Beranda Warta Cerita Green Village untuk Kelurahan Semaki

Green Village untuk Kelurahan Semaki

Cerita DI Yogyakarta Kelurahan Semaki Comments (0) View (147)

Kampung yang tidak terawat, bau air limbah menyengat, cat dinding rumah terkelupas, kampung gersang tanpa penghijauan, jalan paving rusak bahkan masih berupa tanah, yang akan jadi becek dan licin saat hujan, ditambah bau kotoran ternak unggas (burung dan ayam) bertebaran di jalan, adalah pemandangan sehari-hari di Kelurahan Semaki, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Provinsi DI Yogyakarta. Seakan tidak ada yang peduli ataupun merasa memiliki kampung ini, apalagi untuk memperbaiki dan merawat kampung menjadi kampung sehat dan layak huni. Fakta juga menunjukkan Kampung Semaki Kulon RW 10 masuk dalam delineasi kawasan kumuh di Kota Yogyakarta, berdasarkan SK Walikota Nomor 394 Tahun 2014.

Ketika Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) masuk ke Kelurahan Semaki pada 2015, Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Semaki Jaya yang dikoordinatori oleh Nugroho Rahmat melalui Tim Inti Perencanaan Partisipatif (TIPP), bersama-sama masyarakat, mencoba mengatasi berbagai permasalahan kumuh yang ada di Kelurahan Semaki, khususnya di Kampung Semaki Kulon RW 10. Dimulai dengan melakukan pendataan baseline. Kemudian, direncanakan kegiatan-kegiatan yang meliputi kegiatan fisik, sosial, dan ekonomi, yang dimasukkan ke dalam dokumen Rencana Penataan Lingkungan Permukiman (RPLP) guna mengatasi berbagai permasalahan di Kelurahan Semaki khususnya di Kampung Semaki Kulon RW 10.

Lurah Kelurahan Semaki Didik Setiadi, yang berperan sebagai “nakhoda” dalam Program Kotaku, mempunyai impian untuk membangun Kampung Semaki Kulon menjadi Kampung Hijau (Green Village). Konsep kampung hijau ini meliputi Green Planning (perencanaan dan perancangan yang ramah lingkungan, Green Open Space (ketersediaan RTH yang memadai), Green Water (peningkatan efisiensi pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya air), Green Waste (pengelolaan limbah dan sampah dengan prinsip 3R), Green Energy (pemanfaatan sumber energi yang efisien dan ramah lingkungan), Green Building (penerapan bangunan ramah lingkungan), dan Green Community (peningkatan kepekaan, kepedulian, dan peran serta aktif masyarakat dalam pembangunan).

Dengan konsep ini maka masyarakat bertindak sebagai subjek sekaligus objek pembangunan. Lewat perspektif ini, pembangunan di Kampung Semaki Kulon diarahkan guna memberdayakan masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembangunan. Dalam hal ini, masyarakat Semaki Kulon dilibatkan mulai dari proses perencanaan, penyusunan Detail Engineering Design (DED), Rencana Anggaran Biaya (RAB) hingga proses pembangunan dan pemeliharaan.

Mulai Juni 2017, warga RT 34 RW 10 yang tergabung dalam KSM Antareja, KSM Antasena, dan KSM Gatotkaca didampingi oleh UPL-BKM Semaki Jaya dan Fasilitator Teknik membuat proposal usulan kegiatan lingkungan dan dilampiri DED dan RAB yang telah dibuat sebelumnya. Jadilah perencanaan perbaikan jalan paving blok sepanjang 90 meter, drainase lingkungan sepanjang 122,8 meter, dan IPAL sejumlah 1 unit dengan total rencana anggaran sebesar Rp 350 juta. Sebelum pembangunan dimulai, Tim Faskel memberikan pengarahan terkait proses pembangunan dan pengadministrasian pemanfaatan dana BDI kepada KSM melalui kegiatan Musyawarah Persiapan Pelaksanaan Konstruksi (MP2K). Proses pembangunan berjalan dengan lancar tanpa ada permasalahan baik fisik maupun permasalahan sosial.

Pada Juli 2018, Kelurahan Semaki berkesempatan kembali untuk mendapatkan dana dari Kotaku dengan Dana Bantuan Investasi (BDI) sebesar Rp 1,65miliar. Ini berkat peran Lurah Semaki, BKM, TIPP, didampingi Faskel yang memetakan permasalahan dan menyusun kegiatan-kegiatan di RW 10 secara komprehensif guna mewujudkan Kampung Semaki Kulon menjadi kampung hijau.

Rincian kegiatan BDI Kotaku 2018 meliputi 784,7 meter perbaikan jalan paving blok, 664,6 meter jaringan drainase, 10 unit biofill, dan 2 unit IPAL Komunal. Kegiatan BDI tahun ini tidak hanya fokus pada kegiatan fisik utama saja, tapi juga pekerjaan pelengkap lain sebagai penunjang dan untuk mempercantik/beautifikasi kawasan menjadi kampung yang nyaman, sejuk, dan tidak terkesan gersang. Yaitu pemasangan pergola, mural, penyediaan pot tanaman, pot gantung, dan perbaikan dan pengecatan dinding-dinding.

Pada Minggu, 10 Februari 2019, dilakukan peresmian pembangunan Kampung Hijau Program Kotaku, ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Lurah Semaki Didik Setiadi. Ia berpesan, warga harus dapat menjaga dan memelihara kampungnya agar infrastruktur yang telah dibangun tidak cepat rusak dan tidak menjadi kumuh kembali. Kampung yang bersih dan tertata ini nantinya juga berpotensi menjadi percontohan kampung bagi daerah lain. Kampung Semaki Kulon juga berpotensi menjadi destinasi wisata yang instagrammable. Hal ini nantinya akan berdampak pada peningkatan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. [DIY]

Penulis: Tim Kotaku 7 Kelurahan Semaki, Kota Yogyakarta, OSP Kotaku Provinsi DI Yogyakarta

Editor: Nina Razad

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.