Beranda Warta Cerita Quo Vadis Jalan Lingkungan?

Quo Vadis Jalan Lingkungan?

KMP-2 Infrastruktur FIC Kolaborasi Comments (0) View (133)

Anjing mengonggong, kafilah tak bergeming alias jalan terus. Perumpamaan yang disadur bebas tersebut agaknya paling pas buat menggambarkan riuh rendahnya bocah tatkala bermain di jalanan; jalan setapak, jalan lingkungan, bahkan di pinggir jalan raya yang penuh kendaraan berlalu lalang. “Woiiiii!!! Jangan bermain di jalan, banyak motooooor!!!” begitu teriak seorang ibu kepada sekumpulan anak-anak yang “sibuk” beraktivitas di sebuah jalanan. Dan teriakan serupa itu menjadi keseharian di ruas jalan itu, dan di ruas-ruas jalanan lainnya.

Namun seperti perumpamaan bebas tadi, kerumuman anak-anak hanya menepi sesaat. Membiarkan kendaraan roda dua atau roda empat berlalu, lantas cepat beringsut kembali memenuhi jalanan dengan riang gembira. Ramai penuh suka cita. Kejadian sejenis galib terjadi hampir di semua wilayah kelurahan dampingan Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku), yang biasanya merupakan kawasan permukiman di pusat perkotaan dengan karakteristik hunian padat.

Jalan memang menjadi satu faktor penting penghubung antarwilayah, di manapun itu. Bagi warga sekitar, ruas jalan lingkungan hunian bisa berubah wujud menjadi sarana untuk apa saja: interaksi, arena bermain, lalu lalang kendaraan, menjemur makanan sisa dan pakaian selepas dicuci, serta masih banyak ragam fungsi lainnya. Jalanan menjadi ruang publik yang bermanfaat untuk penunjang aktivitas serta interaksi sosial. Lain ladang, lain belalang. Lain wilayah, berbeda pula fenomena pemanfaatannya.

Menyoal pemanfaatan jalan, mari tengok keunikan di Kelurahan Suryatmajan, Kecamatan Danurejan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kebutuhan dan kesadaran akan keberadaan jalan lingkungan malah total jenderal. Ruas jalan lingkungan atau gang yang tadinya selebar 1-1,5 meter malah dirombak sesuai perencanaan pembangunan menjadi selebar 2-4 meter, sebagai bagian dari konsep: mundur, munggah (naik), dan madep (menghadap) sungai.

Bahkan, sebagian warga rela memundurkan bangunan rumahnya dari bibir sungai, mengubah posisi rumah menghadap ke sungai, dan menaikkan bangunan rumah menjadi dua lantai supaya ketinggiannya senada dengan bangunan sekitar. Di penjuru permukiman pun dibangun ruang publik warga bercengkerama mengapresiasikan aneka kegiatan. Mulai dari melepas kejenuhan, perayaan, ajang berjualan, sampai apresiasi pentas budaya antarwarga. Jalan lingkungan dan ruang publik menyatu dalam penataan ulang permukiman di Suryatmajan.

Perubahan fungsi jalan lingkungan dari konsep awal sebagai media penghubung antarwilayah menjadi pusat interaksi sosial warga akhirnya menjadi niscaya—termasuk mematok larangan dilalui kendaraan bermotor. Dan itulah yang memang paling dibutuhkan masing-masing wilayah dengan kekhasannya. Sebab para pemanfaatlah yang belakangan membuat kesepakatan merujuk kebutuhan dan aspek kearifan lokal.

Potret multipemanfaatan jalan lingkungan di atas bisa menjadi pertimbangan ulang sebuah perencanaan teknis wilayah dalam upaya penanganan kumuh. Konsep awal maksud, tujuan, dan fungsi jalan lingkungan yang notabene hanya sebagai rute kendaraan penyambung titik pertemuan wilayah, bergeser ke fungsi sarana terbuka areal interaksi sosial warga. Quo vadis (mau dibawa ke mana) konsep jalan lingkungan. Bagaimana menurut Anda? [KMP-2]

 

Penulis: Agus Sudirman, Tenaga Ahli Financial Institutional Collaboration (FIC) Konsultan Manajamen Pusat Kotaku Wilayah 2

Editor: Epn

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.