Beranda Warta Cerita Ketika Kripik Jengglik Ludes di Sukowati

Ketika Kripik Jengglik Ludes di Sukowati

Cerita Jawa Timur Ponorogo Livelihood Comments (0) View (112)

Biasanya, Taman Sukowati hanya dipenuhi beragam kegiatan di akhir pekan. Namun di pertengahan minggu, di hari kerja menjelang akhir Juni silam, ada keramaian bercampur suara-suara antusias penuh semangat. Sumber keriaan itu adalah sekumpulan 13 perempuan dan enam lelaki yang tengah menjalani pelatihan yang digelar Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) yang bersumber dari pendanaan Peningkatan Kapasitas Masyarakat (PKM). Mereka adalah warga Dusun Jengglik, Kelurahan Keniten, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur.

Dusun Jengglik adalah satu dari sejumlah wilayah yang termasuk dalam lokasi kegiatan pembangunan berbasis dana Bantuan Pemerintah untuk Masyarakat (BPM) Tahun Anggaran 2019. Para peserta pelatihan kali ini juga spesial, para pengrajin kripik tempe dengan mengandalkan sistem pengolahan, pengemasan, dan pemasaran yang masih sederhana. Misal, penggunaan penggorengan tanpa alat meniris minyak (spinner), kemasan plastik tanpa merek, pun tanpa nomor izin Produksi Industri Rumah Tangga (PIRT).

Animo peserta pelatihan out door ini memang tinggi. Buktinya, mereka penuh semangat membawa seperangkat alat kebutuhan produksi kripik tempe. Tempe tentunya, tepung, minyak, penggorengan, hingga kompor ke lokasi pelatihan. Cerita produksi pun dimulai dengan praktik mengiris, menepungi tempe, dan menggoreng hingga menjadi kripik tempe. Dan, siap dijual.

Dari hasil diskusi awal, sebagian besar pengrajin kripik tempe mengaku sudah cukup puas dengan hasil dan kondisi yang telah berjalan selama ini. Mereka menerima kenyataan itu sebagai fakta yang sudah dan akan tetap dijalankan.

Walau begitu, pelatihan peningkatan taraf hidup (livelihood) kali ini dinilai amat positif dan memotivasi. Apalagi setelah menyadari, sedikit sentuhan dengan perubahan kecil justru berdampak positif buat para konsumen.

Taman Sukowati sengaja dipilih sebagai lokasi pelatihan sekaligus tempat ajang pemasaran langsung produk jadi. Buktinya, para pengunjung Taman Sukowati spontan ditawari kripik tempe ‘fresh from penggorengan’. Cara memasarkannya pun lebih mengedepankan proses komunikasi yang berkisah tentang jaminan kelezatan kripik dalam kemasan menarik kepada para calon pembeli. Aksi para trainer itu pun diamini dan diikuti peserta pelatihan. Hasilnya, kemasan kripik tempe renyah khas Jengglik laku keras di Taman Sukowati. Ludes tandas. Menarik, bukan? [Jatim]

 

Penulis: Malik A., Tim Fasilitator Ponorogo 1 OSP Kotaku Provinsi Jawa Timur

Editor: Epn

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.