Beranda Warta Cerita Lorong Bakso Bangkit Kembali dengan Hidroponik

Lorong Bakso Bangkit Kembali dengan Hidroponik

Cerita Sosok Kotaku Kota Palu Sulawesi Tengah Comments (0) View (550)

Memulihkan diri dari trauma pascabencana yang menimpa rumah dan sekitarnya, tentu tidak mudah. Jika ada seseorang yang mampu mengatasi trauma pribadi, kemudian berlanjut membantu mengatasi trauma orang lain di sekitarnya, bahkan akhirnya malah sukses membangun kembali harapan masyarakat memulihkan perekonomian, orang itu (salah satunya) pastilah Nureda. Eda--begitu ia biasa dipanggil--adalah seorang warga Lorong Bakso, Kelurahan Besusu Barat, Kecamatan Palu Timur, Kota Palu, Sulawesi Tengah, yang didaulat menjadi Duta Lorong Bakso.

Gempa 7,4 SR yang menimpa Kota Palu pada 28 September 2018 lalu memang menghancurkan sejumlah bangunan, rumah-rumah, bahkan fasilitas umum di Lorong Bakso. Tembok dan tanaman cantik yang menghias Lorong Bakso, termasuk bantuan 50 bibit hidroponik dari pemda, rusak berantakan. Hal ini menyisakan trauma cukup mendalam di pikiran dan hati warga, termasuk Eda sebenarnya. Namun, ia menolak larut dalam ketakutan dan kedukaan.

"Dalam keadaan rapuh trauma, saya ingat, jika saya terbelenggu dengan perasaan ini, bagaimana anak-anak saya yang masih butuh perhatian. Dan juga, keadaan lingkungan yang jadi kurang nyaman dilihat mata, rusak berhamburan. Makanya saya kuatkan hati untuk melawan perasaan itu. Apalagi mengingat betapa mubazirnya bantuan pemerintah disia-siakan, padahal itu bisa menambah ekonomi," kata ibu empat anak itu.

Dengan tekad kuat, Eda mulai mengumpulkan sejumlah keluarga dan anak-anak. Ia memberikan penyuluhan, bagaimana cara mengatasi ketakutan/trauma pascabencana. Upaya ini berhasil. Perlahan tapi pasti, semangat hidup warga mulai pulih. Ia melanjutkan upaya memulihkan kondisi Lorong Bakso. Perhatiannya terpusat ke bibit hidroponik yang sebagian besar hancur itu.

"Saya bangkit, membuat bibit kembali, memperbaiki yang rusak dan mengatur semuanya. Alhamdulillah dalam jangka dua minggu sudah mulai kelihatan. Pada saat panen (hidroponik) pertama, semua orang datang melihat dan tergugah untuk berbuat yang sama. Pada akhirnya ibu-ibu di sini saya yang pandu dalam hal pembuatan bibit, menyemai penanaman. Sampai sekarang kegiatan ini masih berjalan," jelas Eda. [Redaksi]

 

Dokumentasi lainnya:

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.