Beranda Warta Berita Yu Sing: Kumuh Bukan Hanya Persoalan Fisik, tapi Ekonomi

Yu Sing: Kumuh Bukan Hanya Persoalan Fisik, tapi Ekonomi

Berita Webinar Sulawesi Selatan Yu Sing Kampung Kota Kampung Vertikal Comments (0) View (103)

Program kekumuhan tidak selesai atau diselesaikan sementara ini, tetapi berulang. Itu karena program hampir tidak menyentuh ke persoalan ekonomi. “Kekumuhan bukan hanya persoalan fisik, tapi akarnya adalah persoalan ekonomi. Kalau masyarakat sejahtera, wilayah tidak akan kumuh, walau seberapa banyak orang yang tinggal di wilayah tersebut,” tegas Yu Sing, seorang praktisi dari Studio Arsitek Akanoma. Ini dikatakannya dalam Webinar Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) “Pandemi dan Masa Depan Kampung Kota” yang dilaksanakan oleh OSP-9 Kotaku Provinsi Sulawesi Selatan, pada Sabtu (25/7).

Dalam webinar yang dihadiri oleh 200-an peserta dari Nusantara dan luar negeri melalui Zoom Meeting dan Youtube Live Streaming itu, Yu Sing fokus mengangkat persoalan penataan kawasan permukiman kampung kota yang belum terselesaikan. Bahkan ditengarai, luasan kumuh saat ini makin meningkat dari tahun-tahun sebelumnya. Menurutnya, jika akan menyentuh ke persoalan fisik, kampung vertikal (vertical village) menjadi salah satu solusi untuk mengurai persoalan kekumuhan. Namun demikian, dalam setiap pengembangan kampung harus didasarkan pada siapa warganya, kondisi nyata/eksisting dan desain yang harus tetap respon terhadap geliat ekonomi warga yang selama ini mereka jalani.

“Proses pengembangan kampung kota akar masalahnya adalah ekonomi. Praktik kepemilikan lahan dan kekayaan nasional di Indonesia belum berpihak kepada masyarakat secara luas. Masih lebih mengutamakan kalangan-kalangan atas saja. Program-program pengentasan kekumuhan tidak bisa lepas dari program-program ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ungkap Yu Sing.

Webinar kali ini memang menghadirkan narasumber yang “kolaboratif” antara praktisi dengan akademisi, dikenal ahli di bidang masing-masing. Selain Yu Sing, hadir pula Ketua Program Studi Magister Perencanaan Wilayah Kota Universitas Hasanuddin Ihsan Latief dan Ketua Ikatan Ahli Perencanaan Sulawesi Selatan Arief Isnaeni sebagai narasumber, serta Sub Prof Arsitektur OSP-9 Sulawesi Selatan Andi Annisa Amalia sebagai moderator acara.

Di sesi berikutnya, Ihsan Latief mengulas “Pengaturan Ruang Vertikal Solusi Sehat Kampung Kota”. Menurutnya, kampung vertikal menjadi sebuah alternatif, karena ruang-ruang kampung kota sebagian besar tidak mungkin lagi ada pertambahan secara horizontal akibat kepadatan dan ketersediaan lahan yang tidak bisa dihindari. Berdasarkan literatur yang ada, Kampung Kota memiliki bangunan yang relatif padat, penduduknya bermatapencaharian di sektor informal, terbangun secara spontan tidak terencana (unplanned), sehingga sarana pelayanan perkotaan tidak memadai. Tentunya ini sangat berpengaruh terhadap dinamika sosial masyarakat, dan juga akan mewarnai perubahan terkait perkembangan kota. Dengan situasi demikian ini juga sangat rentan pandemi yang saat ini sudah mewabah, utamanya di Indonesia.

“Transmisi virus tidak lepas dari adanya agen atau manusia. Dengan situasi kampung kota yang kepadatannya sangat tinggi, maka kemungkinan penularan akan tinggi pula. Dengan situasi penghidupan penduduk kampung kota yang didominasi sebagai pekerja informal. Jika tidak bekerja, mereka tidak akan mendapatkan penghasilan. Agar tetap berpenghasilan, mereka keluar untuk mencari kerja, dan ini jadi peluang untuk terpapar virus. Ini juga memungkinkan kampung kota, tempat mereka bermukim, akan menjadi cluster baru penyebaran virus. Ini juga terkait persoalan ekonomi,” ungkap Ihsan.

Lebih lanjut ia mengatakan, ketika melakukan revitalisasi sebuah kawasan, hal itu tidak hanya merevitalisasi untuk kebutuhan kesehatan lingkungan, tetapi juga merevitalisasi untuk kebutuhan kesejahteraan warganya. Artinya jika itu diselesaikan maka warga juga akan mendapatkan tambahan pendapatan. Secara umum narasumber menyampaikan, solusi pengembangan kampung kota yang lebih baik, bersih dan sebagai salah satu cara untuk pencegahan penyebaran COVID-19 adalah pengembangan kampung kota dengan pendekatan ruang vertikal.

Sedangkan narasumber Arief Isnaeni memaparkan, pandemi dan masa depan kampung kota adalah dua permasalahan yang berbeda. Namun bisa tetap dilihat secara utuh dengan menyusun konsep agar keduanya dapat terselesaikan. Menurut dia, jika dilihat secara global, tidak semua kampung kota merupakan permukiman kumuh. Namun bisa menjadi embrio (kekumuhan), jika tidak dilakukan penataan sejak dini. Kondisi infrastruktur tidak memadai, sanitasi yang buruk, pola hidup sosial masyarakat belum teratur, ditambah lagi dominasi sosial ekonomi masyarakat bergerak pada sektor informal, ini semua sangat memungkinkan tercipta kampung kota yang kumuh.

“Pola penanganan kawasan kumuh saat ini belum sepenuhnya menyentuh ke persoalan sosial dan ekonomi masyarakat, akan tetapi lebih fokus pada penanganan infrastruktur. Padahal idealnya pola penanganannya harus dilakukan secara komprehensif,” ungkap Arief. [Sulsel]

Dokumentasi lainnya:

    

Penulis: Irawan Hasan, Sub Komunikasi OSP Program Kotaku Provinsi Sulawesi Selatan

Editor: Nina Razad 

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.