Mengutip Sukses dari Gemblakan di Pinggir Code

Cerita DI Yogyakarta Kali Code Infrastruktur Suryatmajan Comments (0) View (1290)

Pedagang asongan, penjual soto, nasi rame, bakmi, dan sederet penganan lainnya adalah “napas” buat Kampung Gemblakan Bawah. Tapi, jangan pernah menganggap enteng permukiman warga yang rata-rata memiliki penghasilan di bawah Upah Minimum Regional (UMR) Kota Yogyakarta itu, khususnya di Rukun Warga 7, 8, dan RW 9. Sebab bila menyoal kesadaran dan pengorbanan demi kemaslahatan banyak pihak, di wilayah inilah sumbangsih yang sebenarnya bisa dijadikan pembelajaran penting buat banyak pihak.

Kampung Gemblakan Bawah berada di wilayah Kelurahan Suryatmajan, Kecamatan Danurejan, Kota Yogyakarta. Kampung ini terletak di tepian Sungai Code, tepatnya di sebelah timur Jalan Malioboro. Kampung ini menahun menyandang predikat kumuh: rumah-rumah tak tertata dengan jalan lingkungan di pinggiran kali kurang dari 1,5 meter. Dan masih sederet indikator kumuh lainnya melekat di area ini, tepatnya di ketiga rukun warga tadi.

Sejumlah perencanaan pun dirancang melalui ajang urun rembuk. Pesertanya adalah pemerintah daerah setempat, wakil kelurahan, pihak kecamatan, sejumlah tokoh masyarakat, dan pekerja sosial. Kelompok yang guyub sebagai tim dan dikoordinasi Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Mataram Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) Kelurahan Suryatmajan ini menginisiasi pertemuan dengan warga untuk penataan lingkungan. Pada momentum itulah dipaparkan maksud dan tujuan yang dilanjutkan sesi diskusi.

Tidak mudah memang, dan tak serta merta mulus. Pertemuan berulang selalu mengulas informasi tentang maksud dan tujuan, yang acap diakhiri diskusi dengan warga Kampung Gemblakan Bawah. Membutuhkan waktu tak kurang dari setahun untuk menjadikan sosialisasi mengerucut ke satu suara yang bersepakat bersama menjalani Program Penataan Lingkungan Permukiman Berbasis Komunitas (PLPBK).

Dari perencanaan yang ada, sebagian rumah—yang terletak di pinggir sungai atau yang memang berada di jalur penataan—bakal terkena dampak, untuk dirombak, dan dijadikan bagian dari jalan lingkungan. Tak hanya itu, kawasan Gemblakan Bawah bakal total ditata ulang. Selain lebar jalan lingkungan dijadikan tiga meter, rumah yang terdampak pelebaran jalan bakal dibangun kembali, pembangunan saluran air hujan, pembangunan ruang terbuka hijau (RTH), pembangunan fasilitas mandi cuci kakus (MCK) terpadu, pembangunan pos pemantau banjir, dan pembangunan ruang komunal setempat.

Tersebutlah, Luntak. Pemilik rumah di RW 8 yang dihuni lima orang, yang terdampak penataan versi Program PLPBK. Kediaman Luntak memang tidak layak huni: genteng yang sudah bocor di sana sini, menggunakan papan tripleks sebagai penyekat dan penghubung antar-ruangan, serta berlantaikan sedikit semen plus tanah. Walau begitu, dia malah merelakan lahan pribadinya seluas 1X7 meter persegi untuk menjadi bagian dari jalan umum permukiman Kampung Gemblakan Bawah. “Hitung-hitung sebagai amal,” kata Luntak tulus.

Untunglah, rumah Luntak ikut masuk rancangan program penataan untuk dipermak ulang. Warung di depan rumah yang dulu sempit berisi barang rongsokan tinggal kenangan.

Kini warung milik Luntak ramai, utamanya bila menjelang petang atau malam hari. Banyak pengunjung yang ingin menikmati paket makanan murah meriah ala Luntak, seraya menikmati suasana di pinggir Kali Code. Pria paruh baya itu menjajakan bermacam penganan siap santap: bakmi goreng Jawa, bakmi godog, atau nasi goreng ayam kampung hanya senilai Rp 10 ribu per porsi. Murah meriah dan ngangeni, menurut pengakuan tamu.

Luntak tak sendirian. Sebagian warga lainnya pun merelakan memundurkan posisi rumah demi menghadap sungai serta meluaskan areal jalan lingkungan. Bagi mereka, perubahan ini justru menata kembali halaman muka rumah sambil menyediakan tempat berinteraksi serta lahan bermain anak di Kampung Gemblakan Bawah.

Jalanan di pinggir kali pun diubah dan diberi nama Pedestrian Code Gumreget (PCG). Konsep yang berjalan seiring dengan areal PCG itu adalah menjadikan Kampung Gemblakan Bawah menjadi kampung wisata yang paling pas buat pejalan kaki, termasuk ramah anak. Sebagai bagian dari aksi pemasaran, kini berbagai acara dihelat di sana dengan memanfaatkan momentum tertentu: Agustusan, Ramadan, atau Tahun Baru ala Kampung Gemblakan Bawah.

Pascapenataan ulang, warga menyepakati aturan bersama yang dilakukan melalui musyawarah untuk dijalankan. Aturan tersebut dibuat dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan yang ada dan terangkum menjadi menjaga kebersihan fasilitas yang sudah ada, tidak memperbolehkan menggunakan ruas jalan di bantaran sungai untuk kendaraan bermotor, tidak boleh menjemur pakaian di bantaran Kali Code, dan mendorong warga untuk memanfaatkan fasilitas umum yang ada di Kampung Gemblakan Bawah untuk kegiatan-kegiatan kemasyarakatan. Misalnya, berjualan bagi yang mempunyai rumah di bantaran untuk penerapan konsep pemberdayaan ekonomi warga atau memperindah bantaran dengan menanam berbagai tanaman.

Warga yang mempunyai usaha di rumah yang berbatasan langsung dengan bantaran mendapat dampak serta merta. Produk industri lokal seperti makanan atau kerajinan karya penduduk dipromosikan, khususnya di acara setempat atau bila ada kunjungan ke lokasi. Dan, laris manis. Sebut saja Warung Soto Lumintu, Warung Bakmi Jawa Shinta, Warung Angkringan Mas Nur, Angkringan Pak Gombek, Warung Pak Yogo, atau Jamu Mbah Gayul.  Warung Kelontong Pak Bambang pun terlihat meningkat pendapatan dan asetnya, seperti juga Suvenir Agus, Batik Jumputan atau Sibori Ani Saptono, dan produk seragam Kacang Bawang Mbak Nur, Kacang Bawang Pak Purba, Kacang Bawang Bu Tumi, Kacang Bawang Pak Sanyoto, atau Kacang Bawang Mbak Rus.

Program penataan kembali dinyatakan tuntas dengan membentuk sebuah paguyuban yang diberi nama Komunitas PCG. Kelompok ini yang menjaga supaya PCG tetap asri secara fisik dan berkembang secara pemberdayaannya. Komunitas PCG mendorong warga di wilayah agar ikut adil memelihara bangunan dan fasilitas. Selain itu BKM Mataram pun menganggarkan dana dari swadaya warga, kepedulian sosial swasta (CSR), dan perguruan tinggi, yang bisa digunakan untuk pemeliharaan fisik dan pemberdayaan secara ekonomi dan sosial. Yuk, belajar dari kisah sukses Kampung Gemblak Bawah. [DIY]

 

Penulis: Aldian Nugraheni dan Endri Kusmaryadi, Tim Kota 4 Program Kotaku, D.I. Yogyakarta

Editor: Epn

0 Komentar