-fisik bakal dilaksanakan di sana.

Persoalan utama yang tampak di depan mata adalah tata kelola sampah. Jalan keluar paling pas pada saat ini adalah tempat pembuangan sampah sementara (TPS), supaya warga tak lagi membuang sampah ke kali. Penyediaan tempat sampah yang memadai serta tenaga pengangkut sampah dari permukiman ke TPS terdekat. Biaya pengadaan sistem kelola sampah ini dianggarkan dari perolehan iuran bulanan warga. Selain itu ada pula bantuan pemerintah berupa tong sampah dan gerobak sampah, serta sedang dibangun tempat penyimpanan gerobak sampah.

Keberadaan rumah tinggal juga menjadi satu penyebab yang memengaruhi tingkat kesehatan warga Kampung Pancuran. Untunglah, kondisi itu berubah seiring pemanfaatan dana insentif dari pemerintah, corporate social responsibility (CSR) pengusaha swasta, donatur, dan warga. Bentuknya mulai dari dana, tenaga, dan natura lainnya sesuai anggaran membantu sepuluh rumah warga MBR untuk dibongkar ulang sesuai perencanaan rumah layak huni.

Pembangunan penataan lingkungan lainnya juga dilakukan secara berkelanjutan. Sebut saja pengerasan jalan lingkungan hingga pembenahan saluran air yang dijadikan akses pembuangan. Sebagai catatan, lingkup lokasi kumuh terletak di Rukun Tetangga 2, 3, 4, 5 di RW 4 dan RT 1 di RW 5.

Belakangan muncul ide untuk mencanangkan Pancuran sebagai Kampung Wisata. Program penataan wilayah itu bakal membenahi beragam sarana dan prasarana umum seperti jalan lingkungan, saluran pembuangan, kebersihan dan kesehatan, serta rehabilitasi fasilitas umum lainnya. Termasuk, penataan hiasan lingkungan seperti mural. Sasaran akhir upaya perubahan adalah perilaku dan cara hidup masyarakat setempat.

Program Kampung Wisata Pancuran pun memerhatikan pengembangan kemampuan sumber daya manusia. Untuk yang satu ini, pengurus rukun warga setempat sengaja menggandeng kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi di Salatiga untuk penelitian dan kajian rancangan kerja pembangunan dalam beberapa tahap. Mulai dari tahap awal: penelitian deskripsi Kampung Pancuran berdasarkan kekuatan, kelemahan, potensi atau peluang, dan tantangan. Selanjutnya mulai merancang program pengembangan yang tepat untuk mewujudkan hal yang ditemukan dalam penelitian tahap awal. Dan yang terakhir adalah melakukan pendampingan, pemantauan, dan evaluasi intensif dalam pelaksanaan rencana kerja yang telah disusun, sekaligus membangun jejaring dengan pihak terkait.

Usai pembangunan fisik wilayah, perubahan non-fisik menjadi tujuan akhir dari seluruh upaya penataan yang dilaksanakan warga RW 4 dan RW 5 Kampung Pancuran, misalnya. Satu langkah konkret adalah dengan mendukung dan memberdayakan organisasi dan kelompok aktivitas keagamaan setempat, demi pembentukan karakter manusia yang berkualitas dan religius.

Penataan ulang Kampung Pancuran juga melibatkan kelompok sosial kemasyarakatan lokal. Di antaranya Karang Taruna Gerakan Pemuda Pancuran (Gempar), Rumah Karakter (Ruter)—program kerja sama dengan lembaga swadaya masyarakat, Kelompok Siaga Bencana Garda Taruna, atau berbagai kelompok kesenian seperti Drumblek. Sementara barisan masyarakat yang digaet dalam penataan kembali Kampung Pancuran adalah kelompok pengelola kebersihan (pengelola penanganan sampah), pos pelayanan terpadu (posyandu), dan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KPRL)—sebuah program ketahanan pangan bagi warga perkotaan. [PL-Jateng]

Dokumentasi lainnya:

 

Penulis: Budi Sutrisno, Ketua RW 4 Pancuran, Kelurahan Kutowinangun Lor, Kecamatan Tingkir, Kota Salatiga/Relawan Program Kotaku Provinsi Jawa Tengah

Editor: Epn

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.