Beranda Warta Cerita BDC Pangandaran Hidupkan Perekonomian di Pesisir Pangandaran

BDC Pangandaran Hidupkan Perekonomian di Pesisir Pangandaran

Cerita Jawa Barat Pangandaran BDC Comments (0) View (715)

Pangandaran adalah satu daerah pesisir pantai di Indonesia yang bisa disebut memiliki ragam kekayaan alam. Selain wisata pantai yang indah, hasil laut garapan nelayan setempat juga melimpah, ditambah pepohonan kelapa yang menghasilkan buah kelapa berkualitas. Namun sayang, sebagian warga wilayah pemekaran dari Kabupaten Ciamis, Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat itu masih tergolong kategori masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Mayoritas masyarakat Kabupaten Pangandaran memang berprofesi sebagai nelayan dan pengelola wisata. Mereka juga mengembangkan potensi hasil laut seperti ikan, kepiting, udang menjadi aneka olahan penganan. Sementara selain dijual langsung ke para wisatawan yang berkunjung ke Pantai Pangandaran sebagai minuman kelapa muda, hasil kelapa lainnya juga diolah sebagai bahan bumbu masakan.

Kondisi itu menginspirasi Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk membuat program Business Development Center (BDC) atau pusat pengembangan usaha di Pangandaran pada 2015. Program Kotaku ini bermaksud mendorong peran pemerintah kabupaten atau kota dalam memajukan usaha-usaha kelompok swadaya masyarakat (KSM) skala mikro dan ekonomi lokal secara umum melalui pengembangan pusat pengembangan bisnis di tingkat kabupaten/kota. BDC adalah bagian dari komponen Program Kotaku untuk mendukung kegiatan peningkatan penghidupan berkelanjutan di tingkat kota sebagai program lanjutan dari kegiatan peningkatan penghidupan berkelanjutan di tingkat kelurahan.

BDC Pangandaran dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Bupati Nomor 602 / KPTS 389 - HUK. ORG / 2015 tanggal 5 November 2015. Pascapembentukan, disusunlah komite dan pengelola BDC dari hasil forum musyawarah kota yang terdiri dari unsur badan keswadayaan masyarakat (BKM), perwakilan KSM, organisasi perangkat daerah (OPD),  perguruan tinggi, dan berbagai unsur kewilayahan lainnya.

Struktur organisasi kepengurusan BDC Pangandaran terdiri dari 17 orang komite dan empat orang pengelola. Mereka berasal dari unsur pengusaha, lembaga swadaya masyarakat (LSM), kelompok peduli, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Pangandaran, perguruan tinggi, hingga perbankan. BDC Pangandaran berkewajiban mengelola 91 KSM dari golongan MBR di sekitar kawasan Pangandaran.

Keseluruhan KSM binaan diberi pelatihan oleh BDC dengan mendatangkan narasumber yang berkompeten di bidangnya. Tujuan dari pelatihan tersebut adalah untuk meningkatkan kemampuan usaha KSM, dengan kualitas produk bisa lebih baik lagi. Sebut saja gelar pelatihan gula merah, agar KSM bisa membuat produk gula semut (gula kristal) dengan standar organik, yang otomatis meningkatkan harga gula dari gula cetak menjadi gula semut. Lantas pelatihan buat KSM Ikan Asin agar mampu menghasilkan ikan asin yang bersih tanpa bahan pengawet. Termasuk, membuat pengembangan ikan jambal roti menjadi abon jambal roti dan pengembangan bahan baku ikan laut segar yang bebas pengawet untuk dijadikan camilan seafood crispy.

Setelah mendapat pelatihan tersebut, seluruh KSM bakal melanjutkan pembuatan produk unggulan di rumah produksi masing-masing. Setiap bulannya mereka bisa menghasilkan puluhan hingga ratusan produk ikan asin, gula semut, abon ikan jambal, udang, kepiting, ikan krispi, dan gula semut.  Seluruh produk-produk tersebut dijual di Gerai BDC di Jalan Sadiproyo, Wonoharjo, Kab. Pangandaran. Harga masing-masing produk beragam mulai dari puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah.

Melihat antusiasme berbagai pihak, Program Kotaku memberikan bantuan dana sebesar Rp 1,5 miliar pada 2016. Walau begitu, masyarakat pelaku juga dilatih agar bisa berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk pemda. Dan hasilnya, Pemda Pangandaran menggelontorkan dana bantuan sebesar Rp 125 juta pada 2016 dan 2017. BDC Pangandaran pun difasilitasi untuk menyelenggarakan pameran di kantor pemda,  pameran Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM),  dibantu pemasaran produknya oleh Bank Jabar Banten (BJB) bersama Mojang Jajaka Pangandaran. Pemda Pangandaran juga membuka akses agar BDC bisa memenuhi standar usaha yang layak seperti perizinan dan bersertifikat, mengingat  Pangandaran menjadi satu tujuan wisata favorit di Jawa Barat.

Saat ini omset BDC Pangandaran telah mencapai puluhan juta rupiah setiap bulannya, dengan hasil produk yang semakin bervariatif. Kini penjualan produk warga juga dilakukan secara online melalui akun dari BDC dan toko online seperti Bukalapak, Tokopedia, atau Shoppe. BDC Pangandaran juga memiliki laman untuk mendokumentasikan setiap kegiatan dan penjualan produk, lengkap dengan artikel perjalanan BDC Pangandaran sejak awal hingga kini. [KMP-1]

Dokumentasi lainnya:

 

Penulis: Vhany Medina, Asisten Publikasi KMP Kotaku wil. 1

Editor: Epn

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.