Beranda Warta Cerita Pola Infrastruktur Berbasis Masyarakat Itu Nyata

Pola Infrastruktur Berbasis Masyarakat Itu Nyata

Cerita Infrastruktur Berbasis Masyarakat Surabaya Kampung Dinoyo Comments (0) View (354)

Ketika seorang dosen praktisi Teknik Sipil Bidang Perumahan dan Permukiman hadir di kelas kami—Manajemen Aset Infrastruktur (MAI), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Ia menjelaskan, ada jenis program yang melibatkan langsung partisipasi masyarakat mulai dari perencanaan, pembangunan/konstruksi hingga pemanfaatan dan pemeliharaan. Dijelaskannya program-program bedah kampung mulai dari Kampong Improvement Program (KIP), Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP), Sanitasi Berbasis Masyarakat (Sanimas), Penyediaan Air Minum Berbasis Masyarakat (Pamsimas) hingga Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM). Beliau sempat mendengar Kota Tanpa Kumuh (Kotaku), tetapi belum begitu familiar.

Pada mata kuliah ini, mahasiswa MAI mendapatkan tugas melakukan survei kampung yang ada di Kota Surabaya, yaitu Kampung Dinoyo dan Kampung Surabayan. Kedua kampung ini merupakan kampung tertua di Kota Surabaya, dan sudah mendapatkan intervensi dalam pengembangan permukiman kampung. Kami, kelompok dua, mendapatkan Kampung Dinoyo yang terletak di Kelurahan Keputran. Anggota kelompoknya terdiri atas Lisda Nita Suryani Simbolon, Marlena, dan saya, yang berasal dari Ditjen Cipta Karya, Ravinda Wahyu Kiranasari dan Taurista Yuristanti dari Ditjen Bina Marga, dan Rochmad Affandi dari Ditjen Sumber Daya Air.

Kegiatan bedah kampung (berbasis masyarakat) ini belum familiar untuk teman-teman kelompok, karena mereka terbiasa dengan infrastruktur yang besar seperti jalan, jembatan atau bendungan. Karena saya teringat dengan Kotaku, maka saya menghubungi Koordinator Kota Surabaya Iwan—Eddy Iwantoro—untuk memfasilitasi kami melakukan bedah Kampung Dinoyo tersebut, mulai dari dokumen RPLP, Baseline, hingga profil Kampung Dinoyo.

Pertama kami bertemu dengan Lurah Keputran—seorang wanita—yang saat itu sudah siap untuk berdiskusi dengan kami. “Saya lurah baru di Kelurahan Keputran ini, tetapi saya sudah dapat melihat warga di Kelurahan Keputran ini sangat guyub, saling gotong royong jika ada kegiatan warga dan toleransinya sangat tinggi sekali,” kata sang lurah. Hadir juga Koordinator BKM yang dengan jelas menceritakan perkembangan Kelurahan Keputran, mulai dari zaman P2KP hingga Kotaku saat ini. Sudah banyak kegiatan yang dihasilkan dari program-program tersebut dan dinilai sangat efektif karena melibatkan masyarakat mulai dari tahapan perencanaannya. Kami pun diajak untuk melihat RW 03 dan 04 sebagai pusat permukiman masyarakat.

Teman-teman pun mulai berdiskusi dengan warga Kelurahan Keputran, seperti Taurista yang bertanya kondisi RW 03 sebelum adanya pembangunan jalan dan drainase lingkungan. Lalu Lisda yang bertanya terkait kondisi kesehatan masyarakat terkait prasarana sanitasi yang belum sepenuhnya memadai, dan masih banyak pertanyaan untuk menggali informasi langsung dari masyarakat.

“Kalau kayak gini jelas ya, Mas, masyarakat butuhnya apa, dibuat perencanaannya, terus mereka juga yang kerjain gitu, lho,” kata Marlena saat kami menyusuri RW 03 Kelurahan Keputran. Yang membuat semakin yakin bahwa kegiatan berbasis masyarakat itu ada, ketika salah satu UPL bercerita bahwa di RW 03 belum ada prasarana untuk penanganan kebakaran. Tapi ketika sempat terjadi kebakaran, masyarakat sekitar langsung bergotong royong melalui jalan yang sempit mengambil air untuk memadamkan api tersebut. “Mungkin karena mereka juga takut rumahnya kebakaran gitu, mas?” Kami jadi tertawa.

Di RW 04 kami juga melihat pembangunan MCK dari tahun 2014 yang hingga saat ini masih beroperasi dengan baik dan terawat bersih. Kebetulan waktu itu kami juga bertemu dengan KPP yang memelihara MCK tersebut. “Kalau di sini sih ada jadwal buat bersih-bersihnya. Jadi hari ini siapa yang bagian sapu, siapa yang sikat kamar mandi, sudah jelas pembagiannya. Kalau ada masyarakat yang pake MCK-nya, ya ada kotak kencleng gitu, gak ditarifin berapa, seikhlasnya aja. Dari situ bisa buat biaya pemeliharaannya gitu, Mas” jelas Ibu KPP.

Setelah menyusuri Kampung Dinoyo, kami kembali ke Kantor Kelurahan untuk pamit kepada Bu Lurah dan Tim Korkot Kotaku Surabaya yang sudah mendampingi, serta foto bersama untuk dokumentasi. Pada pertemuan kuliah berikutnya kami memaparkan hasil survei Kampung Dinoyo kepada dosen dan teman-teman kelompok lain. “Program-program yang melibatkan masyarakat ini memang efektif, ya, selain melibatkan masyarakatnya mereka juga membentuk sebuah lembaga yang dapat mewakili aspirasi masyarakatnya itu, yaitu BKM itu sendiri. Dan program seperti ini bisa sustain, ya karena masyarakat dilibatkan untuk menjadi bagian dari pembangunan,” papar dosen, usai kami menyampaikan hasil survei kampung tersebut. [PL-Pemda]

Dokumentasi lainnya:

 

Penulis: Reyhan Firlandy, Asisten Pengendalian Pelaksanaan Satker PKPBM (yang saat ini sedang melanjutkan studi S2 di ITS)

Editor: Nina Razad

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.