Beranda Warta Cerita Kisah Limbah Rumah Versi Jayengan

Kisah Limbah Rumah Versi Jayengan

Cerita Jawa Tengah Surakarta Septic Tank Komunal Infrastruktur Sanitasi Comments (0) View (387)

Sedikitnya, ada 21 kepala keluarga di Rukun Tetangga 04 Rukun Warga 09, Kelurahan Jayengan, Kota Surakarta, Jawa Tengah, yang bermasalah dengan pengelolaan limbah rumah tangga. Solusi kondisi tadi langsung dengan mudah terjawab: septic tank komunal. Tujuannya, supaya air limbah tak langsung terbuang tanpa pengelolaan dan mencemari lingkungan. Persoalan serius inilah yang tengah diatasi Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Sadewo, dari Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku), beberapa waktu silam.

Proses pembangunan septic tank komunal langsung menemui beberapa kendala. Misalnya, penentuan titik septic tank lantaran warga ketakutan pembangunannya bakal berdampak ke sumur mereka. Saat itulah ajang urun rembuk antara warga, jajaran kelurahan, dan fasilitator, pelaku Program Kotaku—termasuk KSM Sadewo—digelar di Gedung Perumahan dan Kawasan Permukiman Kota Surakarta. Sejalan dengan waktu, akhirnya seorang warga mengamini permintaan membangun septic tank di pekarangannya.

Semua pihak sepakat berkolaborasi: Pemerintah Kelurahan Jayengan, warga, dan KSM Sadewo. Ketiga unsur wilayah ini saling memberikan motivasi supaya semangat tak kunjung padam. Hasrat kebersamaan ini dipupuk subur walau pastinya sempat sekali dua surut sesaat. Walau belakangan, seluruh pembangunan septic tank tuntas dan langsung dimanfaatkan warga setempat.

Dampak ketiadaan sistem pengelola limbah di RT 04 RW 09 memang memprihatinkan. Dari segi lingkungan, limbah rumah tangga yang ada sempurna meresap ke dalam tanah dan mengalir ke air sungai. Air limbah di tanah memengaruhi kualitas tanaman. Begitu pun saat air limbah meresap, alirannya bercampur dengan air di dalam sumur, yang masih aktif digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Beragam bakteri dari limbah pun ditanggung pasti mencemari kualitas air sungai, mematikan tumbuhan dan satwa di sungai.

Air limbah yang berasal dari kakus mengandung bakteri E-Coli memicu penyakit tifus, diare, dan kolera. Air buangan kakus yang tak diolah dan dialirkan ke alam berpeluang mencemari ditilik dari sisi kesehatan. Selain itu, jarak septic tank dengan sumur didaerah permukiman padat cukup dekat, maka apabila air limbah tidak diolah terlebih dahulu akan dapat mencemari sumur warga.

Tentu, air sumur yang dimasak mampu mengurangi jumlah kandungan bakteri. Kendati demikian, beragam bakteri yang ada tetap dapat menyebar melalui proses cuci piring, mandi, gosok gigi, yang tak melalui proses masak.

Dari segi estetika, limbah cair tak terolah akan sama-sama bermasalah seperti limbah padat. Bau yang diakibatkan mencemarkan kualitas udara, dan tumpukannya pun tak sedap dipandang mata.

Namun kini, itu semua sudah tak lagi menjadi kisah di RT 04 RW 09 Kelurahan Jayengan. Selamat! [Jateng]

Dokumentasi lainnya

 

 

Penulis: Septyani Widyastuti, Fasilitator Urban Planner, Tim Faskel 007 Korkot Surakarta, OSP Kotaku Provinsi Jawa Tengah

Editor: Epn

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.