Beranda Warta Cerita Keripik Tempe Srikandi dan Omzet Jutaan Rupiah

Keripik Tempe Srikandi dan Omzet Jutaan Rupiah

Cerita Nganjuk Jawa Timur Comments (0) View (117)

Pernah merasakan gurih dan renyahnya kripik tempe? Mungkin, beberapa di antara Anda malah selalu ketagihan untuk selalu mencicipinya. Ya, sudah banyak daerah di Indonesia yang memproduksinya, versi produk rumahan. Pun demikian halnya di Desa Sugihwaras, Kecamatan Bagor, Jawa Timur, dengan nama Srikandi. Omzetnya bahkan mencapai jutaan rupiah. Inilah kisah cikal bakal penganan ringan kripik tempe Srikandi ala Kabupaten Nganjuk.

Keripik tempe adalah makanan tradisional sejenis keripik yang tentunya terbuat dari tempe. Berbeda dengan jenis keripik pada umumnya yang banyak dibuat dari singkong atau kentang, keripik tempe dibuat dari bahan dasar tempe kedelai sehingga memiliki cita rasa yang sangat khas.

Produk keripik tempe di Desa Sugihwaras, Kecamatan Bagor, Kabupaten Nganjuk ini menjadi industri rumahan yang banyak dikelola kaum perempuan. Mereka tergabung dalam Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Pengembangan Penghidupan Berbasis Masyarakat (P2BM) Berkah sejak 2017. Konsistensi membuahkan hasil. Hampir dua tahun belakangan, keripik tempe dengan nama Srikandi mulai dikenal banyak orang. Bahkan, KSM Berkah meraih Juara 2 dalam acara Gelar Produk Pangan Olahan Kabupaten Nganjuk 2019 yang diselenggarakan pihak kabupaten.

Kripik Srikandi dibuat dari bahan tempe biasa, hasil kerja Gito, suami seorang anggota KSM P2BM Berkah. Biasanya, Gito berkeliling menawarkan tempe dagangannya atau menaruhnya ke pedagang pasar yang sudah menjadi langganan sejak pukul 03.00. Sore hari dia akan kembali berkeliling untuk mengambil uang dari tempke yang dititipkannya.

Gito menganalisa, hasil berdagang tempenya tak kunjung berkembang. Dia menawarkan kepada sang istri untuk membuat keripik tempe yang dikelola KSM Berkah. Gayung bersambut, tempe karya Gito dikemas ulang menjadi kripik tempe Srikandi.

Dengan modal awal Rp 110 ribu yang diambil dari iuran anggota, kini kripik tempe Srikandi mampu menghasilkan laba sekitar Rp 2 juta dalam kurun waktu satu tahun. Perlahan namun pasti, keuntungan mulai berjalan. KSM Berkah rutin pun mengadakan pertemuan setiap tanggal 10, lengkap dengan penyampaian kondisi keuangan.

KSM Berkah punya sejumlah trik jitu soal produksi kripik tempe. Membuat keripik tempe yang gurih perlu ketelitian dan kebersihan. Tempe harus terbuat dari kedelai yang bagus supaya rasanya tidak pahit usai proses fermentasi. Kedelai yang bagus juga memudahkan untuk pengirisan tempe menjadi lembaran tipis. Selain itu minyak yang digunakan harus berkualitas bagus supaya keripik tak berbau sangit.

Proses pengolahan keripik tempe Srikandi hampir sama dengan tempe goreng biasa, hanya saja proses pemotongannya sedikit berbeda. Pertama keripik tempe dipotong-potong dengan alat khusus—yang didapat sewaktu mengikuti pelatihan penggorengan di desa—supaya tempe tidak mudah hancur. Setelah itu irisan tempe dicelup ke dalam adonan bumbu agar terasa gurihnya. Kemudian digoreng kering dengan minyak sedang sehingga dapat mengembang dan tidak mudah gosong.

Keripik tempe berbentuk bulat yang sudah digoreng kemudian ditiriskan, sebelum nantinya dikemas plastik dengan rapat hingga rasa tetap renyah dan tahan lama. Usai itu, label dalam kemasan berbentuk stiker bertulisan merek, alamat KSM Berkah, nomor Produksi Industri Rumah Tangga (P-IRT), dan komponen bahan serta tanggal kedaluwarsa. Masing-masing kemasan dijual mulai dari harga seribu rupiah hingga Rp 15 ribu.

Selama ini pemasaran produk keripik tempe Srikandi tak mengalami kendala berarti. KSM Berkah menitipkan produknya ke warung-warung kecil, toko swalayan, dan gerai lainnya, termasuk lewat penjualan online. Atau, dibawa ketika ada acara pertemuan di tingkat desa, kecamatan, maupun tingkat kabupaten.

Lazimnya, jumlah permintaan semakin banyak menjelang hari raya atau hari libur untuk dijadikan oleh-oleh yang akan ke luar kota. Harapannya, produk KSM Berkah bisa dikenal banyak orang, dan Desa Sugihwaras menjadi desa penghasil keripik tempe yang patut diperhitungkan. Semoga. [Jatim]

Penulis: Merry Christina, Fasilitator Sosial Kabupaten Nganjuk, OSP Program Kotaku Provinsi Jawa Timur

Editor: Epn

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.