Beranda Warta Cerita Bila Kolaborasi Tak Sekadar Perbaikan Fisik

Bila Kolaborasi Tak Sekadar Perbaikan Fisik

Cerita Bali Kolaborasi Comments (0) View (235)

Keberhasilan kolaborasi antara pemerintah daerah dan masyarakat dalam hal pananganan kawasan kumuh adalah cerminan sebuah komitmen bersama untuk mewujudkan kota tanpa kumuh. Kolaborasi itu amat terasa saat menyimak kegiatan penanganan kawasan kumuh yang dilakukan di Jalan Bedahulu VIIA, Kelurahan Peguyangan, Kota Denpasar, Bali. Seluruh pihak, mulai dari masyarakat hingga pemerintah daerah, bergerak bersama-sama untuk menangani berbagai permasalahan kumuh yang ada.

Jalan Bedahulu VIIA di Kelurahan Peguyangan adalah satu dari sejumlah wilayah kumuh dengan luas 1,63 hektare berdasarkan pada Surat Keputusan Wali Kota Denpasar. Luasan kumuh tersebut tentunya akan terus menjadi pekerjaan rumah bagi Pemerintah Kota Denpasar apabila tidak ditangani sejak dini. Karena itulah, kolaborasi penanganan kumuh dari berbagai pihak setempat menjadi harga mati yang harus dilakukan, demi tercapainya 0 Ha kumuh di Ibu Kota Pulau Dewata.

Kegiatan penanganan kumuh di Bedahulu tadi bisa menjadi contoh baik kolaborasi, yang juga bisa diterapkan di lokasi lain. Ada serangkaian cerita panjang di balik keberhasilan kolaborasi ala warga Peguyangan. Mulai dari pemetaan, perencanaan, dan hingga akhirnya kegiatan penanganan kumuh dapat terlaksana. Seluruh kegiatan tersebut dilakukan murni secara bersama-sama. Mulai dari masyarakat setempat, Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Karya Bakti Bersatu, Kelurahan Peguyangan, Tim Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) Denpasar, hingga Pemerintah Kota Denpasar.

Hasil pemetaan mengungkap berbagai fakta permasalahan kumuh yang mesti ditangani. Rumusan persoalan itulah yang bakal menjadi prioritas yang bakal berdampak besar dalam penanganan kumuh yang ada. Dari hasil pemetaan, perencanaan, dan rencana prioritas terangkum dalam dokumen Rencana Penataan Lingkungan Permukiman (RPLP). Dokumen RPLP yang ada selanjutnya dilengkapi dengan dokumen Gambar Kerja Detail (Detailed Engineering Design, DED) dan akhirnya diajukan di tingkat pemerintah kota untuk dapat dikolaborasikan dengan perencanaan kota. Usulan yang telah masuk di tingkat kota itu selanjutnya difasilitasi Program Kotaku, hingga usulan kegiatan dapat terlaksana.

Menurut Kepala Seksi (Kasi) Permukiman Kumuh Dinas Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Pertahanan (Perkimta) Kota Denpasar I Gusti Bagus Mahendra, sebenarnya pendanaan kegiatan di Jalan Bedahulu VIIA, Kelurahan Peguyangan, diperoleh dari pos anggaran bantuan sosial yang diberikan kepada pihak ketiga dengan menyertakan proposal. Lantaran itulah dokumen RPLP dan DED yang telah dibuat menjadi dasar dalam penganggaran di tingkat Pemkot Denpasar.

Verifikasi kegiatan penataan melibatkan perwakilan banyak pihak untuk melihat langsung lokasi dan kawasan yang akan ditangani. Mulai dari Tim Teknis Kelompok Kerja Perumahan dan Kawasan Permukiman Kota Denpasar, Tim Program Kotaku Denpasar, Tim Kelurahan Peguyangan, serta BKM Karya Bakti Bersatu.

Kasi Perencanaan Dinas Perkimta Kota Denpasar sekaligus Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pembangunan Infrastruktur Permukiman (PIP) Program Kotaku Eko Yuliantio mengamini. "Secara administrasi lokasi yang diajukan memenuhi persyaratan dan sangat layak untuk diperbaiki," kata dia. Kendati memang, ada kendala seperti ada bangunan liar warga setempat yang dibangun permanen telah mengambil badan jalan. Namun lewat pendekatan yang dilakukan, sang pemilik bangunan menyadari kesalahan dan mau membongkarnya.

Kegiatan penataan kawasan kumuh yang disepakati adalah rehabilitasi jalan lingkungan dengan konstruksi paving block sepanjang 56 meter berikut drainase yang menggunakan U-Ditch sepanjang 119 meter. Pembangunan infrastruktur itu menghabiskan dana sekitar Rp 222 juta lebih dari dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2019. Pelaksanaan kegiatan tersebut dilakukan selama 60 hari, sejak Juli hingga Agustus 2019.

Kini, wajah permukiman di ruas Jalan Bedahulu VIIA, Kelurahan Peguyangan, berubah total. Perbaikan jalan dan drainase lingkungan seakan menyempurnakan tampilan baru rumah warga yang sudah lebih tertata. Masyarakat setempat mengaku sangat senang dengan perubahan permukiman tanpa kumuh. Animo pun tergugah untuk ikut menata. Misalnya, warga berencana Taman Telajakan secara swadaya di sepanjang jalan permukiman agar lingkungan semakin terlihat rapi dan bersih. Dan satu bentuk apresiasi adalah membuat prasasti kegiatan berlogo Program Kotaku dan Dinas Perkimta Pemkot Denpasar yang menjadi bukti keberhasilan kolaborasi di kawasan kumuh, khususnya Kelurahan Peguyangan.

Kesuksesan kolaborasi rupanya berdampak luas. Selain penataan infrastruktur wilayah, sikap dan perilaku positif warga juga hadir di sini. Satu di antaranya adalah kesadaran untuk bersama menciptakan lingkungan permukiman yang baik. Praktik yang bisa diadopsi wilayah lain, di Negeri Seribu Pura, dan di Bumi Nusantara. Bahwa, ada bukti ketika kolaborasi tak sekadar perbaikan fisik semata. Sepakat! [Bali]

Penulis: Made Arya Bhaskara Putra, Fasilitator Sosial Kota Denpasar Program Kotaku Provinsi Bali

Editor: Epn

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.