Beranda Warta Berita Eksistensi KPP di Mata Pelaku Program

Eksistensi KPP di Mata Pelaku Program

Berita Webinar Berbagi Pengalaman KPP Comments (0) View (429)

Luar biasa. Dua kata ini layak disematkan kepada para narasumber dari Kelompok Pemanfaat dan Pemelihara (KPP) di lokasi Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) yang berbagi pengalamannya dalam Webinar Berbagi Pengalaman KPP melalui video conference Zoom yang digelar pada Kamis, 25 Juni 2020. Webinar gratis ini juga disiarkan secara langsung (livestreaming) melalui channel YouTube. Sambutan peserta juga luar biasa. Dari kuota peserta yang dibatasi 300 orang, ternyata partisipan webinar menembus angka 413 orang.

Dalam webinar, tiga orang pengurus KPP dari berbagai provinsi angkat bicara, membagikan pengalaman, suka dan dukanya dalam membangun desa dan kelurahannya melalui Program Kotaku. Mereka adalah Deni Candra Irawan dari KPP Gotong Royong Desa Sobontoro, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur; Hadinda Dg. Bau dari KPP Bonto Biraeng Sarana Air Bersih, Kelurahan Katangka, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan; dan Siti Muarofah dari Badan Pengelola Kampung Tahu Babalan Lor, Kecamatan Bojong, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah.

Di antara peserta webinar, terdapat para team leader Program Kotaku mulai pusat hingga provinsi se-Indonesia. Hadir pula para koordinator kota (korkot) dan personel Program Kotaku se-Indonesia, anggota badan keswadayaan masyarakat (BKM), anggota kelompok swadaya masyakarat (KSM), pemerintah daerah dari berbagai kabupaten/kota, dan sebagainya.

Pengalaman yang dibagi oleh KPP melalui webinar ini juga menimbulkan kesan dan menjadi catatan tersendiri bagi peserta, seperti disampaikan di bawah ini.

Djoko Subekti, Team Leader Konsultan Manajemen Pusat (KMP) Kotaku Wil.2:

KPP Gotong Royong Desa Sobontoro, Tulungagung.

Keyword: inisiatif dan leadership kaum muda, sumber pendanaan baru untuk keberlanjutan pemeliharaan lingkungan dan infrastruktur desa.

Kelompok Pemanfaat & Pemelihara (KPP) yang juga dimotori oleh kaum muda melakukan upaya menjaga keberlanjutan penataan dan pemeliharaan lingkungan desa dari kekumuhan melalui identifikasi sumber-sumber pemasukan/pendapatan desa dan pembentukan “Rupa Desa” sebagai wadah bagi masyarakat untuk  berkreativitas dan berkegiatan secara ekonomi.

Meski pada awalnya kurang mendapatkan dukungan dan kerap kali diremehkan, namun berkat motivasi yang kuat dan sikap militansi, kelompok muda yang dipelopori oleh Deni Chandra Irawan (27 thn, salah satu pengurus KPP Bidang Lingkungan) membuktikan bahwa melalui kerja sama yang solid, KPP bersama dengan kelompok muda desa mampu menggerakkan sumber-sumber pendanaan di desa antara lain wisata air, home industry konveksi, dan pengembangan hidroponik untuk menjamin keberlanjutan pemeliharaan dan terjaganya lingkungan desa dari kekumuhan.

Aries Tiyanto, Sub Financing and Institution Collaboration (FIC) KMP Program Kotaku Wilayah 2:

Kegiatan pengembangan hidroponik, yakni budidaya sayur secara hidroponik menjadi media bagi masyarakat desa untuk mendapatkan penghasilan, sekaligus berkontribusi bagi pemeliharaan lingkungan dan infrastruktur desa. Meski tanpa latar belakang ilmu pertanian, dengan motivasi yang kuat dan kemampuan belajar secara otodidak, “Rupa Desa” dan KPP berhasil untuk menginisiasi dan melaksanakan kegiatan ini.

Modal awal pengembangan hidroponik diperoleh dari PAD. Pengelolaan usaha hidroponik dilakukan secara transparan dan memenuhi kaidah audit pelaporan keuangan, dimana hasilnya dibagi 50% untuk masyarakat dan 50% untuk KPP (pemeliharaan prasarana/infrastruktur dan lingkungan desa, pembelian bibit).

Yang disampaikan oleh beberapa KPP adalah action plan pascaterbangunnya sarana, yang berupa kegiatan di lingkungan sarana yang terbangun, diwujudkan dengan kegiatan pengembangan hidroponik, dan lain-lain, yang berbasis masyarakat dan dikelola oleh KPP. Tapi ada tugas pokok KPP yang perlu kita tambahkan sebagai lembaga bentukan program, yaitu:

  1. Memastikan warga pemanfaat memahami cara merawat sarana terbangun.
  2. Membangun kemandirian dalam operasional sarana terbangun.
  3. Membangun kerjasama dengan berbagai pihak.
  4. Mematuhi peraturan desa/pemerintah daerah terkait pengelolaan sarana terbangun
  5. Mengidentifikasi kunci keberhasilan pengelolaan sarana terbangun
  6. Menyusun langkah membangun perubahan perilaku warga
  7. Mengupayakan partisipasi warga
  8. Menetapkan aturan lokal

Ini usulan yang perlu saya sampaikan, mungkin bisa dijadikan bahan refleksi kita semua akan arti penting KPP ke depan sebagai lembaga pelaksana pascakonstruksi: Tidak hanya sebatas merawat sarana yang terbangun tapi juga mempunyai rencana bisnis (business plan) kegiatan yang akan dilakukan dalam rangka menggali potensi, yang bisa dikembangkan di lingkungan sarana terbangun, melalui kegiatan berbasis masyarakat. Sehingga, pendapatan secara mandiri sebagai dana operasional kegiatan dapat diperoleh melalui kegiatan usaha yang dilakukan.

Nurliah Ruma, Korkot Gowa, Program Kotaku Provinsi Sulawesi Selatan:

KPP adalah kelembagaan masyarakat grass root, baru bisa kuat jika pengembangannya dikawal atau dimulai dengan kemunculan motivator. Sehingga, dalam perjalanan pendampingan, sebelum meyakinkan masyarakat secara luas, perlu bertemu dulu tokoh kunci. Yang terpenting, pemerintah kabupaten dan kelurahan bergerak Bersama, memotivasi, melalui dukungan kapasitas dan pendanaan. Peran masyarakat dan anggota dikuatkan dengan aktivitas yang mereka senangi dan merupakan kegiatan bersama. Semua aktivitas dilakukan dengan transparansi dan akuntabel terutama pada pengelolaan pendanaan bersama.

Selebihnya, catatan dari TL dan Korkot OC/OSP Kotaku lainnya adalah sebagai berikut:

  1. Ada aktivitas usaha produktif yang support kegiatan KPP
  2. Ada support pendanaan dari kelurahan (ADD, PAD, dan lain-lain)
  3. Ada motivasi pengurus agar KPP tetap eksis.
  4. Dukungan dan peran aktif pemerintah desa (kepala desa)
  5. Ada orang yang keras kepala, ulet, pantang menyerah dan konsisten bekerja tanpa pamrih untuk lingkungannya
  6. Aturan Bersama disepakati untuk dijalankan oleh semua warga
  7. Kegiatan berdasar potensi dan kebutuhan warga setempat
  8. Ada pemanfaatan TTG secara bijak
  9. Ada visi keberlanjutan
  10. KPP melibatkan anak muda
  11. Kegiatan KPP mengubah wajah lingkungan menjadi lebih asri
  12. KPP dapat berkolaborasi dgn berbagai pihak (seperti PKK) di Kabupaten Pekalongan
  13. Ada orang-orang kreatif yang terlibat dan mempunyai banyak jaringan dengan berbagai pihak untuk kerja sama
  14. KPP berorientasi pada destinasi wisata baru (seperti di Kabupaten Pekalongan) Pekalongan
  15. Ada ide kreatif dan pertemuan rutin yang membangun
  16. Ada pelaporan dan pencatatan pembukuan administrasi yang transparan
  17. Diharapkan ada program replikasi yang didanai oleh APBD di masing-masing daerah.
  18. KPP tidak hanya memelihara infrastruktur, tapi juga secara spiritual dan sosial
  19. Ada dukungan dari OPD terkait bimbingan manajerial dan teknis
  20. Ada tokoh atau relawan penggerak
  21. Peran TP PKK pada kegiatan KPP di Pemkab Pekalongan dengan Kampung Tahu-nya bisa menjadi motivasi
  22. Ada identitas lingkungan/kampung
  23. Ada peluang dan potensi lokal untuk pengembangan livelihood
  24. KPP mampu mengidentifikasi potensi dan masalah di wilayah mereka, menentukan prioritas kegiatan dan berkolaborasi dalam pendanaan (tim korkot)
  25. KPP tidak hanya memelihara infrastruktur yang didanai oleh bantuan pemerintah bagi masyarakat (BPM) Kotaku saja, melainkan semua hasil pembangunan yang ada di desa/kelurahan, baik yang didanai pemerintah, swasta, maupun swadaya.

Untuk materi narasumber, silakan klik di sini.

Dokumentasi lainnya:

   
   

 

Dihimpun oleh Tim Komunikasi KMP Kotaku

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.