Beranda Warta Artikel Kota Binjai Mengejar Cita 2019

Kota Binjai Mengejar Cita 2019

Sumatra Utara Binjai Artikel Comments (1) View (583)

Penataan kembali dan perubahan ke tataran yang baru dan lebih baik sepertinya menjadi aksi Pemerintah Kota Binjai, Sumatra Utara. Langkah strategis itu menjadi praktik nyata dari visi dan misi Kota Madya Binjai, untuk mewujudkan kota cerdas, layak huni, berdaya saing, dan berwawasan lingkungan demi kesejahteraan bersama. Komitmen ini ingin dipegang teguh Pemkot Binjai sebagai janji yang bakal dilunasi, khususnya buat masyarakat Kota Binjai.

Tumpukan persoalan kumuh di kawasan Sei Bangkatan, Kota Binjai, misalnya, bisa meledak sewaktu-waktu bila tak segera ditangani, dan berpeluang menjadi permasalahan serius. Di antaranya dipicu permukiman kumuh di atas sungai yang juga mencemari sungai. Sanitasi yang buruk karena tata bangunan pun memicu permasalahan lingkungan lainnya. Penataan kawasan sepanjang Sei Bangkatan dan Sungai Bangkatan memang tak bisa menunggu lama.

Namun tentu Pemkot Binjai tak bisa berkiprah sendiri. Selaku nakhoda perubahan, digandenglah Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Maklum, berdasarkan data baseline, permasalahan kumuh di Kota Binjai memang beragam. Misalnya bangunan hunian yang tidak teratur mencapai 59,18 persen dari total hunian yanga ada. Di wilayah yang sama pun ada 57,71 persen area yang tak memiliki sarana dan prasaranan proteksi kebakaran. Masih ada 28,09 persen warga yang tak terlayani akses jaringan jalan.

Urusan tata kelola sampah pun idem, masih 51,24 persen warga tak memiliki fasilitas penting itu. Sebanyak 44,75 persen kebutuhan warga terhadap air bersih tidak terpenuhi. Masih 34,55 persen drainase yang tak sesuai persyaratan teknis, ditambah 90 persen drainase lainnya yang bercampur dengan saluran pembuangan air limbah.

Masih menurut data baseline, ada 6.435 unit bangunan yang tidak memenuhi persyaratan teknis. Sepanjang 194.395 meter permukaan jalan rusak, 168.894 meter saluran drainase rusak, 8.234 kepala keluarga (KK) tak terakses air minum yang berkualitas atau aman, dan 1.093 KK tidak terakses sistem air limbah sesuai standar teknis. Sistem pengelolaan sampah yang tak sesuai standar teknis terlihat di pada 28.381 KK.

Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) hadir di Kota Binjai sejak 2016 hingga kini. Solusi yang ditawarkan sangat berarti dalam menuntaskan masalah kumuh setempat. Pemerintah daerah pun merespons dengan menjadi nakhoda perubahan penataan lingkungan sekaligus penanganan kumuh. Memang, pembangunan yang dilakukan masih dalam konteks Skala Lingkungan—desa dan kelurahan. Namun terhitung sejak tiga tahun belakangan, perubahan bentuk infrastruktur dasar sudah mengular di beberapa wilayah di Ibu Kota Madya di Provinsi Sumut itu.

Sebut saja pembangunan jalan aspal berlapis hotmix sepanjang 16.406 meter, total panjang drainase 7.829,6 meter, jalan beton sepanjang 1.731,5 meter, dan satu jembatan yang menggunakan beton, batu, dan Box Culvert sepanjang enam meter, serta jalan lebursan aspal sejauh 4.936 meter. Tak hanya itu saja, septik tank komunal pun dibangun sebanyak tujuh unit, pemasangan tutup saluran sepanjang 288 meter, tembok penahan yang menggunakan siring, plengsengan, atau bronjong sepanjang 800 meter.

Sebanyak 366 unit bak sampah terpilah 3R (reuse, reduce, recycle) dan telah disebar ke sejumlah permukiman. Ada pula 12 unit gorong-gorong yang telah terpasang, dan sepanjang 3.510 meter saluran air yang dijamin telah normal, berikut jaringan pipa proteksi kebakaran sepanjang 84 meter. Dan pembangunan didapat dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah setempat ditambah Bantuan Dana Investasi Program Kotaku.

Populasi Kota Binjai hingga pertengahan Januari 2019 masih di bawah 300 ribu jiwa yang menempati wilayah seluas 90,23 kilometer per segi, dengan kepadatan penduduk hampir menyentuh 3.000 jiwa untuk setiap kilometer. Jumlah penduduk laki-laki mencapai 133.692 jiwa dan perempuan 134.209 jiwa.

Berdasarkan perencanaan di 2018 yang sejalan dengan penanganan kumuh yang lebih komprehensif di Kota Binjai, kawasan Sei Bangkatan diproyeksikan mengarah menjadi areal target wisata. Rekomendasi perencanaan kawasan serta pengelolaan dampak sosial dan lingkungan kawasan Sei Bangkatan lahir. Misalnya, dengan mengubah wajah wilayah dengan konsep waterfront yang selaras dengan alam sekitar. Di antaranya mengendalikan permukiman sesuai garis sempadan sungai, normalisasi, dermaga, dan penghijauan di sepanjang sungai. Selain itu membuat jalur inspeksi sebagai sarana evakuasi bencana dan jogging track, pembuatan pasar ikan modern, serta pengembangan wisata air yang sekaligus menjaga kelestarian sungai lewat budidaya ikan dan wisata kota.

Pemda setempat berkeyakinan, penataan Skala Kawasan di Kota Binjai berjalan konsisten di tahun ini. Tentunya, dengan bantuan dari berbagai pihak, untuk mewujudkan Binjai bebas kumuh, layak huni, produktif, dan berkelanjutan. Semoga. [PL-Sumut]

 

 

Penulis: Irwansyah Nasution, Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kota Binjai Provinsi Sumatra Utara

Editor: Epn

1 Komentar


  1. Posted by huruftimbul | Jun 5, 2019

    maju terus kota binjai

    <a href="https://customkreatif.com">harga huruf timbul</a>

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.