Beranda Warta Cerita Surabaya [Masih] Menangani Kumuh

Surabaya [Masih] Menangani Kumuh

Cerita Jawa Timur Surabaya Infrastruktur Comments (0) View (640)

Sukses. Boleh jadi tepat saat ini disandang tiga kelurahan di Kota Pahlawan yang berjuang menangani sebagian kumuh dan menata wilayah: Kenjeran, Bulak Banteng, dan Tambak Rejo. Perlahan namun pasti, aksi bahu membahu antara pemerintah daerah dan masyarakat mulai berbuah hasil. Semua sepakat bersemangat, menata ulang wilayah demi mencapai target 0 hektare kumuh pada tahun ini.

Keberadaan Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 4 Tahun 2018 Tanggal 12 September 2018 tentang Pencegahan dan Peningkatan Kualitas terhadap Perumahan Kumuh dan Permukiman Kumuh memang menjadi rambu bersama yang diharapkan bisa mempercepat pembenahan kawasan permukiman kota yang masih kumuh dan belum tertata. Langkah konkretnya—sebagai bagian dari organisasi perangkat daerah (OPD)—Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Cipta Karya dan Tata Ruang (DPRKPCKTR) Kota Surabaya menjalankan fungsi sebagai nakhoda. Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) melalui Satuan Kerja (Satker) Pengembangan Infrastruktur Permukiman (PIP) berkomitmen terhadap hal tersebut.

Penanganan kumuh di Ibu Kota Provinsi Jawa Timur itu dilaksanakan di Skala Lingkungan, di kelurahan dan desa, melalui penanganan pada tujuh indikator kumuh. Di antaranya pada keteraturan bangunan, akses jalan, kondisi drainase, masalah persampahan, akses sanitasi, air minum, dan proteksi kebakaran.

Penanganan kumuh ini diharapkan tak hanya menuntaskan kumuh, tapi juga mengatasi parameter kumuh lain yang ada pada lingkungan, sehingga terjadi perubahan wajah pada lingkungan tersebut. Misalnya secara indikator kumuh menyelesaikan permasalahan akses jalan dan banjir, di lingkungan tersebut juga sekaligus ada perubahan wajah lingkungan yang lebih baik.

Lokasi sasaran Bantuan Dana Investasi (BDI) 2018 di Kota Surabaya mencakup beberapa kelurahan yang selain berkontribusi dalam pengurangan kumuh, juga mampu memberikan perubahan wajah lebih baik dari situasi dan kondisi sebelumnya. Sebut saja Kelurahan Kenjeran, Kelurahan Bulak Banteng, dan Kelurahan Tambak Rejo.

Melalui rembuk masyarakat Kelurahan Kenjeran yang difasilitasi badan keswadayaan masyarakat (BKM), permasalahan dan potensi penyelesaian persoalan dituangkan dalam Rencana Penataan Lingkungan Permukiman (RPLP) untuk direalisasikan. Pembangunan saluran drainase, misalnya, menjadi penting lantaran sudah rusak dan tak mampu menampung lipasan air hujan di sejumlah titik. Solusinya adalah saluran drainase U-Ditch, yang diyakini berdimensi lebih besar dan mampu mengatasi persoalan tersebut. Di tingkat lapangan, pembangunan dari RPLP tersebut dikerjakan warga yang tergabung dalam kelompok swadaya masyarakat (KSM). Kini bila hujan mengguyur, tak ada lagi air menggenang dan banjir di permukiman warga di Kelurahan Kenjeran.

Karang taruna setempat pun tak mau tinggal diam. Mereka aktif mengubah wajah lingkungan dengan membuat berbagai mural di pintu masuk permukiman. Suasana segar terasa berkat penempatan sejumlah pot berisi tanaman dan bunga hasil swadaya warga. Di titik tertentu juga tersedia tempat duduk sebagai ruang sosial masyarakat.

Bersama aparat setempat, masyarakat menyepakati aturan bersama. Misalnya, tidak boleh mengotori areal tersebut, khususnya lapak-lapak berjualan yang selama ini semrawut. Termasuk pengecekan bersama saluran oleh warga, seandainya mampet dan ada kerusakan. Koordinasi penanganannya diserahkan kepada Kelompok Pemanfaat dan Pemelihara (KPP), melalui ketua RT/RW setempat. Sedangkan soal sampah, kini tersedia empat gerobak sampah yang dikelola dan dioperasikan KPP melalui iuran bersama per rumah saban bulan.

Kelurahan Bulak Banteng juga mencatat pemanfaatan BDI 2018 yang berfungsi baik dan bermanfaat. Selain menyelesaikan permasalahan banjir dengan pemasangan saluran U-Ditch, jalan tanah yang selama ini digunakan berubah wujud melalui pemasangan paving block. Di sepanjang depan setiap rumah, warga menaruh pot bunga yang menambah keasrian lingkungan. Sampah yang dulunya berserakan, kini tinggal kenangan berkat rutinitas pengangkutan via gerobak sampah ke tempat pembuangan sampah (TPS). Lingkungan permukiman berubah wujud menjadi tempat yang menyenangkan bagi semua warga.

Gang sempit dan berkelok-kelok di Kelurahan Tambak Rejo juga mulai dibenahi. Saluran drainase yang semula kecil berganti dimensi yang lebih besar dan dihubungkan dengan saluran pembuang kota. Akses jalan diperbaiki, yang rusak diganti, dan tembok-tembok dicat serta diberikan nuansa hijau lewat tanaman dalam pot. Warga mengaku senang dan bertekad menjaga kondisi tadi. Mereka bersyukur, lingkungan permukiman kini menjadi lebih baik melalui BDI.

Sejalan dengan Perda Kota Surabaya Nomor 4 Tahun 2018, peran serta masyarakat sangat dibutuhkan dalam pencegahan dan peningkatan kualitas perumahan dan permukiman kumuh mulai dari proses awal hingga hasil akhirnya. Misalnya, melalui kelembagaan BKM dan KSM Program Kotaku yang ada di tingkat kelurahan.

Berkaca dari ketiga wilayah tadi, bukan mustahil upaya penanganan kumuh dapat berjalan dengan baik, termasuk di wilayah lainnya. Lewat perda yang ada, amanah kemitraan antarpihak menjadi tantangan berikutnya demi percepatan penanganan kumuh: skala lingkungan atau skala kawasan. Tentunya, dengan peran pemerintah kota sebagai nakhoda penanganan kumuh untuk asa nol kumuh pada 2019 ini. Semoga. [Jatim]

 

Penulis: Eddy Iwantoro, Korkot Kota Surabaya, KMW Kotaku Provinsi Jawa Timur

Editor: Epn

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.