Beranda Warta Cerita Jangkuk Ampenan, Cikal Bakal “Singapura”-nya NTB

Jangkuk Ampenan, Cikal Bakal “Singapura”-nya NTB

Cerita NTB Mataram Skala Kawasan Comments (1) View (270)

Satu saat kelak, air Sungai Jangkuk nan bersih akan mengalir membelah ruang terbuka hijau (RTH) yang sejuk dan ramah pemandangan bagi siapa pun yang bertandang. Kawasan bantaran sungai di Kota Ampenan, Mataram, pun berubah wujud menjadi wisata kota: tempat bermain, belajar, dan rekreasi keluarga dan wisatawan, bak melenggang di Negeri Singa, Singapura. Itulah imajinasi besar Rosiady Sayuti, eks Sekretaris Daerah Nusa Tenggara Barat, yang dituangkannya dalam sebuah narasi bertajuk Membangun Singapura Besar Bernama Lombok.

Mimpi Rosadi seperti gayung bersambut dengan asa Gubernur NTB Zulkieflimansyah dan Wali Kota Mataram Ahyar Abduh. Keduanya yakin, kawasan Jangkuk bisa “disulap” menjadi wisata kota berupa tempat aktivitas keseharian buat keluarga sekaligus turis lokal dan mancanegara. Mereka bersantai menikmati keindahan alam sekaligus melepas penat dari rutinitas keseharian.

Camat Ampenan Muzakkir Walad alias Ompu Dzeko pun mengamini. Namun bagi dia, bayangan pesona Negeri Rumpun Melayu itu tak serta merta berarti men-Singapura-kan Sungai Jangkuk dalam hal tata desain. Sebab Jangkuk adalah bagian dari Kota Tua Ampenan, kawasan warisan sejarah dan sosial yang harus dikelola dengan prinsip kearifan lokal dan sejarah yang mesti dipertahankan. Walau, Ompu menambahkan, rencana perbaikan tata ruang yang mengedepankan modernisasi tetap menjadi urgensi pemerintah daerah provinsi dan kota dengan menghadirkan semangat lokalitas, pelestarian lingkungan, dan semangat perbaikan tata kelola kota.

Singapura adalah pengejawantahan dari sebuah wilayah dengan semenanjung kecil. Kawasan bandar padat penduduk itu memiliki luas daratan yang 10 kali lebih kecil dari Pulau Lombok, atau tak lebih dari 500 kilometer persegi. Letak strategis menjadikannya pelabuhan pusat persinggahan lintas negara.

Ibu kota negaranya ditata indah, nyaman, dan efisien; kawasan bisnis yang rapi dan tak pernah tidur; lengkap dengan RTH-nya; saluran sanitasi jernih dan sentralistik; pun pedestrian yang bersih dan aman untuk dilalui. Fakta itu tersebar di banyak sudut kota.

Kota Mataram, khususnya wilayah Kota Tua Ampenan, kini mulai bangkit bergeliat dan berbenah. Mimpi ‘Berwajah Singapura’ juga bukan tanpa alasan. Sebagai kota pelabuhan yang dikelilingi Daerah Aliran Sungai Jangkuk dari ujung timur hingga barat pusat kota, bayangan eksotisme kota kaya nuansa sejarah dengan beragam ornamen tua peninggalan masa kolonial Belanda yang masih kokoh berdiri. Secara geografis, jejak lalu lintas perdagangan penuh kenangan Ampenan memiliki kemiripan dengan negara tetangga tersebut.

Sejumlah konsep penataan kawasan pun segera digagas dan dimatangkan demi memperindah dan mempercantik penampilan Kota Mataram di masa mendatang. Tim Program Kota Tanpa Kumuh NTB yang hadir dalam rapat koordinasi dengan Pemerintah Kota Mataram menyiapkan master plan pembangunan kawasan untuk mendukung kebijakan Pemprov NTB dan Pemkot Mataram buat penataan lingkungan. Hasilnya, paparan Koordinator Kota Program Kotaku Mataram Hartati mengelaborasi pengelompokan kawasan kumuh dan konsep penanganan yang membagi area menjadi: Pesisir Ampenan, DAS Jangkuk, DAS Ancar, Perdagangan dan Jasa, dan Non-Kawasan.

Memang tak semudah membalik telapak tangan. Pasalnya, ada persoalan lama mengular di Ibu Kota Pulau Seribu Masjid. Pertambahan jumlah orang berimbas pada tingkat kepadatan penduduk dan sanitasi yang jauh dari standar baku plus pencemaran lingkungan. Kondisi hunian pun banyak yang tidak menghadap ke sungai, terkesan berantakan dan kumuh. Potensi kebakaran amat mungkin terjadi karena posisi rumah tak beraturan dan berdekatan. Alhasil, ruang main anak masih di awang-awang untuk diwujudkan. Kondisi tebing sungai berpeluang longsor karena labil erosi lantaran tergerus arus deras air. Hal itu ditambah polemik sosial karena sebagian warga ngotot menguasai lahan secara ilegal di sekitar bantaran sungai.

Berbekal kondisi itulah, Tim Program Kotaku NTB merekomendasikan kerja kolaboratif dan komunikatif antara pemerintah, swasta, dan masyarakat. Gabungan kerja sama ketiganya diharapkan mampu mengawal dan mensosialisasikan gagasan pentingnya tata ruang kota dan sosial yang rapi, dan berdampak bagi kepentingan kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya serta manfaatnya yang besar bagi kemajuan masyarakat setempat.

Proyeksi memoles ulang wajah masa depan Kota Mataram pun diyakini menghadirkan dampak lanjutan terhadap ruang-ruang sosial positif yang dinamis, sejahtera secara ekonomi karena tercipta keamanan dan kenyamanan dunia usaha. Tentunya, menjadi destinasi kota wisata berkonsep green riverside dan sunset road di pesisir pantai dan kota tua yang memanjakan setiap mata memandang bakal mampu menjawab rasa rindu akan nilai sejarah dan sosial budaya yang dulu pernah digdaya. Di titik inilah, bayangan “Singapura” lokal bernama Mataram, terasa nyata di hadapan mata. Semoga. [NTB]

Dokumentasi lainnya:

   

Penulis: Astar Hadi, Sub TA Komunikasi OSP 5 Kotaku Provinsi NTB

Editor: Epn

1 Komentar


  1. Posted by riyan.sbw | Aug 22, 2019

    Semangat NTB

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.