Beranda Warta Cerita Kamino, Sosok dibalik Sempulun

Kamino, Sosok dibalik Sempulun

Cerita DI Yogyakarta Kulon Progo Kandang Sapi Komunal KPP Comments (0) View (427)

Berawal dari kondisi lingkungan yang tidak sehat dan terkesan kumuh akibat banyaknya warga memelihara (beternak) sapi di sekitar rumah di Desa Kulwaru, Kecamatan Wates, Kabupaten Kulon Progo, Provinsi DI Yogyakarta. Tak jarang, sapi peliharaan mereka berada di dekat dapur. Melihat kondisi menerus seperti ini, Kamino, seorang petani sederhana paruh baya, bersama warga dusun Kulwaru Wetan mengajukan proposal melalui Program Penataan Lingkungan Permukiman Berbasis Komunitas (PLPBK) pada 2012 untuk pembuatan kandang komunal (kelompok peternakan sapi).

Perjuangan warga Kulwaru Wetan ini memang patut diacungi jempol, tak lelahnya mengajak warga untuk memindahkan ternaknya dalam kurun satu tahun. “Tidak mudah mengajak warga untuk memindahkan hewan ternak sapi nya di kadang kelompok,” ungkap Kamino. Ketakutan akan keamanan dan kesulitan memberi makan ternak jika jauh, menjadi alasan warga untuk tidak menempati kandang komunal. Namun, Kamino terus mencontohkan dan memperlihatkan ke warga sekitar, tentang keuntungan dan manfaat memelihara sapi di kandang komunal. Lambat laun warga sadar, bahkan berbondong-bondong menempati kandang komunal.

Kamino pun didapuk sebagai Ketua Kelompok Pemanfaat dan Pemelihara (KPP) “Sempulun” di bawah binaan BKM Bina Mandiri. Sempulun sendiri diartikan “langgeng” atau bisa diturunkan ke anak cucu. Saat ini jumlah peternak sapi yang memanfaatkan kandang sapi sudah berjumlah 25 orang. Sapi yang terpelihara mencapai 60 ekor. Jumlah yang sangat signifikan dibandingkan awal kandang komunal didirikan. “Awalnya berjumlah 20 sapi dan hanya 10 anggota. Kemudian ada dukungan dari pemda berupa 22 sapi indukan,” Kamino menjelaskan.

Harapan Kamino untuk terus memajukan kandang komunal terus dilakukan. Pertemuan rutin sebulan sekali dilakukan sebagai penyaring aspirasi sesama anggota, sekaligus menjalin kerja sama dan belajar dengan pihak lain. “Karena rasa keingintahuan untuk pengelolaan ke depan, kami ingin mengembangkan kandang komunal ini. Maka kami belajar di Kabupaten Sleman untuk pengelolaan composting. Alhamdulillah sekarang kami sudah bisa memproduksi kompos sendiri,” lanjutnya.

Harapannya ke depan, kompos terus diproduksi agar bisa diperjualbelikan di luar, sehingga perekonomian warga meningkat. Tetapi yang masih menjadi kendala adalah bagaimana cara pemasarannya. Berarti diperlukan kolaborasi atau kerja sama dengan pihak-pihak swasta.

Penataan lingkungan dan kawasan terus berjalan seiring dibangunnya Yogyakarta International Airport, Desa Kulwaru terletak di kawasan strategis di sebelah jalan nasional menuju bandara. Kawasan terus berbenah. Sosok relawan seperti Kamino pun patut dicontoh. Bagaimana memotivasi warga untuk pantang menyerah dalam belajar dan melestarikan keinginan untuk terus maju. [DIY]

Penulis: Reni Rachma Hudi Widyasari, Sub TA Komunikasi OSP Kotaku Provinsi DI Yogyakarta

Editor: Nina Razad

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.