Beranda Warta Berita Penanganan Kumuh Lombok Tengah, Urgensi Kolaborasi

Penanganan Kumuh Lombok Tengah, Urgensi Kolaborasi

Berita NTB Lokakarya Lombok Tengah Comments (0) View (240)

Dari 41 hektare lebih luas kumuh yang ada di Kota Praya, baru sekitar 27 persen yang sudah tertangani. “Kita akan tuntaskan pada tahun 2019 sesuai dengan target capaian meskipun memang agak pesimis bisa tuntas akibat ketersediaan dana," kata Satria. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) H. L. Satria Atmawinata, saat membuka Lokakarya Tingkat Kabupaten Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) Kabupaten Lombok Tengah 2019 di Kota Praya, Lombok Tengah, pertengahan September ini.

Pejabat yang akrab disapa Miq Ewin itu mengelaborasi bahwa dari 13 sasaran kawasan kumuh, baru delapan kawasan di Kota Praya yang sudah tertangani melalui dana pusat. Kawasan itu meliputi Kelurahan Praya, Kelurahan Prapen di Lingkungan 1 dan Lingkungan 2, Kelurahan Tiwugalih, Leneng, Panjisari, Renteng, dan Kelurahan Semayan. Sementara sisanya berada di luar kota, seperti Dusun Batubeduk Desa Batujai, Dusun Lakan Batujai, Buaklotok Batujai, Penujak Desa Penujak, serta Desa Tanak Awu. "Yang lima tempat ini adalah kawasan penyangga Bandara Internasional Lombok (BIL) dan akan kita tangani dari APBD [Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah] Kabupaten Lombok Tengah, " kata Satria.

Menurut Kepala Dinas Perumahan dan Pemukiman (Perkim) Kabupaten Loteng, L. Firman Wijaya yang hadir sebagai pembicara dalam lokakarya ini, ada tiga skala penanganan kumuh sesuai dengan arah kebijakan Program Kotaku 2019: Skala Kawasan, Skala Lingkungan, dan Skala Pencegahan Kumuh. “Kita targetkan 219 desa atau kelurahan dari enam kabupaten kota, termasuk Lombok Tengah, menjadi target pemerintah, " kata dia. Sedianya, pemda setempat menargetkan Skala Kawasan seluas 15 Ha setiap kawasan, Skala Lingkungan sebanyak satu hektare setiap desa atau kelurahan lokasi kumuh, dan area Skala Pencegahan Kumuh.

Seiring perkembangan zaman, penduduk di suatu perkotaan atau perkampungan akan semakin bertambah akibat pertumbuhan penduduk. Sementara, luas lahan yang tersedia tak akan berubah sama sekali. Lantaran itulah masyarakat mesti dipindahkan, dengan catatan, harus dibuatkan rumah susun di luar kawasan kumuh atau kota. “Membangun rumah susun memerlukan anggaran besar. Keterlibatan pemerintah pusat sangat diperlukan. " ujar Firman menambahkan.

Dalam lokakarya ini mengemuka sejumlah persoalan penting wilayah. Di antaranya mengenai penataan kawasan permukiman kumuh di kawasan sempadan sungai dan pesisir. Selain itu persoalan potensi dan teknologi alternatif dalam peningkatan ekonomi masyarakat di kawasan permukiman kumuh, untuk mendorong perubahan prilaku masyarakat dalam menjaga dan merawat lingkungan. Kondisi ini, menurut Asisten Kota Mandiri Loteng L. Muhammad Mayadi, membutuhkan kolaborasi progresif multipihak. Termasuk untuk kampanye bersama secara masif dan terukur, baik dalam upaya penanganan dan pencegahan kumuh maupun sosialisasi upaya pencegahan kumuh dan tanggap bencana. Urgensi ini, dia merinci, merupakan upaya mendorong pemerintah daerah sebagai “nakhoda” dalam melakukan penanganan dan pencegahan kumuh.

Tujuan dari kegiatan lokakarya ini sudah dipatok. Menurut Mayadi yang juga merangkap sebagai ketua panitia lokakarya, peserta diharapkan mampu memahami kebijakan penanganan dan pencegahan kumuh, mengerti dinamika dan masalah dalam pelaksanaan penanganan dan pencegahan kumuh, mengetahui kapasitas dan kewenangannya serta bentuk kontribusi dalam kegiatan penanganan dan pencegahan kumuh. Sementara output yang diharapkan adalah, peserta memahami dan mau terlibat dalam menyukseskan kebijkan penanganan dan pencegahan kumuh, memetakan masalah dan merumuskannya ke dalam SOP (Standard Operational Procedure) mekanisme koordinasi dan konsolidasi dalam penyelesaiannya. Termasuk, mengidentifikasi dan merumuskan kegiatan atau program untuk mekanisme kolaborasi antarinstansi atau lembaga. [NTB]

Penulis: Astar Hadi, Sub TA Komunikasi OSP-5 Program Kotaku Provinsi Nusa Tenggara Barat

Editor: Epn

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.