Bali, Bersama Tangani Kumuh Sungai Sampai RTH

Cerita Bali RTP Comments (0) View (211)

Predikat kumuh tampaknya paling anti disandang di Pulau Dewata. Maklum, sebagai kawasan sentra wisata status tak nyaman tadi memengaruhi wajah Bali di mata pariwisata lokal maupun mancanegara. Berbekal semangat itu pulalah yang tak henti memacu warganya di berbagai kawasan di sana buat menangani persoalan kumuh wilayah, dengan jalan apapun.

Konsep pemerintah daerah sebagai nakhoda diamini Camat Buleleng Gede Dody Sukma Oktiva Askara, beberapa waktu silam. Demi menyingkirkan persoalan kumuh di teritorialnya, dia sengaja turun gunung langsung menyusuri kawasan permukiman di bantaran Sungai Mumbul, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali. Kebetulan, Kali Mumbul melintasi empat wilayah di Kecamatan Buleleng: Kelurahan Kampung Kajanan, Kampung Anyar, Kaliuntu, dan Kelurahan Kampung Bugis. Peninjauan ini adalah tindak lanjut sebagai Bahan Kajian Teknik dalam Penataan Bantaran Sungai dalam Program Penataan Kawasan Perkotaan Perkotaan dan Lingkungan Kumuh.

Kunjungan Gede Dody dilakukan pascarapat koordinasi dan evaluasi kawasan dan permukiman kumuh bersama perwakilan organisasi perangkat desa, pelaku Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku), dan 17 lurah di Kecamatan Buleleng yang menyepakati kolaborasi dana Program Kotaku dan Dana Kelurahan setempat. Menurut wakil Penelitian dan Pengembangan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Made Anik Wiryantini, target wilayah prioritas yang bakal mendapatkan penanganan sudah disepakati, yakni sesuai Surat Keputusan Kumuh Bupati 2016. Sedianya, permukiman di bantaran Sungai Mumbul bakal ditata ulang dengan penanganan kesehatan masyarakat berbasis pemberdayaan demi hunian yang lebih layak

Langkah penanganan pun didata. Misalnya, pengerukan sedimen sungai dengan melibatkan masyarakat, utama warga miskin dan organisasi kemasyarakatan setempat, dengan program padat karya yang memanfaatkan dana kelurahan. Lantas, menggencarkan sosialisasi edukasi bagi warga melalui program pemberdayaan masyarakat penghuni bantaran kali. Penataan fisik pun ditargetkan melalui pembangun instalasi pengelolaan air limbah berupa septic tank komunal. Termasuk di antaranya menyediakan sarana dan prasarana sistem pengelolaan sampah wilayah. Warga juga diimbau memelihara ikan nila di kali, yang sejalan dengan Program Mina Kali Bersih (Mikasih), sekaligus menjadikan bantaran kali sebagai bagian tampak depan rumah kediaman dengan Program Balik Kanan.

Praktik gotong royong di atas memang acap menjadi ciri penanganan persoalan wilayah di Tanah Air, khususnya dalam penanganan kumuh. Pun demikian halnya di Desa Saba, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, desa penyandang SK Kumuh Bupati Gianyar pada 2014. Desa ini pun mendapatkan Bantuan Dana Investasi Tahun Anggaran 2017 dalam upaya mengurangi kumuh sektoral di wilayah deliniasi.

Badan Keswadayaan Masyarakat Prima Murti bersama Program Kotaku menggagas inisiatif, menyulap lahan yang dijadikan warga sebagai tempat pembuangan sampah menjadi Ruang Terbuka Hijau (RTH) Banjar Sema. Proyek gotong royong pun dilaksanakan bersama warga, jajaran pemerintahan desa, dan peserta Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Udayana Tahun Ajaran 2019. Semua unsur di Banjar Sema yang terlibat mengumpulkan sumbangan dari berbagai pihak agar pelaksanaan penanaman pohon bersama dapat terlaksana dengan baik. Dana terkumpul mencapai Rp 5.050.000 dan dialokasikan buat pembelian tanaman hias, tanah uruk, cat buat mural, dan berbagai keperluan lainnya.

Perlahan namun pasti, kolaborasi ala Banjar Sema di Kabupaten Gianyar menoreh sukses mengikis potret kumuh di wilayahnya. Warga setempat pun berkomitmen buat memanfaatkan serta memelihara dan mengembangkannya di area lainnya. [Bali]

Penulis: Kadek Diah Irmayanti (Tim Fasilitator Kabupaten Buleleng) dan Luh Sumarini Astiti (Asisten Kota Mandiri Gianyar) Program Kotaku Provinsi Bali

Editor: Epn

0 Komentar