Beranda Warta Cerita Yang Ceria, yang Tergusur di Jayapura

Yang Ceria, yang Tergusur di Jayapura

Cerita Papua Jayapura Infrastruktur Comments (0) View (514)

Galibnya aksi pembongkaran bangunan rumah-rumah tak berizin. Teriakan plus tangisan protes sang pemilik acap terdengar. Wajah-wajah tegang anggota Satuan Polisi Pamong Praja dan polisi, serta buldozer yang dipenuhi debu puing bangunan menjadi pemandangan tak aneh lagi. Namun, pernahkah Anda melihat sejumlah orang yang justru suka rela berdiskusi dengan pemerintah daerah guna mencari jalan terbaik untuk menata lingkungannya? Termasuk membiarkan rumahnya yang tergusur, atau 'berubah' struktur dan desain. Cerita tak lazim itulah yang terjadi di Rukun Tetangga 005, Rukun Warga 005, Kelurahan Bhayangkara, Distrik Jayapura Utara, Kota Jayapura, Provinsi Papua, belum lama berselang.

Langkah penataan dengan menggusur rumah kediaman di wilayah tadi seolah berbeda 180 derajat. Warga yang justru ikut membongkar bangunan rumahnya malah tampak ceria. Mereka sibuk menyelamatkan material bangunan yang masih bisa terpakai di tempat kediaman yang baru.

Ester, misalnya. Perempuan satu ini justru terlihat sangat senang dengan perubahan rumahnya yang dulu berdinding plat seng, kini berdinding batu dan sudah diplester serta dicat rapi. Sosok perempuan baya bermata pencaharian sebagai ibu rumah tangga itu acap terlihat penuh senyum. Seolah wajah cerianya menyimpan sejuta alasan yang diidamkan.

‘Penggusuran’ memang tak berlaku di Kelurahan Bhayangkara, khususnya. Kaum marginal setempat justru ada yang memilih membongkar rumah huniannya sendiri, meski biaya bongkar ditanggung Pemerintah Kota Jayapura dalam rangka mengatasi kumuh wilayah. Warga sadar telah bermukim di lahan yang bukan milik, alias ilegal, dan rela sebagian rumahnya dibuat jalan pedestrian atau trotoar untuk pejalan kaki. Sedikitnya, ada 19 bangunan yang terdiri dari rumah tinggal dan warung yang menempati lahan negara dan masuk kategori daerah kumuh di sempadan Kali APO 45 tersebut.

Indikator kumuh di kawasan APO 45 ini amat kentara. Mulai dari arah posisi rumah yang tak beraturan, akses jalan sempit dan terkadang buntu, serta sanitasi dan fasilitas air minum yang minim tak memenuhi syarat. Tak hanya itu. Sampah hasil rumah tangga pun kerap kali dibuang langsung ke Kali APO 45, sehingga berpotensi mencemarkan aliran air sungai. Kawasan padat bangunan itu juga rawan kebakaran. Selain padat, kabel listrik yang semrawut dan tidak rapi sangat berpotensi terjadi hubungan arus pendek listrik.

Menurut Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kota Jayapura Nofdi J. Rampi, Kelurahan Bhayangkara adalah "muka kota" karena terletak di jantung Kota Jayapura. Pembenahan kawasan permukiman setempat perlu dilakukan sejalan dengan penanganan kumuh dan mengurangi berbagai kesenjangan di masyarakat. "Kita nggak tega lihat warga tinggal di pemukiman kumuh," ujar Nofdi bersungguh-sungguh.

Perhatian pemkot buat masyarakat setempat tampaknya menjadi modal kuat penataan kembali wilayah. Walau tentu saja, tak langsung berjalan mulus di awal pelaksanaan.

“Inti penanganan kumuh adalah soal komunikasi. Jangan sampai penataan lingkungan malah menimbulkan masalah,” kata Kepala Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Pertanahan Kota Jayapura Herry Wijaya. Lantaran itulah, warga diajak berembuk untuk tujuan bersama menata lingkungan permukiman yang lebih baik. Semua organisasi perangkat daerah (OPD), lembaga swadaya masyarakat (LSM), pihak swasta—melalui tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility [CSR])—pun didaulat ikut berkolaborasi dan berkontribusi nyata dalam penataan kawasan sesuai bidang dan kapasitas. Mulai dari perencanaan, persiapan, pelaksanaan, sampai langkah selanjutnya dari upaya penanganan kumuh.

Kunci sukses Kota Jayapura dalam menangani kumuh ini adalah peran pemkot sebagai nakhoda. Sang Nakhoda membuktikan cita-cita mulia meningkatkan martabat warga marginal dan mengurangi kesenjangan antarwarga. Di antaranya dengan menjamin kepastian bermukim tentunya pelaku Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku). Semua memperjuangkan visi: “Satu Hati Membangun Kota untuk Kemuliaan Tuhan.” Dan yang pasti, penggusuran ‘tak berlaku’ [lagi] di Kota Jayapura, khususnya Kelurahan Bhayangkara. [Papua]

Penulis: Hadi Susanto, Senior Fasilitator Kota Jayapura Program Kotaku Provinsi Papua

Editor: Epn

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.