Beranda Warta Cerita Awas, Drainase Konvensional Memicu Banjir dan Kekeringan!

Awas, Drainase Konvensional Memicu Banjir dan Kekeringan!

Cerita Jawa Tengah Klaten Drainase Ponggok Drainase Ramah Lingkungan Comments (0) View (481)

Banjir dan kekeringan adalah dua sisi mata uang yang melekat pada keberadaan air di sekitar manusia. Pada dasarnya, inti persoalannya sudah bisa ditebak: tata kelola air yang salah kaprah. Padahal akibatnya amat fatal, sama hasilnya entah di desa maupun perkotaan. Tak hanya harta dan benda yang bisa dicerabut paksa, terkadang hilang nyawa manusia pun terdata.

Apa pasal sehingga banjir dan kekeringan menjadi langganan akrab di setiap periodenya?

Sebenarnya, satu dari sederet pemicu banjir dan kekeringan adalah konsep drainase konvensional; drainase yang serta merta berupaya mengalokasikan air hujan untuk sesegera mungkin dibuang ke sungai, dan selanjutnya mengalir ke laut. Tak pelak tentu, air di sungai sontak meluap. Tak mampu menerima beban kapasitas yang berlebih, lantas kembali ke daratan melalui bantaran dan menggenangi permukiman.

Di saat yang sama, resapan air ke dalam tanah terabaikan. Karena tadi, air diupayakan secepatnya meninggalkan daratan dan meluncur langsung ke sungai, ke laut. Alhasil, pasokan air tanah tak tersisa dan kekeringan merajalela. Begitu terus, setiap musim dengan masalahnya silih berganti.

Namun langit tak serta merta runtuh. Ada solusi bernama drainase ramah lingkungan. Konsep kerjanya adalah mengelola kelebihan air dengan cara menampungnya untuk digunakan kembali, diresapkan ke tanah secara alami, baru sisanyalah yang dialirkan ke sungai tanpa melampaui kapasitas daya tampung. Secara teknik, pengelolaan ini mengedepankan upaya memperlambat laju air hujan sampai ke laut. Berseberangan tentu dengan konsep konvensional.

Pada konsep drainase ramah lingkungan, limpasan air hujan ditampung di wadah atau pada tempat tertentu. Mulai dari ember, tanki air, atau kolam penampungan air lainnya. Kelebihan air tampungan dari tempat tadi itulah yang kemudian diresapkan ke dalam tanah melalui lubang biopori atau sumur resapan—yang memudahkan resapan air hujan ke dalam tanah.

Potret sukses penerapan konsep drainase ramah lingkungan ada di Desa Sidowayah, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah. Kolam “tangkapan” air hujan berfungsi ganda sebagai tempat wisata kolam renang dan areal bermain anak, selain menjadi sumber air bersih wilayah setempat. Hal itu bisa terjadi lantaran di beberapa wilayah permukiman perkotaan, warga dan pemerintah daerah sudah memiliki kesadaran akan pentingnya mengelola air hujan. Nyaris di setiap lingkungan perumahan dibuat sumur resapan cadangan air di musim kemarau.

Serupa tapi tak sama pun bisa dilongok di Desa Ponggok, juga di Kabupaten Klaten. Drainase yang awalnya menjadi campuran air hujan dan limbah rumah tangga sudah menggunakan konsep drainase ramah lingkungan. Drainasenya sudah sangat bersih dan terawat, bahkan digunakan sebagai media beternak ikan oleh warganya.

Sebenarnya, banyak yang bisa dilakukan warga untuk menerapkan konsep di atas. Di antaranya adalah metode kolam konservasi, metode sumur resapan, metode polder bantaran sungai, dan metode pengembangan areal perlindungan air tanah.

Penerapan konsep drainase konvensional sudah jelas tak ramah lingkungan. Dan yang terpenting, sudah tak cocok di lingkungan permukiman perkotaan. Pilihan penerapan konsep drainase pun bergantung pada kebijakan pemerintah daerah dan kondisi wilayah masing-masing, termasuk di wilayah dampingan Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku). Pilihannya ada di tangan Anda. [KMP-2]

Dokumentasi lainnya:

 

Penulis: Agus Sudirman, Tenaga Ahli Financing Institution Collaboration. Konsultan Manajamen Pusat Kotaku Wilayah 2

Editor: Epn

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.