Beranda Warta Cerita Pencapaian BPM Sidoarjo: Antara Puas dan Kecewa

Pencapaian BPM Sidoarjo: Antara Puas dan Kecewa

Cerita Jawa Timur Sidoarjo Infrastruktur Comments (0) View (511)

Momentum uji petik adalah saat yang ditunggu penuh harap dan cemas, khususnya bagi tim pelaksana di lapangan, selaku ujung tombak pelaksanaan Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku). Maklum, ada saja hasil pencapaian perencanaan pembangunan yang bakal melenceng dari target. Seperti yang terjadi di wilayah alokasi Bantuan Pemerintah untuk Masyarakat (BPM): berhasil atau gagal melaksanakannya. Seperti yang terjadi di Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur, awal November 2019, ketika 'tiba-tiba', Tenaga Ahli (TA) bidang Infrastruktur dari Konsultan Manajemen Pusat (KMP) Sugiyanto datang bertandang dengan agenda pengawasan kegiatan BPM Tahun Anggaran 2019.

Agenda pertama kunjungan Sugiyanto adalah berkoordinasi dengan Tim Koordinator Kota Sidoarjo. Saat koordinasi awal yang juga dihadiri TA Infra Oversight Service Provider - 3 Jatim Agus S.B. dan Team Leader OSP-3 Abdus Salam, lelaki yang terhitung senior di jajaran TA KMP tersebut mengaku hadir atas perintah kepala satuan kerja (satker) sekaligus pejabat pembuat komitmen (PPK) pusat sehubungan dengan pencapaian BPM di Sidoarjo yang rendah dan tidak sesuai target.

Tim Korkot Sidoarjo menjelaskan hal-hal yang terkait kegiatan BPM 2019 di Kabupaten Sidoarjo. Di antaranya adalah Asisten Kota Korkot Sidoarjo May Ulul. "Suplai material yang lewat waktu berdampak pada capaian kegiatan yang lain,” ujar May. Satu-satunya askot perempuan itu merunut dampak turunan dari suplai material yang tak tepat waktu. Misalnya, pelaksanaan lelang terbatas tak bisa tuntas dalam satu waktu atau lebih dari satu kali karena tidak memenuhi syarat, karena misalnya, peserta yang kurang dari tiga calon. Selain itu, saat sudah terpilih pemenangnya, beberapa di antaranya malah memilih mengundurkan diri atau karena tidak sanggup memegang komitmen. Menurut May lagi, penyedia barang pemenang pun ingkar dengan keterlambatan atau lama pengiriman materialnya. Yang tak kalah penting, tenaga kerja pun dirasakan kurang.

Sugiyanto tak hanya menggali penjelasan ihwal kendala dan masalah yang dihadapi, namun menginisiasi diskusi alternatif solusi. Misalnya, ide menambah tenaga kerja supaya progres fisik pembangunan lebih cepat tuntas. Sejalan dengan itu, seluruh Tim Program Kotaku Kabupaten Sidoarjo diminta membuat agenda garis waktu penyelesaian BPM hingga ke laporan pertanggungjawaban. "Besok, [ada] tindak lanjut pilihan solusi tadi oleh seluruh Tim Korkot dan Tim Faskel [Fasilitator Kelurahan]," kata Sugiyanto tegas.

Kegiatan pemantauan langsung ke lokasi BPM 2019 di Kabupaten Sidoarjo pun dilaksanakan. Lokasi yang dituju kali ini adalah Kelurahan Lemah Putro, di Kecamatan Sidoarjo, yang mendapat alokasi dana BPM Tahun Anggaran 2019 sebesar Rp 2 miliar. Kelurahan Lemah Putro berada di kawasan tengah kota yang sangat padat, dengan jalan lingkungan yang sempit, serta persoalan sanitasi yang cukup berat.

Raut muka Sugiyanto tak bisa menyembunyikan kekecewaannya melihat hasil pekerjaan pembangunan drainase di gang jalan lingkungan yang menggunakan U-Ditch. Menurut Fasilitator Kelurahan Bidang Teknik Kuswanto, pembangunan tersebut masih belum selesai atau bersifat sementara. "Ini pekerjaan kita? Tidak sesuai standar teknis!" cetus lelaki asal Jawa Tengah itu.

Sugiyanto menjelaskan panjang lebar. Setiap pekerjaan harus bisa langsung selesai sesuai standar teknis, tanpa status sementara karena tidak efisien. "Dua kali kerja itu namanya," kata pria berperawakan tinggi langsing itu seraya berjalan menyisir jalan gang yang sudah dipasang U-Ditch tadi. Beberapa kali pula dia berkomentar penuh kekecewaan atas hasil kerja yang menyalahi aturan kesepakatan teknis.

Pria berkacamata ini membeberkan bahwa kualitas pekerjaan yang tidak memenuhi standar adalah hasil dari metode kerja yang tidak benar, ditambah material yang tak sesuai spesifikasi. "Tolong, pekerjaan yang kualitasnya tidak sesuai standar teknis segera diperbaiki. Material tidak layak dikembalikan ke pemasok. Kualitas tidak bisa ditawar,” tegas Sugiyanto.

Paras lelaki yang acap disapa sebagai Pak De itu berubah tatkala bertandang ke Kelurahan Ngelom, Kecamatan Taman. Saat melihat hasil pembangunan jalan lingkungan dengan konstruksi ber-paving block, misalnya. "Metode kerjanya sudah benar. Dan kualitas material serta kualitas pekerjaan sudah baik," kata Sugiyanto ceria, memuji kualitas pekerjaan dan metode kerja yang tepat. Menurut dia, partisipasi atau keterlibatan badan keswadayaan masyarakat (BKM) setempat dalam mengawasi pelaksanaan kegiatan juga patut diacungi jempol.

Sejumlah catatan penting menjadi bekal Sugiyanto buat para pelaku Program Kotaku di Kabupaten Sidoarjo. Yakni, catatan hasil koordinasi dengan PPK; catatan umum BPM 16 lokasi; catatan kunjungan ke Kelurahan Lemah Putro; dan catatan hasil kunjungan ke Kelurahan Ngelom. [Jatim]

Penulis: Abdul Adjis, Koordinator Kota Sidoarjo Program Kotaku Provinsi Jawa Timur

Editor: Epn

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.