Beranda Pengaduan Lesson Learned PIM Di Tidore, Kolaborasi Menjadi Bukti

Di Tidore, Kolaborasi Menjadi Bukti

Lesson Learned PIM Maluku Utara Tidore Comments (0) View (94)

Satu upaya strategis Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) adalah mendorong akselerasi percepatan penanganan kumuh di perkotaan. Sampah, sebagai pemicu utama kekumuhan selalu menjadi topik terhangat yang dibicarakan publik. Tren konsep kolaborasi mengatasi kumuh menjadi solusi sekaligus sumbangsih nyata dalam penanganan perkara persampahan di negeri ini. Pun demikian dengan persoalan sampah di RT 004/RW 02, Kelurahan Rum Balibunga, Kecamatan Tidore Utara, Tidore Kepulauan, Provinsi Maluku Utara, yang sudah banyak menyita perhatian tokoh masyarakat setempat.

Satu tokoh yang sangat peduli lingkungan dan menggerakkan langkah kolaborasi adalah Yunus Sinen. Ketua RT 004/RW 02 tersebut acap berdiskusi dan urun rembuk dengan Tim Fasilitator pendamping Program Kotaku jika berkunjung ke lapangan. Personel Tim Fasilitator tersebut adalah Fahmi Sinen sebagai Senior Fasilitator, Hadija Taher Fasilitator Infrastruktur, Siti Febrianty Syiko Fasilitator Sosial, dan Nurlia Dumade sebagai Fasilitator Ekonomi. Yunus selalu mengarahkan topik diskusi terkait masalah sampah yang ada di lingkungan RT pimpinannya.

Satu, misalnya. Pada 4 Desember silam, tepatnya di sela pengukuran volume realisasi fisik pekerjaan pembangunan jalan berkonstruksi paving block di RT 004/RW 02. Yunus mengajukan usulan, yang juga sudah didata di sistem Pengelolaan Informasi dan Masalah (PIM) Program Kotaku dengan nomor register 007282721219. Intinya, dia berkeyakinan bahwa cara terbaik mewujudkan Kelurahan Rum Balibunga menjadi indah, bersih, dan bebas masalah sampah adalah berkolaborasi dengan pihak-pihak terkait yang masih peduli lingkungan.

Satu ide Yunus bak gayung bersambut. Hadija pun mengamini bahwa pendanaan dari Program Kotaku bukanlah satu-satunya sumber. Segala bentuk sumber daya yang ada di kelurahan perlu didorong dan diikutsertakan menggalang kolaborasi. "Kerja sama sinergi dengan semua pihak untuk mewujudkan lingkungan yang layak huni," kata dia.

Satu upaya menggalang kolaborasi sebenarnya pernah disuarakan Yunus dan Kahar Usman, Ketua RW 02 kepada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Tidore Cabang Maluku Utara beberapa bulan sebelumnya. Buah kolaborasi baru telaksana pada Desember 2019 berupa bantuan 48 buah tong sampah berbahan dasar fiberglas, 12 penerangan lampu jalan, dan tiga unit motor khusus yang dioperasikan sebagai kendaraan pengangkutan sampah lingkungan.

Satu sumbangsih besar kepedulian dari perusahan negara tadi seolah menjawab kebutuhan warga. Bantuan tanggung jawab sosial (corporate social responsibility, CSR) PLTU Tidore membawa arti perubahan penting bagi persoalan sampah di wilayah setempat.

Satu kegiatan lazim yang dulu acap dilakukan seperti membuang sampah ke laut atau kali, atau dibakar sudah tak ada lagi di wilayah ini. Warga mulai sadar untuk membuang sampah pada tempat yang telah tersedia. Kesadaran berperilaku hidup bersih mulai tampak, seiring potret permukiman yang berubah menjadi lingkungan yang indah, menarik, dan bebas sampah. Tidak ada lagi terdengar keluhan warga terkait masalah sampah di permukiman.

Satu pekan dua kali, pada Kamis dan Sabtu, sampah di Kelurahan Rum Balibunga diangkut petugas kebersihan lingkungan, yang juga didanai CSR PLTU Tidore. Seluruh sampah tersebut dibawa langsung ke tempat pembuangan akhir (TPU) sampah.

Satu hal yang diingat betul Yunus adalah pengelolaan sampah dengan baik dan benar. Karena dengan fakta itulah, mimpi indah menjadikan lingkungan yang indah dan menawan bisa menjadi kenyataan berkelanjutan. Semoga. [Malut]

Penulis: Sanajiguru Sangadji, Sub Prof CHU/OSP 8 Malut Program Kotaku Provinsi Maluku Utara

Editor: Epn

0 Komentar

Yang terkait