Beranda Warta Cerita KBIK Unik Antisipasi Pasca-Februari

KBIK Unik Antisipasi Pasca-Februari

Cerita Jawa Timur Mojokerto KBIK Comments (0) View (714)

Kecemasan di wajah-wajah itu tak bisa disembunyikan. Senior Fasilitator (SF), Fasilitator Kelurahan (Faskel) Sosial, Faskel Teknik/Urban Planner (UP), Faskel Ekonomi, dan Tim Korkot Cluster 02 yang berjumlah 60-an orang itu bersimpuh di lantai Pendopo Perguruan Asy Syarif Brangkal, Mojokerto. Hari itu, Senin (25/2) selepas dzuhur, mereka berkumpul dengan harap-harap cemas. Sudah lima hari sejak Test Online, pada Rabu (20/2), yang dilaksanakan dalam rangka seleksi Fasilitator Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) sudah mereka lalui. Saatnya menunggu pengumuman hasil seleksi. Tapi sampai berselang 5 hari, pengumuman yang dimaksud tak kunjung tiba.

Hingga akhirnya pengurus Kelompok Belajar Internal Konsultan (KBIK) Mojokerto Raya (Kabupaten dan Kota Mojokerto) berinisiatif melaksanakan pertemuan siang itu. “Kita sengaja mengundang seluruh Fasilitator Mojokerto Raya sebanyak 50 orang dan Tim Korkot untuk berkumpul di Pendopo ini dalam rangka saling berbagi dan menguatkan antarFasilitator KOTAKU,” ujar Presiden KBIK Ahmad Ali, ketika acara dimulai. Mereka menyadari bahwa akan menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang tidak diharapkan, yaitu tidak bisa lanjut mendampingi Program Kotaku yang mereka cintai.

Sangat kentara bahwa Ahmad Ali berusaha melontarkan joke untuk menghibur mereka yang hadir. Namun, raut wajah cemas masih tampak di sela-sela senyum dan tawa pendamping Kotaku Kabupaten dan Kota Mojokerto tersebut. “Sepahit apapun hasil seleksi yang akan kita hadapi, kita harus bisa menerima dan segera move on, sembari terus berdoa agar kita bisa lolos seleksi,” ujar Ahmad Ali, yang juga SF Tim 43 ini, dengan nada datar.

Selesai sambutan “Presiden KBIK”, masing-masing peserta dipersilahkan untuk sukarela berbicara. Askot Mandiri Kota Mojokerto mendapatkan giliran pertama menyampaikan gagasan dan motivasi. “Dua tahun lalu, saya sudah mengalami,” jelas Yani Zamroni sambil berdiri. Yani menceritakan, pada April 2017, ketika ada pengurangan pendamping Kotaku, ia termasuk yang tidak lolos. Dengan rinci, Yani menceritakan betapa sedih dan pahit yang dirasakan. Setelah hampir 20 tahun menjadi pendamping program, harus berhenti tanpa persiapan apapun. “Satu hingga dua bulan, saya masih bertahan dengan sisa uang tabungan. Tapi masuk bulan ketiga dan keempat, sangat terasa kehidupan ekonominya semakin sulit,” kenang Yani. Cerita tersebut membuat peserta tampak semakin kecut. Mereka membayangkan jika mengalami hal serupa. Tidak lolos tes lalu menganggur.

Yani Zamroni melanjutkan pengalamannya, bahwa selama empat bulan ia berusaha bekerja apa saja, termasuk usaha di bidang pertanian. “Dan yang penting juga adalah tetap menjaga hubungan baik atau silaturahmi dengan teman-teman yang masih mendampingi Program Kotaku,” nasihat Yani dengan penuh semangat, “Karena ketika ada lowongan atau kesempatan bergabung kembali di Kotaku, saya termasuk yang diprioritaskan.”

Tidak sampai di situ, Yani yang juga pernah menjadi Sub TA di  OSP 6 Kotaku Jawa Timur juga mengajak Fasilitator menggali potensi, selain menjadi pendamping atau konsultan Program Kotaku. “Sebenarnya banyak potensi yang dimiliki oleh teman-teman Faskel,” katanya. Ternyata dari hasil telaah Yani Zamroni, banyak potensi yang bisa dikembangkan selain menjadi Fasilitator. Misalnya, teman-teman Faskel Teknik bisa mengembangkan relasi dengan perusahaan atau kontraktor, baik di bidang perencanaan, pelaksanaan atau pengawasan.

“Bahkan Mas Hanif atau Mas Yohan sudah memulainya,” Yani memberi contoh Faskel Teknik yang sudah merintis menjadi pemborong. Satu-per satu potensi Faskel disebutkan: ada yang bisa kembali konsentrasi mengajar, mengembangkan warung, memproduksi sepatu, bisnis online, menggarap sawah, bisnis properti, dan sebagainya.

“Ternyata banyak ya, potensi kita,” kata Faskel UP Anis, lirih, menanggapi ucapan Yani itu.

Cerita lain, “Walaupun saya tidak seperti Mas Yani yang sempat off selama kurang lebih 4 bulan, tapi mengalami shock juga ketika April 2017 saya termasuk yang tidak lulus,” kata Korkot C02 Sri Suhartiningsih, ketika mendapat giliran berbicara. Semakin tegang raut muka Faskel. Lamunan mereka semakin liar. Korkot saja pernah tidak lulus, gumam Didik salah satu SF, di sela-sela ucapan Sri.

“Tentu saya kecewa dan sedih, bahkan menangis,” lanjut Sri, yang telah bergabung di Program sejak tahun 1999 itu. Satu dari sedikit Korkot perempuan di Jawa Timur ini bercerita, dia bisa bergabung lagi dengan Program Kotaku karena kebetulan berada pada posisi cadangan 1, dan calon Korkot yang lolos ternyata mengundurkan diri. “Tapi kalau kita berkinerja baik, memiliki reputasi baik, profesional dan sungguh-sungguh, tawaran pekerjaan itu akan datang sendiri,” tegas perempuan kelahiran Banyuwangi ini.

Sri juga mengatakan, ketika tidak lolos sebagai Korkot di Kotaku, ia langsung mendapat tawaran dari program lain untuk menjadi Korkot, tapi ia tidak menerimanya. Hingga ada kesempatan dari Kotaku menghampirinya lagi. “Jangan risau, Insya Allah teman-teman yang tidak lolos, akan mendapatkan gantinya, bahkan mungkin lebih baik,” ujar Korkot C02 yang berdomisili di Malang tersebut.

Pengalaman serupa juga disampaikan oleh Asmandat C02 Welly dan Askot KK C02 Haris. Mereka sama-sama pernah tidak lolos, atau kontrak tidak diperpanjang oleh Program. Tapi mereka tetap bisa eksis berusaha mencari nafkah di tempat lain. Dan ketika ada kesempatan bergabung lagi dengan Program (Kotaku), mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. “Yang penting, berprasangka baik pada Allah SWT, terus berusaha dan selalu berdoa,” ujar Haris.

Tidak hanya menceritakan pengalaman kegagalan saat test atau tidak diperpanjang oleh program, Askot MK Halim Fawazi memberi tips agar Faskel siap jika sewaktu-waktu diputus kontrak oleh Program. “Pastikan kita tidak hanya punya satu sumber, tapi harus lebih dari satu sumber penghasilan,” tegas Askot yang berasal dari Bawean tersebut. Halim menjelaskan, selama sumber penghasilan kita tidak bertentangan dengan kontrak atau aturan dalam Program tentu tidak masalah. Misalnya, kita punya investasi atau usaha yang tidak mengganggu aktivitas kita sebagai konsultan. “Saya di rumah punya usaha bisnis baju muslimah yang dikelola oleh istri saya,” sambung Halim dengan semangatnya. Tips dari Halim Fawazi sedikit memberi harapan pada 50-an Faskel untuk tetap semangat.

Menyulut semangat ditambahkan oleh Askot SG Ichvan. Personel satu ini berpengalaman jadi Faskel/SF, Askot Infra, Korkot, dan Askot. Ia mengatakan, Faskel harus “nakal”. Tapi arti “nakal” di sini bukan membuat onar dan masalah, melainkan kreatif dan out of the box, tidak terpaku dengan satu hal saja.

KBIK kali ini memang bertujuan menyambung rasa menjelang akhir kontrak. Menguatkan jaringan dan mental Faskel untuk menghadapi kemungkinan terburuk jika tidak diperpanjang. Acara ditutup dengan doa oleh Faskel Sosial paling senior, Suhardjo. Sebelum memimpin doa, Suhardjo menyampaikan 2 hal: info lowongan kerja pemberdayaan di Kalimantan dengan gaji hingga Rp 9 juta. Dan, yang kedua, sebuah nasihat penting, “Apapun hasilnya nanti, kita harus ikhlas menerimanya. Karena jika kita ikhlas, Allah akan mengganti dengan yang lebih baik.”

Nasihat terakhir yang disampaikan dengan khidmat tersebut sepertinya sangat berpengaruh kepada Faskel yang datang hari itu. Gestur mereka menunjukkan kerelaan, ikhlas, menerima apapun keputusan Allah akan hidup mereka pasca Februari.

Sebelum bubar KBIK, mereka menyempatkan berfoto bersama. Suasana penuh kegembiraan, dibalut rasa haru karena akan berpisah. Namun, rasa kekeluargaan sangat jelas tergambar di wajah mereka. Ketika berfoto bersama barulah mereka menyadari, tulisan besar di atas pintu gebyok sebagai background foto adalah “Business Day”. Apa mungkin ini tanda-tanda alam, agar kita berpikir tidak hanya menjadi konsultan, tapi juga bisa berbisnis atau wirausaha? Wallahua’lam.. [Jatim]

Penulis: Abdul Adjis, Askot Mandiri Kabupaten Mojokerto, OSP Kotaku Provinsi Jawa Timur

Editor: Nina Razad

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.