Beranda Warta Cerita Kotaku DIY: Belajar Hingga ke Negeri Seberang

Kotaku DIY: Belajar Hingga ke Negeri Seberang

Cerita DI Yogyakarta HHD Comments (0) View (97)

Momentum Hari Habitat Dunia menjadi nyata: kondisi perkotaan dan pemenuhan hak dasar untuk memiliki tempat tinggal memadai adalah persoalan semua bangsa. Program Kota Tanpa Kumuh Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) berkolaborasi dengan Arcom (Architect Community) DIY buat menggali lebih jauh kisah dari negeri seberang dalam mengatasi masalah permukiman tadi. Kunjungan ke luar negeri yang dilaksanakan menjelang pertengahan Oktober 2019 ini menjadi rangkaian peringatan World Habitat Day.

Cikal bakal rencana bertandang ke negara tetangga terjadi pada awal Oktober. Program Kotaku DIY menggandeng Arcom dalam perhelatan momentum Hari Habitat di halaman Kantor Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) Yogyakarta. Acara ini melibatkan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah DIY, lembaga swadaya masyarakat, komunitas dan paguyuban masyarakat, serta mahasiswa bersama para pemangku kepentingan yang memerhatikan isu permukiman dan tata ruang wilayah. Acara itu mengangkat tema "Refleksi Warga Kota Atas Hak Dasar untuk Ruang Hidup yang Layak".

Pascakegiatan, Team Leader Oversight Service Provider (OSP) 2 DIY Program Kotaku Mohammad Imam Santoso dan Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Bappeda DIY Aris Prasena didaulat menghadiri dua ajang international soal permukiman di Bangkok, Thailand, dan di Penang, Malaysia. Selama ajang pelatihan tujuh hari itu, kedua wakil Indonesia didampingi Community Organizations Development Institute (CODI), lembaga pemerintah Thailand.

Di International Workshop Thailand yang berlangsung selama empat hari, Imam dan Aris dan peserta lainnya diajak berkunjung ke Baan Mankong, lokasi permukiman dari Collective Housing Programme. Kompleks perumahan itu dibuat dengan konsep perumahan dengan bangunan vertikal (high rise building). Metode yang diterapkan untuk penataan permukiman itu mengedepankan konsep slum upgrading, reblocking, dan land sharing. Program ini sangat menekankan keterlibatan masyarakat secara partisipatif buat menangani permasalahan perkotaan dan lingkungan permukiman. Alhasil, ada sedikitnya 80 komunitas perumahan yang mempu menyediakan rumah bagi banyak warga di Baan Mankong.

Agen pemerintah di bawah naungan Social Development and Human Security Ministry itu telah berhasil membentuk komunitas yang bekerja sama dengan pemerintah dan lembaga-lembaga lain. Misalnya, dengan menciptakan dan memberikan pinjaman lunak melalui koperasi berbunga empat persen per tahun untuk fasilitas 'rumah milik' bagi warga di pemukiman kumuh. Sampai saat ini, sudah berhasil membentuk rumah komunal yang didiami 225 kepala keluarga per rumah.

Awalnya masyarakat membentuk kelompok tabungan yang kemudian diformalkan menjadi koperasi. CODI yang ikut menjadi pendana koperasi di permukiman dekat kanal sungai sepanjang 24,5 kilometer itu mengajak warga menabung sebesar 10 persen dari harga rumahnya. Misalnya dengan pendapatan Rp 300.000, minimal harus menabung sebanyak Rp 30.000 setiap bulan. CODI juga memberi dana untuk infrastruktur yang terdiri dari pembangunan infrastruktur hibah dan pinjaman.

Agenda berikutnya adalah Asian Pacific Urban Forum 7th (APUF 7) di Malaysia, selama tiga hari. Pembahasan di APUF 7 terkonsentrasi pada enam tema utama. Yakni Tanah; Layanan Dasar dan Perumahan; Peluang ekonomi: Kegiatan Ekonomi Informal; Kepemimpinan Perempuan; Pendanaan Masyarakat; Ketahanan dan Bencana masyarakat; serta Manajemen Perencanaan Kota.

Kelembagaan perumahan dinilai sebagai hal penting dalam upaya peningkatan kualitas permukiman, khususnya di kawasan perkotaan. Selain itu tidak lepas dari beberapa aspek kemanusiaan seperti harus ada kesamaan tujuan, perlunya identifikasi permasalahan untuk menentukan sesuatu yang konret dan perlunya sebuah perencanaan yang dapat diaplikasikan.

'Resep' sukses dari Bangkok dan penajaman materi di Penang menjadi amat penting untuk pelaksanaan Program Kotaku. Dengan catatan, Program Kotaku dan Pemerintah Kota Yogyakarta dapat berkolaborasi, mengadaptasi, dan menduplikasi pendekatan melalui program pembedayaan masyarakat yang telah berlangsung sejak lama ini. [DIY]

Penulis: Tito Imam Santoso, Sub Prof Financing Institution Collaboration OSP-2
Program Kotaku Provinsi DIY

Editor: Epn

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.