Beranda Warta Artikel Fasilitator Kotaku, Ayo Bekerja dengan “Hati”

Fasilitator Kotaku, Ayo Bekerja dengan “Hati”

Artikel Etika Kerja Sumatra Utara Medan Comments (0) View (606)

Teringat ucapan (mantan) Kepala Sub Direktorat PKP Direktorat Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Boby Ali Azhari, “Mari Bekerja dengan Hati” dalam sesi penutupan acara Pembekalan Oversight Consultant (OC)/Oversight Service Providers (OSP) dan Technical Management Consultant (TMC) Program Kotaku 2019 di Jakarta Barat, pada Jumat (25/1). Acara yang berlangsung pada 21 - 25 Januari 2019 itu dihadiri oleh 173 peserta Team Leader (TL), Tenaga Ahli OC, OSP, dan TMC.

Memang, banyak orang bekerja dengan otak dan otot tanpa melibatkan hatinya. Lantas, sudahkah kita melibatkan hati dan niat yang tulus saat bekerja? Atau jangan-jangan selama ini kita cuma menggunakan otak dan otot yang membuat pekerjaan kita semakin berat dari waktu ke waktu, hingga jatuh ke dalam kondisi stres.

Bekerja memang tak pernah mudah. Akan selalu ada hal-hal yang membuat kita capek, lelah, dan tertekan. Bahkan, berbagai hal dan persoalan membuat bekerja bisa terasa begitu menyiksa. Saat berangkat pagi hari menuju kantor pun bisa terasa begitu berat. Ketika bekerja setiap hari, kita akan selalu menghadapi berbagai ujian dan tantangan baru. Ada kalanya semua terasa berat. Ada kalanya ingin menyerah saja. Tapi, kita perlu kembali mengingatkan diri, untuk apa sebenarnya kita bekerja? Untuk apa kita capek-capek bekerja?

Hidup bukan pemberian, melainkan amanah yang kelak akan diminta pertanggungjawabannya. Oleh karena itu, harus berhati-hati dalam menjalani hidup. Siapapun harus mampu mempergunakan hari sesuai dengan kehendak Sang Pencipta yang mengamanahkan hidup itu. Manusia tidak boleh lupa bahwa hidup tidak akan berjalan tanpa ada komando. Dan, komando yang paling baik itu adalah hati. Baiknya komando hati akan membuat semua pasukannya akan baik.

Bekerja dengan hati mengingatkan akan arti pentingnya setiap manusia agar bekerja secara maksimal dan tidak asal-asalan. Bekerja dengan melibatkan seluruh kemampuan yang dimiliki. Menggunakan kemampuan fisik, psikis, kecerdasan, dan semua potensi yang dianugerahkan Sang Pencipta. Kesadaran bahwa bekerja harus secara total dan serius, bukan sekadar memenuhi tugas dan kewajiban yang dipikulkan di pundaknya—untuk menggugurkan tugas saja. Bekerja dengan hati adalah bekerja menggunakan semua fasilitas yang dimiliki. Hati sebagai penggerak kehidupan akan besar sumbangannya untuk mendorong pemiliknya bekerja lebih giat, keras, tak mudah menyerah dan cepat puas. Bekerja dalam kondisi psikologis yang mantap, hati tenang dan jiwa bersemangat dipastikan akan menghasilkan nilai lebih (value added) bagi capaian yang diharapkan. Bekerja dalam suasana hati yang jernih dan bersih dipastikan mendorong orang menjadi lebih produktif dan berhasil.

Kenapa Harus Menggunakan Hati?

Menurut ilmuwan independen dan penasihat kepemimpinan yang menekankan pada ilmu saraf Robert K. Cooper, hati mengaktifkan nilai-nilai kita yang paling dalam. Mengubahnya dari sesuatu yang kita pikir, menjadi sesuatu yang kita jalani. Hati tahu hal-hal yang tidak, atau tidak dapat, diketahui oleh pikiran. Hati adalah sumber keberanian dan semangat, integritas dan komitmen. Hati adalah sumber energi dan perasaan mendalam yang menuntut kita belajar, menciptakan kerja sama, memimpin dan melayani.

Ketika kita bekerja dengan hati, kemauan kita akan lebih kuat. Pikiran kita akan semakin tajam, sehingga akan lebih produktif dibanding bekerja tanpa hati. Dorongan hatilah yang menggerakan pikiran, kemauan, dan tindakan kita melakukannya.

Bagaimana bekerja dengan hati? Mulailah dengan lima langkah berikut ini. Pertama, tetapkan tujuan dalam hati. Banyak tujuan yang bisa kita temukan ketika bekerja, mungkin untuk mendapatkan uang, pengalaman, posisi atau gensi dan beberapa tujuan lainnya. Namun dalam persaingan bisnis yang ketat dan di tengah kesulitan akibat berbagai krisis, mereka yang bekerja digerakkan oleh tujuan-tujuan mulia yang lahir dari hati nurani seringkali bertahan dan meraih sukses.

Kedua, temukan kepuasan dalam hati. Kepuasan finansial, kepuasan karir, dan kepuasan-kepuasan lain yang bersifat fisik tidak akan ada habisnya, sehingga seringkali membuat orang lupa diri dan terjerat dalam penyimpangan-penyimpangan yang akhirnya menimbulkan persoalan besar. Pencarian kepuasan batin atau hati akan menjaga seseorang melakukan cara-cara yang benar dan aman dalam bekerja.

Ketiga, bekerja dengan ketetapan hati yang teguh. Halangan dalam bekerja adalah kondisi mental hati kita. Kurang antusias, kalah sebelum berperang, perasaan kurang mood dan berbagai kondisi mental yang melemahkan lainnya akan menjadi penghalang kesuksesan kita. Jika kita yakin terhadap motivasi hati yang bersih dan yakin dengan tujuan-tujuan mulia. Maka, apapun halangannya akan dapat kita atasi dengan ketetapan hati yang teguh. (Saleh, Muwafik, 2005. Bekerja dengan hati nurani, Erlangga, Jakarta).

Keempat, bangun tim dengan hati. Tidak ada orang yang bisa sukses maksimal dengan bekerja sendirian. Bekerja sama dengan tim maka kita dapat mencapai hasil lebih maksimal. Tim yang kuat, utuh solid dan kompak, hanya bisa diwujudkan melalui hati satu sama lain.

Kelima, bekerja dengan sepenuh hati. Apapun yang dikerjakan dengan sepenuh hati, keseriusan, fokus, dan totalitas akan menghasilkan kualitas prima. Kesuksesan selalu diraih oleh mereka yang bekerja dengan segenap hatinya.

Saat ini, sering kita temui kondisi dan suasana kerja di lingkungan kantor. Misalnya, ada rekan kerja yang kurang atau belum melaksanakan pekerjaannya sesuai dengan hati. Begitu juga yang bekerja di lapangan, yang terjun berhadapan langsung dengan masyarakat luas, segala persoalan akan dihadapkan kepada kita. Contoh lain, punya teman yang tidak becus bekerja malah membuat satu tim kena getahnya, atau bekerja tidak secara tim—hanya namanya saja yang kerja tim. Jika kita telah menanamkan dalam hati nurani bahwa kita bekerja dengan setulus hati dan hanya mengharapkan ridho Sang Pencipta maka dalam kondisi dan suasana kerja apapun kita tidak akan mudah terbawa arus, dan akan sangat tegar menghadapi segala sesuatunya.

Dalam bekerja, kita pasti akan menemukan berbagai hambatan dan masalah. Semuanya akan kita temukan di manapun kita bekerja. Saat menghadapi hambatan itulah kegigihan dan kesabaran kita diuji. Apabila kita tidak mampu menghadapinya dengan baik maka hambatan-hambatan tersebut hanya akan menimbulkan ketidaknyamanan. Pikiran kita setiap hari hanyalah: "Kapan resign? Kapan resign?" Tapi kalau kita mampu menghadapinya dengan baik, akan berpikir: "Tempat ini yang membuatku bertumbuh dengan luar biasa."

Memang lelah, tapi kita harus sabar dalam bekerja. Itu akan memberi makna yang begitu berharga. Lebih dari sekadar gaji atau upah bekerja. Bekerja bisa membuat hidup lebih mulia bila dilakukan dengan niat dan hati yang tulus. Ini juga pelajaran dan sebenarnya pengingat untuk diri sendiri. Ketika lelah dan ingin menyerah saja saat bekerja, itu tandanya kita perlu bersujud lebih lama. Karena Sang Penggenggam Jiwa sungguh tahu itu semua. Mengutip Imam Syafi’i: Bersibuk-sibuklah selalu karena kenikmatan hidup itu ada pada saat kita bersibuk-sibuk.

Untuk sabar dan selalu bersungguh-sungguh melakukan suatu pekerjaan memang bukanlah hal yang mudah. Ada proses panjang yang harus dilewati. Perjuangannya pun bisa membuat kita berulangkali jatuh bangun. Meniti karier dari nol, misalnya, kita harus siap untuk menaiki satu per satu anak tangga untuk bisa sampai ke puncak. Tapi dengan begitu, keberkahan dan kenikmatannya akan terasa luar biasa ketika kita berhasil mencapai target, sama halnya dengan kita bekerja, ada kepuasan tersendiri ketika kita mampu mencapai target-target yang sudah ditetapkan dalam pekerjaan kita.

Seseorang yang memiliki etos kerja profesional akan memiliki penilaian bahwa kerja dan pekerjaan itu adalah rahmat dari Sang Pencipta. Oleh karena itu, kita harus selalu mencintai pekerjaan kita dan memiliki hati yang berlimpah syukur. Dengan syukur tersebut maka kita tahu persis posisi kita, pekerjaan kita, dunia, dan Sang Pencipta. Dengan selalu bersyukur dalam mengerjakan tugas dan memberikan pelayanan kepada pengguna jasa/stakeholder maka kita akan selalu ikhlas. Tidak ada rasa ingin dipuji oleh orang lain baik teman maupun atasan, dan kita harus yakin bahwa setiap pekerjaan yang dilakukan akan ada balasannya, karena niat kita dalam melaksanakan pekerjaan semata-mata untuk mencari ridho Sang Pencipta (Madjid Nurcholish, 1995. Pintu-Pintu Menuju Tuhan, Paramadina, Jakarta).

Berikut kutipan motivasi dari Mario Teguh, “Bila Anda mencari uang, Anda akan dipaksa mengupayakan pelayanan terbaik. Tetapi jika Anda mengutamakan pelayanan yang baik maka Andalah yang akan dicari uang.” Ungkapan ini benar adanya, namun kebanyakan tidak melakukannya.

Untuk itu, mari, bekerja dengan hati yang ikhlas agar kita jadi bagian orang yang dicintai-Nya. Ada pesan yang menarik dari Imam Al-Ghazali: “Sesungguhnya semua manusia merugi, kecuali mereka yang berilmu. Sesungguhnya semua manusia yang berilmu merugi, kecuali mereka yang beramal. Sesungguhnya semua manusia yang beramal merugi, kecuali mereka yang ikhlas. Tanpa rasa ikhlas, apa yang kita kerjakan bisa bagaikan debu yang hilang terembus angin, tak berbekas dan tak memberi kebahagiaan. Karenanya, mari mengerjakannya dengan kesungguhan hati dan mencintainya, agar kita bisa menerima apa yang kita kerjakan, jika belum dapat dilakukan, mohonlah pertolongan sang pencipta agar dia membantu kita bekerja dengan hati yang penuh rasa cinta. [Sumut]

Penulis: Taufik Hidayat Pulungan, TA Komunikasi OC 2 KMW Kotaku Provinsi Sumatera Utara

Editor: Nina Razad

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.